kingsheadwye.com

PR Raksasa The Fed: Pangkas Neraca Rp120.000 T Tanpa Mengguncang Dunia

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

27 July 2026 12:33

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) menghadapi pekerjaan besar untuk mengecilkan neracanya yang membengkak setelah bertahun-tahun membeli obligasi.

Neraca The Fed kini mencapai US$6,7 triliun atau hampir 21% dari produk domestik bruto (PDB) AS. Nilai tersebut setara dengan Rp 120.000 triliun (US$1= Rp 18.000). Dari jumlah tersebut, sekitar dua pertiga berupa surat utang pemerintah AS atau US Treasury.

The Economist menggambarkan situasi tersebut seperti sebuah kota yang membangun waduk raksasa setelah mengalami kekeringan panjang.

Seiring waktu, rumah, pabrik, dan lahan pertanian mulai bergantung pada pasokan air dari waduk tersebut. Ketika pemerintah kota ingin mengurangi airnya, masalah pun muncul karena seluruh kegiatan ekonomi sudah terlanjur dibangun di sekeliling waduk.

Situasi serupa kini dihadapi Ketua The Fed Kevin Warsh. Ia ingin mengecilkan neraca bank sentral, tetapi sistem keuangan AS sudah terbiasa dengan likuiditas dalam jumlah besar.

Warsh sejak lama mengkritik besarnya peran The Fed dalam perekonomian AS. Tahun lalu, ia menyebut pembengkakan neraca sebagai gambaran semakin luasnya campur tangan bank sentral dalam ekonomi.

Untuk mencari jalan keluar, Warsh membentuk tim yang beranggotakan Karen Dynan dari Harvard University, mantan Gubernur Bank Sentral India Raghuram Rajan, dan mantan Gubernur The Fed Jeremy Stein.

Pertanyaannya, apakah neraca The Fed bisa dipangkas tanpa mengganggu pasar keuangan?

Neraca The Fed Membengkak karena Pembelian Obligasi

Pembengkakan neraca The Fed berawal dari krisis keuangan global 2007-2009.

Saat itu, bank sentral mulai membeli surat berharga berbasis kredit perumahan atau mortgage-backed securities untuk menstabilkan pasar properti. The Fed kemudian membeli obligasi pemerintah berjangka panjang untuk mendorong perekonomian.

Kebijakan tersebut dikenal sebagai quantitative easing (QE).

The Fed menjalankan tiga kali QE di sepanjang 2009-2014. Samapi pembelian obligasi kembali yang dilakukan dalam skala besar ketika pandemi Covid-19 terjadi pada 2020.

Melalui QE, The Fed menciptakan uang elektronik yang disebut cadangan atau reserves. Uang tersebut digunakan untuk membeli obligasi dari pasar.

Masalahnya, obligasi yang dibeli saat pandemi menawarkan imbal hasil sangat rendah. Sementara itu, setelah suku bunga naik, The Fed harus membayar bunga yang lebih tinggi atas cadangan milik bank-bank komersial.

Pendapatan bunga dari obligasi tetap rendah karena tingkat imbal hasilnya sudah terkunci sejak pertama kali dibeli. Namun, biaya bunga yang harus dibayar The Fed kepada perbankan terus mengikuti perubahan suku bunga.

Kondisi tersebut membuat kepemilikan obligasi jangka panjang menjadi mahal bagi The Fed.

The Fed Dianggap Seperti Dompet Pemerintah

Kekhawatiran utama Warsh bukan hanya soal besarnya biaya yang harus ditanggung, tetapi juga menyangkut independensi The Fed.

The Fed memang membeli surat utang pemerintah AS di pasar sekunder, bukan langsung dari Departemen Keuangan AS. Namun, jumlah yang dimiliki bank sentral sudah sangat besar.

Berdasarkan data dari The Fed, kepemilikan langsung surat utang pemerintah AS mencapai US$4,52 triliun per 22 Juli 2026. Nilainya setara sekitar dua pertiga dari total aset The Fed.

Jumlah tersebut melonjak jauh dibandingkan sebelum krisis keuangan global. Pada akhir 2007, kepemilikan surat utang pemerintah AS oleh The Fed masih sekitar US$754,6 miliar.

Kepemilikan obligasi pemerintah hingga triliunan dolar dapat menimbulkan kesan bahwa The Fed menjadi salah satu sumber pendanaan utama bagi pemerintah AS.

Darrell Duffie dari Stanford University menilai kritik tersebut saat ini lebih banyak berkaitan dengan persepsi dibandingkan ancaman nyata.

Namun, apabila dibiarkan terlalu lama, persepsi bahwa The Fed menjadi "dompet" pemerintah dikhawatirkan suatu saat bisa berubah menjadi kenyataan.

Karena itu, Warsh ingin neraca The Fed diperkecil. Masalahnya, aset bank sentral tidak bisa begitu saja dikurangi tanpa menurunkan kewajiban di sisi lain neraca.

Saat ini, sekitar US$2,5 triliun kewajiban The Fed berupa uang kartal yang beredar di masyarakat. Jumlah tersebut sulit dikurangi karena bergantung pada kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai.

Rekening simpanan Departemen Keuangan AS di The Fed mencapai sekitar US$800 miliar. Bagian ini masih bisa naik atau turun, tetapi ruang untuk menguranginya terbatas.

