Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini 4 Faktor yang Bikin Kurs Tertekan
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:27 WIB
Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, hingga perkembangan geopolitik menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam mencermati pergerakan mata uang Garuda.
Baca Juga
Pada Sabtu (17/10/2026), pukul 09.20 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp18.053 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah juga mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan setelah tekanan dari pasar global memengaruhi pergerakan nilai tukar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Mengutip data perdagangan Jumat (16/10/2026), rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke posisi Rp18.027 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Baca Juga
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi suku bunga AS bertahan lebih lama. Kondisi tersebut berkaitan dengan perkembangan inflasi yang menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam memperkirakan arah kebijakan moneter The Federal Reserve atau The Fed.
Inflasi AS pada September 2026 meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan, dari 3,4 persen pada Agustus. Kenaikan tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati kemungkinan suku bunga AS bertahan pada tingkat tinggi.
Baca Juga
“Jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ucapnya, Jumat.
Selain kebijakan moneter AS, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian. Situasi di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian dapat meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk membiayai impor energi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi permintaan dolar AS di dalam negeri. Di tengah perkembangan itu, pelaku pasar juga mencermati sentimen dari pasar keuangan domestik, termasuk pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar yang berdiri sendiri.
Menurut Amru, perubahan status tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan mendorong penyesuaian portofolio investasi asing. Meski demikian, dampaknya terhadap nilai tukar rupiah belum dapat dipastikan secara langsung karena perlu dilihat bersama faktor lain, seperti pergerakan dolar AS dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Halaman Selanjutnya
Di sisi domestik, sejumlah indikator masih menunjukkan aktivitas ekonomi yang terjaga. Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$459,3 miliar, dengan pertumbuhan 5,6 persen secara tahunan. Aliran dana masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) juga turut mendukung pembiayaan pemerintah.