kingsheadwye.com

PLN Papua turunkan 50 unit rumah ikan bahan FABA di Pantai Holtekamp

PLN Papua turunkan 50 unit rumah ikan bahan FABA di Pantai Holtekamp

Minggu, 6 September 2026 16:10 WIB

Image Print

Kegiatan peresmian pembuatan rumah ikan dari FABA dilaksanakan di Pantai Holtekamp, Kota Jayapura, Papua. (ANTARA/HO- PLN Papua)

Jayapura (ANTARA) - PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat menurunkan sebanyak 50 unit rumah ikan berbahan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) atau sisa pembakaran batu bara di Pantai Holtekam, Kota Jayapura,Papua.

Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat Dhana Adhipratama di Jayapura, Sabtu, mengatakan langkah inovatif tersebut diterapkan melalui konsep Creating Shared Value (CSV).

"Di mana mengubah limbah operasional menjadi solusi untuk memperbaiki ekosistem laut, yang pada akhirnya akan menambah hasil tangkapan dan penghasilan nelayan lokal," katanya.

Menurut Dhana, dengan adanya pelaksanaan program tersebut semakin mempertegas komitmen PLN dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

"Melalui inisiatif ini kami terus berupaya menyelaraskan tugas penyediaan energi di Tanah Papua dengan pelestarian lingkungan, sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat luas," ujar dia.

Dia menjelaskan pembangunan rumah ikan ini merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas Enak Apa Bilang (EAB) Outdoor, serta beberapa instansi terkait lainnya.

"Sehingga modul rumah ikan yang dicetak secara swadaya menggunakan campuran FABA, pasir, semen, dan chipping ini diturunkan oleh empat penyelam ke dasar laut berpasir pada kedalaman 5 hingga 7 meter. Lokasi penempatan juga ditarik sejauh 25 meter dari jalur perlintasan kapal guna menjamin keamanan navigasi laut," katanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura Richard J Nahumury mengatakan inovasi rumah ikan FABA itu akan menciptakan habitat baru yang aman bagi perkembangbiakan spesies ikan pesisir, serta memberikan struktur perlindungan bagi benih ikan dari arus keras dan predator.

"Apalagi laut adalah tumpuan hidup dan budaya masyarakat Papua sehingga langkah pemulihan ekosistem ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan populasi ikan sekaligus memudahkan nelayan lokal mendapatkan hasil tangkapan tanpa harus melaut terlalu jauh ke tengah samudra," katanya.

Menurut Richard, untuk itu pihaknya berharap agar proyek tersebut tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik, melainkan harus memberi dampak ekonomi jangka panjang yang nyata.

"Dengan kawasan pesisir diintegrasikan dengan sektor ekonomi kreatif serta pariwisata. Selain menjaga keberlanjutan lingkungan, rumah ikan ini diproyeksikan berkembang menjadi ruang edukasi bahari dan destinasi wisata berbasis masyarakat,” ujar dia.

Pewarta : Qadri Pratiwi
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026