kingsheadwye.com

Rekonstruksi Sade jangan seperti komplek perumahan

Mataram (ANTARA) - Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram (Unram) Profesor Nuriadi mengingatkan pemerintah agar rekonstruksi Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tidak menyeragamkan bentuk rumah seperti komplek perumahan.

"Jangan sampai seperti komplek perumahan, kesannya seperti dibuat-buat, bukan original, sehingga perlu dibicarakan detail oleh pihak yang bertanggung jawab mengenai pola bentuknya seperti apa," ujar dia di Mataram, Jumat.

Nuriadi memandang konsep penyeragaman bentuk rumah saat rekonstruksi dapat menghilangkan keaslian dan karakter budaya masyarakat di Kampung Adat Sade.

Menurut dia, Sade merupakan ikon wisata budaya NTB yang merepresentasikan budaya masyarakat suku Sasak melalui arsitektur, tata perilaku, benda pusaka, pakaian tenun, hingga kesenian. Karena itu, rumah adat dan alang atau lumbung menjadi bagian penting yang harus kembali dihadirkan dalam rekonstruksi.

“Sade ini dianggap sebagai tidak hanya musibah kebakaran hunian atau kampung, tapi musibah kebudayaan,” kata Nuriadi.

Baca juga: Kampung Adat Ende menjadi alternatif wisata budaya pascakebakaran Sade

Lebih lanjut dia mengingatkan pemerintah perlu berkolaborasi dengan masyarakat dan tokoh masyarakat Sade untuk menentukan nilai budaya yang harus dikembalikan. Masyarakat setempat memiliki memori kolektif mengenai bentuk, fungsi, dan peninggalan budaya yang sebelumnya ada di Sade.

Nuriadi menyoroti rencana penataan ulang jarak antar bangunan di Sade. Pola permukiman yang berdekatan merupakan bagian dari karakter kehidupan komunal masyarakat Sasak, sehingga perubahan terhadap pola tersebut perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan masyarakat.

Ia menilai pembangunan fisik Sade relatif dapat dilakukan dengan cepat, tetapi pemulihan benda pusaka dan memori kolektif membutuhkan perhatian khusus. Karena itu, rekonstruksi menurutnya perlu didukung tim yang tidak hanya menangani pembangunan fisik, tetapi juga mengidentifikasi dan menghadirkan kembali unsur budaya Sade.

Baca juga: Rekonstruksi Sade tetap mempertahankan nilai historis dan karakter budaya

Nuriadi berharap agar pihak yang terlibat rekonstruksi dapat merangkul dan mendengar masyarakat dalam proses pembangunan, sehingga proses rekonstruksi ini tidak hanya meliputi pembangunan fisik, tapi juga menghadirkan kembali budaya tak benda yang ada di Kampung Adat Sade.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya Kampung Adat Sade mengalami kebakaran sekitar pukul 22.00 WITA pada 22 Agustus 2026. Jumlah rumah terdampak sebanyak 75 rumah adat, 8 berugak atau gazebo, 6 sekenam dan satu masjid, dua toilet, dan 69 artshop.

Sejumlah saksi mata menceritakan api pertama kali muncul dari salah satu rumah di tengah permukiman adat tersebut. Api kemudian merembet ke sejumlah rumah lainnya yang sebagian besar menggunakan bahan mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan ilalang.

Kampung Adat Sade merupakan salah satu kampung adat tertua di Pulau Lombok yang telah ada sejak abad ke-16 dan telah diwariskan selama 15 generasi.

Di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara, kampung itu terkenal sebagai destinasi budaya yang kental dalam upaya mempertahankan berbagai tradisi adat suku Sasak.

Pada 3 September 2026, warga Kampung Adat Sade melaksanakan tradisi Nyemulak atau tanam tiang sebagai tanda pembangunan kembali Rumah Adat Sasak dan Masjid Sade yang sebelumnya ludes terbakar. Nyemulak merupakan ikhtiar panjang penduduk setempat dalam melakukan rekonstruksi Kampung Adat Sade.

Pewarta : Sugiharto Purnama dan Khansa Fadiyah Asnawi
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026