Prancis Bersiap Hadapi Gelombang Demonstrasi Baru, Macron Perketat Pengamanan
Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:25 WIB
Paris, VIVA – Prancis bersiap menghadapi gelombang demonstrasi baru pada akhir pekan ini, Jumat (23 Oktober). Persiapan ini dilakukan setelah aksi unjuk rasa sepekan lalu berujung pada kerusuhan besar di sejumlah kota, salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Emmanuel Macron kini berupaya meredakan ketegangan dan memulihkan ketertiban.
Baca Juga
Pada Kamis, Macron mengumumkan bahwa demonstrasi pada akhir pekan ini hanya boleh digelar jika diselenggarakan oleh serikat pekerja. Ia juga dijadwalkan menggelar rapat Dewan Pertahanan bersama para menteri dan pejabat tinggi, serta bertemu dengan aparat keamanan untuk membahas situasi tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Untuk pertama kalinya, Macron juga dijadwalkan bertemu dengan perwakilan siswa sekolah menengah atas. Sebelumnya, para siswa menggelar protes karena tidak puas dengan kondisi sekolah mereka. Aksi tersebut kemudian meluas ke berbagai wilayah Prancis dan berkembang menjadi protes terhadap pemerintah, terutama karena biaya hidup yang terus meningkat.
Baca Juga
Gelombang demonstrasi ini terjadi pada masa penting bagi Prancis, yakni enam bulan sebelum pemilihan presiden untuk menentukan pengganti Macron. Berdasarkan survei terbaru menunjukkan bahwa Marine Le Pen, kandidat dari kelompok sayap kanan jauh, semakin unggul. Hasil survei itu juga memperlihatkan bahwa posisinya menguat setelah kerusuhan yang terjadi belakangan ini.
Ketegangan semakin meningkat karena Le Pen dijadwalkan menggelar kongres partainya, National Rally (RN), di Orleans pada akhir pekan ini. Ribuan pendukung diperkirakan akan menghadiri acara tersebut. Namun, pemerintah setempat khawatir akan terjadi bentrokan karena para penentang Le Pen juga berencana datang ke kota itu.
Baca Juga
Melansir laman CNA News, Jumat (23/10), kantor Macron menyatakan bahwa presiden akan mengumumkan sejumlah keputusan tambahan setelah rapat Dewan Pertahanan. Keputusan tersebut akan melengkapi kebijakan sebelumnya, termasuk pemberlakuan jam malam di sejumlah wilayah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam pertemuan dengan Macron, para siswa akan menyampaikan tuntutan mereka terkait kondisi sekolah dan sistem penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi.
"Tuntutan kami masih sama, yaitu perbaikan fasilitas sekolah dan perubahan sistem Parcoursup yang digunakan untuk penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi," kata ketua organisasi Renouveau Lyceen (Pembaharuan Siswa Sekolah Menengah), Nathanael Combary kepada AFP.
Halaman Selanjutnya
Namun, Pierre Sourzat, pemimpin organisasi Les Lyceens (Para Siswa Sekolah Menengah), meragukan pertemuan tersebut akan membawa perubahan.