Kewajiban besar lainnya adalah cadangan perbankan. Nilainya telah melonjak dari sekitar US$10 miliar sebelum krisis keuangan global menjadi sekitar US$3,1 triliun saat ini.

Agar neraca The Fed bisa menyusut lebih jauh, sebagian cadangan tersebut harus ditarik dari sistem perbankan. Namun, langkah ini tidak mudah karena bank-bank AS sudah terbiasa menjalankan kegiatan usahanya dengan cadangan yang berlimpah.

Bank Sudah Terbiasa dengan Uang Berlimpah

Sebelum krisis keuangan global, cadangan perbankan di The Fed tidak mendapatkan bunga.

Bank yang memiliki dana lebih biasanya meminjamkannya kepada bank lain melalui pasar antarbank untuk memperoleh bunga jangka pendek. Pasar tersebut dikenal sebagai federal funds market.

Ketika QE membanjiri sistem dengan cadangan, The Fed mulai membayar bunga atas dana yang disimpan bank. Kebijakan tersebut membuat bank tidak lagi terlalu terdorong untuk meminjamkan cadangannya kepada bank lain.

Aturan likuiditas yang lebih ketat juga membuat bank harus memiliki aset likuid dalam jumlah besar agar mampu memenuhi kebutuhan dana sendiri ketika terjadi tekanan.

Akibatnya, cadangan dalam jumlah besar kini sudah menjadi bagian penting dari kegiatan perbankan sehari-hari.

Bank juga telah menyesuaikan model bisnisnya dengan kondisi tersebut.

Ketika The Fed membeli obligasi dari investor nonbank, hasil penjualannya sering masuk ke rekening investor di bank sebagai simpanan yang tidak diasuransikan.

Dana tersebut kemudian digunakan bank untuk menambah portofolio investasi dan menyalurkan lebih banyak kredit.

Rajan menyebut kondisi ini sebagai efek "ratcheting". Setiap putaran QE membuat sistem perbankan semakin bergantung pada tingkat cadangan yang lebih tinggi.

Pelajaran Berharga di 2019

Menentukan batas terendah cadangan perbankan bukan perkara mudah. The Fed harus mengurangi likuiditas tanpa membuat sistem keuangan kekurangan uang.

Risikonya sudah terlihat ketika The Fed mencoba mengecilkan neracanya pada 2017-2019.

Saat itu, bank sentral mengurangi cadangan secara perlahan dan berharap masih tersedia dana yang cukup bagi sistem keuangan.

Namun, pada September 2019, cadangan perbankan ternyata turun terlalu rendah. Suku bunga pinjaman jangka sangat pendek melonjak karena banyak lembaga keuangan berebut dana.

Tekanan serupa kembali muncul tahun lalu ketika jumlah cadangan mendekati batas terendah.

The Fed akhirnya kembali membeli surat utang pemerintah berjangka pendek atau Treasury bills sekitar US$40 miliar per bulan sejak pertengahan Desember hingga pertengahan April.

Pembelian tersebut kembali memperbesar neraca The Fed untuk menambah cadangan di sistem perbankan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa memangkas neraca terlalu jauh dapat mengganggu pasar uang dan memicu lonjakan suku bunga jangka pendek.

Ada Sejumlah Pilihan

Sejumlah mantan pejabat The Fed menawarkan beberapa cara untuk mengurangi ketergantungan bank terhadap cadangan besar.

Stephen Miran mengusulkan agar bunga yang dibayar The Fed atas cadangan perbankan diturunkan hingga berada di bawah bunga yang bisa diperoleh bank di pasar federal funds.

Langkah tersebut diharapkan mendorong bank meminjamkan dana kepada bank lain, bukan sekadar menyimpannya di The Fed.

Duffie menawarkan pilihan berbeda. Ia menyarankan The Fed memperbarui sistem teknologi pembayaran agar transaksi masuk dan keluar dapat dihitung terlebih dahulu sebelum benar-benar diselesaikan.

Sistem seperti ini sudah digunakan Bank of England dan Bank Sentral Eropa. Dengan sistem pembayaran yang lebih efisien, bank bisa beroperasi dengan cadangan yang lebih kecil.

Rajan bahkan pernah mengusulkan pendekatan yang lebih keras. The Fed dapat membiarkan lembaga pertama yang mengalami masalah likuiditas jatuh sebagai pelajaran agar bank tidak mengambil risiko berlebihan.

Namun, pilihan ini tentu memiliki risiko besar bagi stabilitas sistem keuangan.

Semua pihak sepakat bahwa proses mengecilkan neraca The Fed tidak bisa dilakukan dengan cepat.

Warsh sendiri mengakui neraca yang membesar selama 18 tahun tidak mungkin dipangkas hanya dalam waktu 18 pekan.

Pada akhirnya, ia mungkin memilih mengubah isi neraca daripada mengurangi ukurannya secara drastis.

Salah satu caranya adalah membiarkan obligasi jangka panjang jatuh tempo, kemudian menggantinya dengan Treasury bills yang memiliki jangka waktu lebih pendek.

Langkah tersebut tidak akan langsung mengecilkan neraca The Fed. Namun, perubahan itu dapat mengurangi pengaruh bank sentral terhadap suku bunga pinjaman jangka panjang.

The Fed pun bisa mengurangi campur tangannya di pasar obligasi tanpa harus menarik likuiditas besar-besaran dari perbankan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add

as a preferred
source on Google