kingsheadwye.com

Ponpes Sunan Drajat Bawa Filosofi Sang Wali Menuju Kemandirian Ekonomi |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, LAMONGAN — Sunan Drajat, salah seorang Wali Songo, dikenal sebagai sosok yang berjiwa sosial tinggi, dermawan, dan memikirkan kemakmuran masyarakat di sekitarnya. Pada masanya, wali dengan nama asli Sayyid Raden Qosim itu berhasil memajukan kesejahteraan sosial di pesisir utara Lamongan, Jawa Timur.

Semangat itulah yang terus dipertahankan hingga kini oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat. Berada di lokasi yang sama dengan pesantren peninggalan Sunan Drajat, Ponpes yang kini dikenal mandiri secara ekonomi ini mulai berdiri pada 1977.

“Beliau (Sunan Drajat) selalu punya filosofi memberi, memberi, memberi, memberi. Kami punya motivasi mengembangkan bisnis ini sebesar-besarnya untuk kemandirian pendidikan,” ucap Direktur Perekonomian Ponpes Sunan Drajat, Gus Anas Al Hifni, kepada Republika di kantornya, Jumat (25/9/2026).

Gus Anas mengungkapkan, santri yang menimba ilmu di Ponpes Sunan Drajat harus memiliki empat indikator, mulai dari berkepribadian santri, bermental entrepreneur rahmatan lil alamin, berwawasan global, hingga berakhlakul karimah.

Indikator kedua, menurut dia, tidak banyak dimiliki pesantren lain. Di samping belajar untuk memperbanyak ilmu, para santri di Ponpes Sunan Drajat juga sedikit banyak belajar untuk menjadi pengusaha.

Karena itu, Yayasan Ponpes Sunan Drajat memiliki satu bidang tersendiri yang mengurus perekonomian guna mengembangkan potensi ekonomi yang ada. Gus Anas bergabung di dalamnya sejak 2018.

Dari sana, Gus Anas mulai ikut mengembangkan sisi perekonomian Ponpes Sunan Drajat. Awalnya, roda usaha masih bertumpu pada unit-unit sederhana seperti koperasi dan toserba. Kemudian, usaha pesantren terus dikembangkan.

Ia membawa gagasan sederhana bahwa pesantren jangan hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga memiliki sumber ekonomi yang bisa menopang pendidikan dan masyarakat sekitar. Gagasan itu sejalan dengan filosofi Sunan Drajat.

Unit usaha Ponpes bertambah sedikit demi sedikit. Dari perdagangan, usaha berkembang ke parfum, restoran, peternakan, konveksi, garam, hingga e-commerce pesantren. Kini, ekosistem ekonomi Sunan Drajat telah berkembang menjadi puluhan unit usaha.

Perkembangannya didukung berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) yang membantu pembangunan awal Gedung Perekonomian Ponpes Sunan Drajat, distribution center (DC), hingga penguatan kapasitas pengelolaan usaha.

“Jadi munculnya bisnis lain itu awal dari Kopontren dan Toserba itu. Dan awal dari inisiasi BI untuk bantu kita tadi itu. Berarti BI itu termasuk yang paling berjasa di kita,” kata Gus Anas.

Hasilnya pun secara nyata terasa bagi pendidikan. Saat ini, Perekonomian Ponpes Sunan Drajat bisa memberikan subsidi sekitar Rp 16 miliar per tahun untuk kebutuhan pesantren, mulai dari pembangunan prasarana, beasiswa, hingga kebutuhan pendidikan lainnya.

Dampak perekonomian yang mandiri ini tak hanya dirasakan di lingkungan Ponpes, tetapi juga masyarakat di luar pesantren. Contoh terdekat ada di seberang kompleks pesantren. Di sana, ada sekitar 250 UMKM yang ikut terhubung dengan aktivitas ekonomi Sunan Drajat.

Para pelaku UMKM ini berbelanja kebutuhan dagang dari Toserba Ponpes Sunan Drajat. Mereka juga mendapat voucer belanja sekitar Rp 300 ribu per toko per tahun sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat.

Bicara soal toserba, model bisnis yang dikembangkan juga dirancang untuk melibatkan masyarakat. Dalam membuka cabang, pesantren menggandeng masyarakat pemilik ruko atau lahan sebagai mitra.

Pihak pesantren menyiapkan sisanya, mulai dari modal kerja, sumber daya manusia (SDM), sistem operasional, hingga pengelolaan digital. Soal SDM, Gus Anas memastikan akan mengambil paling banyak dari daerah setempat.

“Kalau kita buka Toserba di daerah tertentu, itu bisa kita pastikan SDM yang paling banyak itu daerah itu. Karena kita ingin mengurangi jumlah pengangguran. Itu kebermanfaatan,” tutur Gus Anas.

Model kemitraan itu membuat Toserba Sunan Drajat semakin berkembang. Kini, jaringannya disebut telah mencapai sekitar 200 cabang yang tersebar hingga ke luar Jawa Timur.

Apa yang dilakukan Ponpes Sunan Drajat sejalan dengan perhatian BI terhadap pengembangan ekonomi pesantren. Bagi BI, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari rantai nilai halal sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal menyebutkan, pengembangan ekonomi pesantren setidaknya memiliki dua tujuan. Pertama, mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kedua, mengembangkan masyarakat di sekitar pesantren.

“Sebenarnya kalau pesantren, itu kan otoritasnya di Kementerian Agama. Tapi BI mengembangkan pesantren karena bagian dari rantai nilai halal. Khususnya produk-produk dan usaha-usaha syariah yang ada di pesantren,” ujar Rifki.

Menurut Rifki, pengembangan usaha pesantren juga sudah mulai menjangkau pasar internasional. Sejumlah produk dari pesantren binaan bahkan, ia sebut, telah menembus pasar ekspor.

“Beberapa pesantren itu sudah ada yang go export. Produknya ada yang sudah ekspor ke Jepang, ada ekspor ke Amerika, ke Eropa,” ujar dia.

Untuk memperkuat potensi yang ada, BI membina pesantren melalui Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren). Pembinaan dilakukan mulai dari peningkatan kualitas dan standar produk, pengemasan, hingga membuka akses pasar ekspor.

Menurut Rifki, pengembangan ekonomi pesantren oleh BI telah berlangsung selama sekitar delapan tahun. Dalam perkembangannya, upaya tersebut turut diperkuat melalui sinergi dengan Hebitren. Pengembangan unit usaha pesantren pun ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai nilai halal dan menggerakkan ekonomi yang lebih luas.