kingsheadwye.com

Prabowo Sebut Cak Imin, Dasco, Bahlil 'Trio Kancil', Pengamat Beberkan Makna Ganda

Bagikan:

JAKARTA – Pakar komunikasi politik, Jamiluddin Ritonga menilai, sebutan “trio kancil” yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto kepada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, dan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dinilai memiliki beragam makna.

Terlebih, Prabowo sempat berseloroh bahwa jika ketiganya berkumpul, situasinya bisa menjadi repot dan berbahaya. Menurutnya, penggunaan istilah tersebut tidak bisa dilepaskan dari karakter kancil dalam cerita rakyat yang identik dengan kecerdikan dan banyak akal.

“Penggunaan kata repot dan berbahaya bisa jadi karena kancil dalam cerita rakyat sering dikiaskan cerdik dan cenderung licik,” ungkap Jamil, Minggu, 26 Juli.

Dia menjelaskan, kancil kerap digambarkan sebagai sosok yang mampu menemukan berbagai strategi untuk keluar dari persoalan.

Namun di sisi lain, kecerdikan tersebut juga sering dimaknai sebagai kelicikan ketika digunakan untuk menipu atau memperoleh keuntungan pribadi.

Karena itu, meski pernyataan Prabowo disampaikan dalam suasana bercanda, Jamil menganggap wajar bila publik menafsirkannya secara serius.

“Jadi, meskipun Prabowo menyatakan bila tiga kancil berkumpul bisa menjadi repot dan berbahaya dalam candaan, namun ungkapan itu bisa saja dipersepsi publik dengan serius,” sambungnya.

Dia menyatakan, tidak menutup kemungkinan sebagian masyarakat memandang ketiga tokoh tersebut sebagai sosok yang “berbahaya”.

Persepsi itu dapat muncul karena karakter kancil selama ini kerap diasosiasikan dengan kecerdikan sekaligus kelicikan.

Meski demikian, Jamil mengungkapkan jika dalam konteks politik modern, julukan “kancil” juga dapat dimaknai secara positif, yakni sebagai sosok yang lincah, loyal, serta piawai menyusun strategi di balik layar.

“Prabowo bisa jadi menyematkan kancil kepada tiga tokoh tersebut semata dalam konteks politik modern. Setidaknya hal itu dilihat dari perspektif panggung depan,” tuturnya.

Namun, jika dilihat dari perspektif “panggung belakang”, publik bisa memiliki penafsiran berbeda.

Dalam politik, kecerdikan kerap digunakan untuk memperoleh keuntungan politik. Sebab, dalam politik tidak ada yang gratis, semua bergantung pada kepentingan masing-masing pihak.

Jamil menegaskan, di situlah letak makna ganda dari candaan Prabowo mengenai “trio kancil” yang berkumpul bisa menjadi “repot” dan “berbahaya”.

“Tampaknya di sinilah peluang merepotkan dan membahayakan bila kancil berkumpul sebagaimana candaan Prabowo namun bermakna ganda,” tukasnya.

BACA JUGA:


Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melontarkan istilah tersebut saat memberikan sambutan pada peringatan Harlah ke-28 PKB, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, ia berseloroh bahwa jika Muhaimin Iskandar, Sufmi Dasco Ahmad, dan Bahlil Lahadalia berkumpul, situasinya bisa menjadi “repot” dan “berbahaya”.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+