kingsheadwye.com

RAPBN 2027: Navigasi pertumbuhan, disiplin fiskal, dan kesejahteraan

setiap rupiah yang dikumpulkan oleh negara harus kembali menjadi harapan yang nyata bagi rakyat

Jakarta (ANTARA) - Jika Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) diibaratkan sebagai sebuah peta navigasi yang dibutuhkan pemerintah sebagai nakhoda, ia seyogianya tak boleh hanya memuat rute tercepat untuk melaju di tengah badai global yang belum surut.

Peta tersebut harus mempertimbangkan tiga keseimbangan secara bersamaan; kecepatan kapal (laju pertumbuhan ekonomi), ketahanan lambung kapal (kehati-hatian fiskal), sekaligus keterjaminan hidup penumpang yang berada di dek bawah kapal (kesejahteraan sosial tercapai).

Sebab itu, menakhodai kapal ini membutuhkan seni tersendiri. Menyeimbangkan seluruh aspek bukan sekadar perkara hitung-hitungan angka di atas kertas, tetapi menjadi ujian terhadap kecermatan dalam menentukan arah haluan sehingga kapal beserta isinya bisa selamat sampai tujuan.

Pemerintah telah menyampaikan RAPBN Tahun 2027 beserta Nota Keuangan, Jumat (14/8), menandai gambaran navigasi yang akan menuntun Indonesia selama satu tahun ke depan.

Bagi pemerintah, sebagaimana telah ditegaskan Presiden Prabowo Subianto, mendorong pertumbuhan ekonomi seraya menjaga kehati-hatian fiskal dapat dijalankan secara bersamaan. Begitu pula dalam hal membantu rakyat sekaligus menjaga APBN.

Ini tentu bukan pekerjaan yang mudah. Di sinilah letak momentum penentuan; mampukah akselerasi pertumbuhan dan disiplin fiskal berjalan selaras demi menjaga kesejahteraan rakyat, ataukah sebaliknya menjadi pendekatan yang sulit dicapai bersamaan.

Sekilas catatan

Sebagai fondasi, pemerintah menetapkan asumsi dasar ekonomi makro pada RAPBN 2027 dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 6 persen secara tahunan (year on year/yoy), inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), serta imbal hasil (yield) SBN 10 tahun 6,9 persen.

Adapun realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen (yoy). Pertumbuhan ini diyakini pemerintah dapat berlanjut hingga akhir tahun 2026 dengan peluang sebesar 6 persen.

Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia A Akbar Susamto menilai target pertumbuhan tersebut relatif optimistis, apalagi secara historis pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir hampir tidak pernah mencapai di atas 5,5 persen.

Kondisi ekonomi global maupun domestik saat ini yang belum menunjukkan pendorong kuat dinilai menjadi tantangan tersendiri untuk mendukung keyakinan bahwa pertumbuhan dapat mencapai 6 persen pada 2027.

Pada asumsi nilai tukar, penetapan asumsi tersebut dipandang lebih akomodatif dibandingkan tahun sebelumnya. Dibandingkan APBN 2026 yang sebesar Rp16.500 per dolar AS, asumsi pada RAPBN 2027 menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengantisipasi nilai tukar rupiah pada level yang lebih rendah, meski tetap berisiko meleset apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Pemerintah juga menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia pada RAPBN 2027 sebesar 75 dolar AS per barel, dengan lifting minyak 610 ribu barel per hari dan lifting gas 954 ribu barel setara minyak per hari.

Asumsi harga minyak mentah Indonesia dinilai cukup optimistis. Kenaikan harga minyak memang dapat meningkatkan pendapatan negara, tetapi jika realisasinya melampaui asumsi, ada kekhawatiran beban subsidi energi membengkak sehingga dinamika ini perlu diwaspadai karena berdampak langsung pada kondisi fiskal.

Dari sisi pendapatan, RAPBN 2027 menargetkan pendapatan negara sebesar Rp3.426,0 triliun atau sekitar 12,25 persen terhadap PDB.

Angka tersebut relatif sama dengan APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun atau 12,26 persen terhadap PDB, serta sedikit lebih rendah dibandingkan Outlook 2026 yang mencapai Rp3.208,1 triliun atau sekitar 12,45 persen terhadap PDB.

Meskipun nominal pendapatan meningkat, Akbar menyoroti rasio pendapatan terhadap PDB yang relatif tidak berubah menunjukkan upaya optimalisasi pendapatan belum terlihat secara signifikan.

Dengan rasio yang hampir sama dengan 2026, target pendapatan 2027 dinilai cukup realistis dan tidak terlalu mengejutkan, tetapi juga belum menunjukkan langkah yang sangat ambisius dalam memperkuat penerimaan negara. Terlebih, pencapaian target 2026 masih menghadapi risiko akibat berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik global.

Sisi belanja

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.