kingsheadwye.com

Rupiah Menguat ke Rp17.755, Pasar Tunggu Data Inflasi AS dan The Fed

Pergerakan tersebut terjadi ketika indeks dolar AS menguat pada awal perdagangan, tetapi sentimen terhadap prospek kebijakan moneter The Fed mulai berubah. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.

Baca Juga: Punya Trik Hemat Saat Belanja, Luna Maya Sukses Kumpulkan Cashback Jutaan Rupiah

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar masih menjadikan perkembangan geopolitik Timur Tengah sebagai salah satu faktor utama yang menentukan arah dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Adanya harapan bahwa Iran dan Oman akan segera mencapai kesepakatan yang berujung pada pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (10/8/2026).

Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global. Karena itu, setiap perkembangan yang mengarah pada normalisasi pelayaran dapat mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan tekanan inflasi global.

Namun, risiko tersebut belum sepenuhnya hilang. Iran menyatakan pembukaan kembali jalur pelayaran masih bergantung pada sejumlah persyaratan, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat atas serangan yang terjadi selama konflik.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi juga menegaskan, bahwa Iran dan Amerika Serikat belum melakukan perundingan. Teheran disebut tidak akan memulai kembali pembicaraan selama Washington dinilai melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.

Ketidakpastian di Timur Tengah juga meningkat setelah fasilitas minyak Arab Saudi menjadi sasaran serangan pada akhir pekan.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengaku menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu. Pada saat yang sama, perusahaan energi Uni Emirat Arab, ADNOC, sebelumnya menyatakan terdapat 15 kapalnya yang diserang ketika melintasi Selat Hormuz sejak awal konflik.

Rangkaian perkembangan tersebut membuat pasar tetap berhati-hati terhadap kemungkinan gangguan pasokan energi.

Bagi pasar keuangan, risiko tersebut penting karena kenaikan harga minyak dapat kembali mendorong inflasi. Jika tekanan inflasi Amerika Serikat meningkat, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas.

Baca Juga: Rupiah Menguat, Pasar Soroti Pencalonan Destry Jadi Gubernur BI

Sebaliknya, apabila ketegangan mereda dan arus energi kembali normal, tekanan inflasi berbasis energi berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan The Fed.

Data pasar menunjukkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan September mulai berkurang. Berdasarkan CME FedWatch Tool dalam data yang menjadi acuan pasar, peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 42%, turun dari sekitar 67% sepekan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut tidak terlepas dari melemahnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat dan meredanya kekhawatiran terhadap inflasi yang bersumber dari energi.

Pasar selanjutnya akan mendapatkan petunjuk baru dari rilis Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Juli pada Rabu pekan ini.

Jika data inflasi sesuai atau lebih rendah dari perkiraan, tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat semakin berkurang. Perubahan ekspektasi tersebut kemudian berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang.

Di dalam negeri, pasar valuta asing juga menghadapi perubahan penting setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia kepada DPR RI.

Pengajuan tersebut dilakukan melalui Surat Presiden atau Surpres untuk mengisi posisi Gubernur BI definitif.

Destry saat ini merupakan Deputi Gubernur Senior BI dan sebelumnya telah lama terlibat dalam kebijakan moneter serta stabilitas sistem keuangan. Pengajuan namanya menjadi perhatian pasar karena Gubernur BI memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, serta kredibilitas kebijakan moneter.

Dengan rupiah masih berada di kisaran Rp17.000 per USD, arah kebijakan bank sentral menjadi salah satu faktor yang akan diperhatikan investor.

Bank Indonesia sendiri saat ini mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%. Data resmi BI menunjukkan suku bunga tersebut berlaku sejak keputusan 22 Juli 2026.

Artinya, pasar tidak hanya melihat perkembangan eksternal, tetapi juga bagaimana kepemimpinan BI berikutnya akan menjaga stabilitas rupiah di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

Dari sisi domestik lainnya, perkembangan konsumsi rumah tangga juga perlu diperhatikan.

Dalam naskah data terbaru, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 tercatat 116,8, turun dari 117,8 pada Juni. Angka tersebut menunjukkan keyakinan konsumen masih berada di zona optimistis karena berada di atas level 100, tetapi melanjutkan tren penurunan.

Data BI yang telah dipublikasikan menunjukkan IKK Juni 2026 berada di level 117,8, turun dari 120,9 pada Mei. Penurunan tersebut terjadi setelah IKK April masih berada di level 123,0.

Dengan demikian, jika angka Juli 116,8 digunakan sebagai data terbaru, penurunan keyakinan konsumen telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.

Meski masih optimistis, pelemahan IKK menjadi indikator yang perlu diperhatikan karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Konsumen yang semakin berhati-hati dapat mengurangi belanja atau menunda pembelian barang dan jasa. Dalam jangka lebih panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi laju permintaan domestik apabila berlangsung secara berkelanjutan.

Namun, indikator pembiayaan masih menunjukkan aktivitas ekonomi yang relatif kuat. Dewan Ekonomi Nasional mencatat kredit bank umum tumbuh 12,7% secara tahunan pada Juni 2026, meningkat dari 11,5% pada Mei. Pertumbuhan terutama ditopang kredit investasi dan modal kerja.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan keyakinan konsumen belum serta-merta berarti aktivitas ekonomi domestik mengalami kontraksi.

Setelah ditutup di Rp17.755 per USD, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya.

Ibrahim memperkirakan rupiah berada dalam rentang Rp17.700-Rp17.750 per USD. Proyeksi tersebut menunjukkan ruang penguatan masih terbuka, tetapi pergerakan mata uang Garuda tetap bergantung pada sentimen global.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp17.700 hingga Rp17.750," kata Ibrahim.

Pergerakan rupiah dengan demikian masih akan ditentukan oleh beberapa faktor secara bersamaan. Dari eksternal, pasar akan mencermati perkembangan konflik AS-Israel dengan Iran, kondisi Selat Hormuz, harga energi, data inflasi Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Dari dalam negeri, pasar akan mengikuti proses pengajuan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI definitif, arah kebijakan moneter bank sentral, serta perkembangan konsumsi domestik.

Kombinasi faktor tersebut membuat penguatan rupiah pada perdagangan Senin belum dapat dipandang sebagai perubahan tren jangka panjang. Pasar masih membutuhkan konfirmasi dari data inflasi AS dan perkembangan geopolitik sebelum menentukan arah berikutnya.

Untuk saat ini, level Rp17.700-Rp17.750 menjadi rentang yang diperhatikan dalam jangka pendek, sementara perkembangan kebijakan The Fed dan transisi kepemimpinan BI menjadi faktor penting yang dapat menentukan apakah penguatan rupiah dapat berlanjut.