Sakuranesia perkuat hubungan Indonesia-Jepang-Rusia dalam JFC 2026
Jakarta (ANTARA) - Yayasan Sakuranesia menggelar Humanity, Earth and Life (HEAL) International Conference 2026 dalam rangkaian Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026, guna memperkuat kolaborasi Indonesia, Jepang, dan Rusia pada bidang budaya, pendidikan, inovasi, dan kemanusiaan.
Founder Yayasan Sakuranesia Tovic Rustam, dalam keterangan di Jakarta, Senin, mengatakan tantangan global saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu negara maupun satu disiplin ilmu, melainkan membutuhkan kolaborasi yang melibatkan berbagai bangsa, budaya, dan generasi.
"Melalui HEAL International Conference, kami ingin bersama-sama menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi umat manusia dan bumi, sekaligus memperkuat persahabatan antara Indonesia, Jepang, dan Rusia sebagai fondasi berbagai kolaborasi global pada masa depan," katanya.
Tovic menjelaskan kegiatan JFC 2026 yang digelar beberapa waktu lalu itu mengusung tema “Co-Creating a Sustainable Future for Humanity and the Earth”, dan diharapkan menjadi ruang dialog internasional yang mendorong kolaborasi lintas negara dalam membangun masa depan yang berkelanjutan melalui sinergi antara inovasi, budaya, pendidikan, teknologi, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Baca juga: JFC 2026 ajak bangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam
Adapun Sakuranesia memperkuat dimensi internasional JFC 2026 dengan memfasilitasi sekitar 100 peserta asal Jepang mengikuti konferensi, karnaval, dan pertukaran budaya, yang menghadirkan arak-arakan kereta karnaval bertema Gaia.
Lebih lanjut, seniman Jepang sekaligus Chairman Yayasan Sakuranesia, Sakura Ijuin mengatakan kehadiran arak-arakan atau defile Gaia merepresentasikan harapan agar keberagaman budaya dunia menjadi kekuatan dalam membangun masa depan yang lebih harmonis.
"Tema Co-Creating a Sustainable Future for Humanity and the Earth bukan hanya menjadi tema konferensi, tetapi juga menjadi semangat yang kami hadirkan melalui defile Gaia," ucap Ijuin.
Dalam konferensi tersebut, seniman sekaligus pembicara asal Rusia, Aleksandra Gamova menekankan pentingnya inovasi yang berorientasi pada manusia.
Adapun seniman Rusia lainnya Olga Shpilko menyampaikan bahwa budaya merupakan jembatan yang menghubungkan masyarakat dunia.
Mewakili Indonesia, sineas sekaligus Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) KH. Imam Pituduh mengingatkan bahwa tantangan terbesar dunia bukanlah teknologi, melainkan perilaku manusia.
Diketahui, pada akhir kegiatan juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sebagai simbol komitmen memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Indonesia, Jepang, dan Rusia.
Representative Director The Millennium Sustainability Foundation, Tokutaro Nakai, menambahkan pembangunan masa depan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi lintas negara, lintas budaya, dan lintas generasi sehingga kemajuan teknologi selalu berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan.
“Masa depan yang berkelanjutan lahir dari kolaborasi lintas negara, lintas budaya, dan lintas generasi. Teknologi harus berkembang bersama nilai-nilai kemanusiaan sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi manusia dan bumi,” ujarnya.
Tokutaro menyebutkan hubungan antarmasyarakat merupakan fondasi utama bagi masa depan kerja sama internasional. Ketika masyarakat dari berbagai negara saling belajar, saling menghormati, dan bekerja sama, maka perdamaian dan keberlanjutan akan tumbuh secara alami.
Kolaborasi Indonesia dan Jepang juga diwujudkan melalui donasi bunga premium dari Cavin Inc., Fukuoka, Jepang, yang disalurkan melalui Yayasan Sakuranesia untuk mendukung penyelenggaraan JFC 2026.
CEO Cavin Inc., Yuta Komatsu, yang akrab disapa Roy, mengatakan pihaknya bangga dapat berpartisipasi dalam salah satu ajang budaya terbesar di Indonesia melalui donasi bunga premium dari Jepang.
Diungkapkan Roy, keindahan bunga bukan hanya simbol estetika, tetapi juga menjadi jembatan persahabatan, saling pengertian, dan pertukaran budaya antara Jepang dan Indonesia.
Baca juga: Menpar sebut JFC kenalkan budaya Indonesia jadi soft power ke dunia
Baca juga: Sakuranesia perkuat harmonisasi budaya hingga agama Indonesia-Jepang
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.