kingsheadwye.com

Rekam Warga Diam-Diam Pakai Kacamata Meta, TikToker Dipolisikan

Jakarta -

Seorang TikToker yang menggunakan kacamata pintar Meta untuk merekam diam-diam warga saat melakukan perjalanan keliling Skotlandia, diselidiki kepolisian.

Rekaman video yang diunggah Scott Margerison asal Inggris, menampilkan dirinya melontarkan kata kasar ke orang asing sampai komentar berbau seks tentang perempuan muda. Kepolisian Skotlandia tengah meninjau rekaman tersebut.

Margerison yang juga aktif di Instagram dan YouTube, membangun sebagian besar audiens di TikTok dengan menggunakan nama samaran E Dobbin. Dalam videonya, ia sering mendatangi orang asing dan memulai percakapan aneh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akhir Juni, ia mengelilingi Skotlandia menggunakan mobil. Meski banyak videonya berisi gurauan biasa, beberapa video memiliki sisi gelap. Dalam salah satu videonya, pria berusia 42 tahun itu melontarkan komentar seksual mengenai penampilan dua remaja yang ia lihat saat mengendarai kendaraan memasuki kapal feri.

Ia kemudian mengenakan kacamata Meta miliknya, yang dilengkapi dengan kamera kecil, keluar dari mobil van, dan mengajak kedua gadis remaja itu beserta orang tua mereka berbicara, tampaknya tanpa sepengetahuan mereka bahwa mereka sedang direkam.

Salah satu insiden paling meresahkan terjadi di Skye, di mana ia mengatakan ke seorang pemilik toko beragama Sikh berdarah India bahwa ada keberagaman yang "dipaksakan" di Eropa. Perempuan tersebut, yang menjalankan toko dibantu oleh anak perempuannya, dengan sopan mengatakan komentar Margerison merendahkan.

Perempuan yang tinggal di Skye selama 20 tahun itu mengatakan pertemuannya dengan Margerison, yang bertubuh besar dan tinggi, terasa mengintimidasi dan ia menangis saat diberi tahu temannya bahwa video yang direkam diam-diam itu dipublikasikan di TikTok.

Merekam Diam-Diam Pakai Kacamata Meta Ilegal?

Legal atau tidaknya merekam diam-diam menggunakan kacamata Meta tergantung situasi. Perekaman bisa ilegal jika memenuhi unsur pelecehan, penguntitan, atau menimbulkan ketakutan.

Seseorang yang direkam juga punya dasar mengajukan gugatan perdata apabila rekaman diambil dalam situasi di mana mereka memiliki ekspektasi privasi, contohnya di ruang ganti.

Jika orang yang merekam materi melakukannya sebagai bagian kegiatan komersial, UU perlindungan data dapat berlaku. "Kami mengetahui video-video yang diunggah di internet dan saat ini mengkaji konten tersebut," cetus jubir kepolisian setempat.

Kacamata pintar bertransformasi menjadi teknologi arus utama dan makin sering dipasarkan sebagai asisten AI. Bentuknya seperti kacamata biasa, tapi dilengkapi kamera, mikrofon, serta dapat terhubung ke internet, biasanya dengan disambungkan ponsel.

Meta dianggap pemain dominan, tapi perusahaan lain seperti Apple, Google, dan Samsung juga berinvestasi. Produsen menyoroti manfaatnya, misalnya penyandang gangguan penglihatan dapat melihat suatu objek dan bertanya: "Apa yang sedang saya lihat?"

Namun, potensi kacamata ini merekam orang tanpa sepengetahuan mereka memunculkan kekhawatiran privasi. Kacamata pintar Meta sendiri punya lampu yang menyala jika pengguna merekam, tapi kadang diakali.

Meta menyatakan mereka aktif menyelidiki akun-akun Margerison dan menutupnya. "Masyarakat menggunakan kacamata kami karena alat ini benar-benar bermanfaat, mulai dari mendengarkan musik, terjemahan, hingga telepon hands-free," cetusnya yang dikutip detikINET dari BBC.

"Bagi mereka yang mengenakannya maupun orang di sekitar mereka, kepercayaan adalah hal utama. Itulah sebabnya kami membangun sistem privasi ke kacamata AI kami sejak awal desain," imbuhnya.

Kepala Instagram, Adam Mosseri, baru-baru ini mengakui bahwa beberapa pengguna telah mencoba "mengebor" lampu, tetapi ia mengklaim pembaruan terbaru membuat tindakan itu akan mengakibatkan kacamata tidak dapat berfungsi.

(fyk/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA