Ramainya IIBF dan Bangkitnya Minat Baca Generasi Muda |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman Nugraha mengatakan perkembangan industri perbukuan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Salah satunya terlihat dari meningkatnya kunjungan masyarakat ke pameran buku dan toko buku.
Arys menyampaikan hal tersebut dalam penyelenggaraan Indonesia International Book Fair (IIBF) ke-46. Menurut dia, peningkatan kunjungan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan adanya perubahan positif terhadap pasar buku, terutama dengan semakin besarnya minat generasi Z dan generasi Alpha terhadap bacaan.
"Sejak tahun lalu, atau bahkan sejak dua tahun lalu, kita melihat adanya sebuah progres atau kemajuan dalam dunia perbukuan dari aspek serapan di pasarnya. Karena kelihatannya generasi Z, generasi Alpha, itu adalah generasi pembaca," ujar Arys saat ditemui di IBFF, Sabtu (3/10/2026).
Ia mengatakan jumlah kunjungan ke pameran buku maupun toko buku dengan konsep baru meningkat signifikan. Bahkan, menurut dia, jumlah pengunjung dalam periode tertentu dapat mencapai lima kali lipat dibandingkan sebelumnya.
"Jumlah kunjungannya itu sampai lima kali lipat dari sebelumnya. Dari 2024 ke 2025 mengalami penonjakan pengunjung yang luar biasa," katanya.
Melihat tren tersebut, IKAPI sebagai penyelenggara IIBF tahun ini memperluas area pameran. Namun, perluasan tersebut tetap diikuti tingginya antusiasme peserta dan pengunjung. "Tahun ini kami, IKAPI selaku penyelenggara dari Indonesia International Book Fair, mencoba untuk memperluas area pameran. Dan ternyata juga tetap saja penuh, alhamdulillah," ujar Arys.
Menurut Arys, peningkatan minat masyarakat terhadap pameran buku bukan hanya memberikan dampak bagi industri perbukuan, tetapi juga menjadi modal untuk memperkuat budaya literasi masyarakat. Ia mengatakan tingkat melek huruf masyarakat Indonesia sudah tinggi. Namun, tantangan yang masih dihadapi adalah pemerataan akses terhadap bahan bacaan.
"Minat baca sudah ada, melek huruf itu sudah tinggi di kita, tetapi selama ini barangkali akses terhadap bahan bacaan masih belum merata, masih terbatas di sejumlah hal," katanya.
Arys menilai pameran buku menjadi salah satu sarana penting untuk memperluas akses tersebut. Menurut dia, dampak pameran tidak hanya dapat diukur dari transaksi buku selama kegiatan berlangsung. Ia menjelaskan pengunjung yang belum membeli buku saat pameran tetap berpotensi menjadi pembaca atau pembeli pada kemudian hari. Mereka juga dapat mencari buku yang ditemui di pameran melalui perpustakaan.
"Ini adalah sebuah atmosfer, pembentukan atmosfer baca yang efektif dengan cara pameran," ujarnya.
Dalam IIBF tahun ini, IKAPI juga menghadirkan Children's Book Festival dan area bermain atau playground. Arys mengatakan segmen tersebut menjadi salah satu inovasi karena buku anak sebelumnya lebih banyak ditempatkan bersama kategori buku lainnya.
Menurut dia, penguatan buku anak penting karena masa kanak-kanak merupakan periode strategis untuk membangun kebiasaan membaca atau reading habit.
"Era emasnya anak-anak, era emas untuk membangkitkan budaya baca. Tadi minat baca sudah ada, tapi setelah itu yang diperlukan adalah budaya baca," katanya.
Arys mengatakan buku anak tidak hanya perlu berkualitas dari sisi isi, tetapi juga harus menarik sehingga mampu mendorong anak untuk terus membaca. Ia mencontohkan pentingnya memberikan tantangan membaca secara bertahap. Setelah anak menyelesaikan bacaan pada tingkat tertentu, mereka dapat diperkenalkan dengan bacaan pada tingkat berikutnya.
"Dari situ kita bisa kemudian melihat hasilnya adalah generasi berikutnya yang memang tumbuh sebagai pemilik reading habit yang baik," ujarnya.
Konsep tersebut sejalan dengan tema IIBF tahun ini, yakni Read Today, Read Tomorrow. Menurut Arys, tema tersebut menggambarkan upaya membangun kebiasaan membaca sejak dini untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
"Ini generasi muda kita, kita usahakan agar mereka membaca, agar mereka menjadi pemimpin yang baik nanti di masa depan. Read today, read tomorrow," katanya.
Di sisi industri, Arys mengatakan jumlah penerbit terus bertambah, meski sebagian penerbit tidak mampu bertahan karena menghadapi tantangan adaptasi dan perubahan pasar. Di sisi lain, penerbit yang mampu memanfaatkan teknologi, media sosial, platform digital, dan mengembangkan konten baru masih mengalami pertumbuhan.
"Yang tumbuh pun tidak kurang. Artinya mereka yang berhasil dalam definisi industri, secara bisnis mereka tumbuh, mereka berhasil menggunakan pendekatan baru, pendekatan teknologi, pendekatan media sosial, pendekatan digital, atau juga pada pendekatan konten," ujarnya.
Arys juga menyoroti meningkatnya pasar buku berbahasa Inggris dan buku anak. Menurut dia, fenomena tersebut menunjukkan pembaca Indonesia, khususnya pembaca muda, semakin terhubung dengan perkembangan buku secara global. Buku-buku berbahasa Inggris yang baru diterbitkan di Amerika Serikat maupun Inggris, kata dia, dapat langsung mendapatkan perhatian pembaca Indonesia ketika hadir dalam pameran.
"Pembaca muda terutama itu memang terhubung secara global dengan pembaca muda lainnya di negara lain," katanya.
Menurut Arys, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan ekosistem perbukuan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh penerbit. Ekosistem tersebut melibatkan penulis, editor, penerjemah, penyadur, toko buku, penerbit, pengembang buku elektronik hingga percetakan.
Ia mengatakan kolaborasi seluruh pelaku industri perbukuan diperlukan untuk menciptakan kegiatan yang mampu memperluas akses sekaligus membangun budaya membaca masyarakat. "Kalau kita mau kolaborasi ternyata kita bisa membuat sebuah kegiatan," ujar Arys.