kingsheadwye.com

Prabowo Klaim Selamatkan Garuda Indonesia, Ditarget Untung 2027

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung penyelamatan maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA). Menurutnya, dari kondisi nyaris pailit, kini Garuda mulai sehat dan ditargetkan mencatatkan laba pada 2027.

"Garuda Indonesia yang hampir dipailitkan, yang pesawatnya adalah puluhan pesawat di-grounded tidak bisa mereka perbaiki, kini kita berhasil reaktivasi pesawat-pesawat yang grounded," ujarnya dalam pidato Sidang Tahunan MPR - Sidang Bersama DPR-DPD RI, hari ini, Jumat (14/8/2026).

Prabowo mengungkapkan, per bulan Juni 2026, total pesawat yang berhasil direaktivasi bertambah 20 pesawat sehingga menjadi 140 pesawat. "Garuda Indonesia yang sudah sekian tahun rugi sekarang sudah ada harapan untuk kembali untung," imbuhnya.

Menurutnya, jika tidak terjadi konflik antar negara di Timur Tengah sudah memperoleh keuntungan. Harapannya, maskapai BUMN tersebut dapat mencatat keuntungan di tahun 2027 mendatang.

Ia mengingatkan, dalam laporan keuangan kinerja BUMN tak boleh ada permainan angka maupun laporan palsu. "Kita harus dapat angka-angka yang bener, angka yang tepat, walaupun kadang-kadang pahit," sehutnya.

Sebagai informasi, PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga kuartal I tahun 2026 sebesar US$ 46,4 juta. Kerugian tersebut menyusut dari Maret 2025 yang sebesar US$ 76,4 juta.

Mengutip laporan keuangannya yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), total pendapatan usaha GIAA hingga Maret 2026 sebesar US$ 762,3 juta atau naik 5,3% dari Maret 2025 yang sebesar US$ 723,5 juta.

Pendapatan usaha tersebut terdiri dari penerbangan berjadwal yang naik dari US$ 603,6 juta menjadi US$ 648,1 juta dan penerbangan tidak berjadwal turun jadi US$ 24,9 juta dari US$ 37,9 juta. Sementara lain-lain naik dari US$ 81,9 juta jadi US$ 89,2 juta.

Selanjutnya, total beban usaha GIAA hingga Maret 2026 turun tipis dari US$ 718,3 juta menjadi US$ 713,2 juta. Beban usaha tersebut terdiri dari beban operasional penerbangan yang turun tipis jadi US$ 350,2 juta, beban pemeliharaan dan perbaikan yang naik tipis jadi US$ 159,1 juta, beban kebandaraan naik tipis jadi US$ 57,8 juta, beban pelayanan penumpang yang naik tipis jadi US$ 49,9 juta.

Selain itu, ada juga beban umum dan administrasi yang turun jadi US$ 42,01 juta menjadi. Lalu ada beban tiket, penjualan dan promosi yang naik tipis jadi US$ 45,6 juta, beban operasional hotel naik tipis jadi US$ 4,85 juta, beban operasional transportasi yang naik tipis jadi US$ 2,62 juta, dan beban operasional jaringan yang turun tipis jadi US$ 0,96 juta.

GIAA juga dibebani oleh beban usaha lainnya yang naik tipis per Maret 2026 dari US$ 93,9 juta jadi US$ 96,8 juta. Hal itu disebabkan oleh kerugian selisih kurs bersih sebesar US$ 1,3 juta. Namun, pendapatan keuangannya naik dari US$ 3,3 juta jadi US$ 9,1 juta.

Selanjutnya, bagian atas laba entitas asosiasi turun jadi US$ 0,61 juta, beban keuangan yang turun jadi US$ 104 juta, dan beban lain-lain bersih sebesar US$ 1,2 juta.

Selanjutnya, dikurangi rugi sebelum pajak penghasilan dan manfaat pajak penghasilan, maka rugi periode berjalan GIAA pada kuartal I tahun ini menyusut dari US$ 75,9 juta jadi US$ 41,6 juta.

Total liabilitas dan ekuitas GIAA hingga Maret 2026 naik jadi US$ 7,5 miliar dari Desember 2025 yang sebesar US$ 7,4 miliar.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]