Satgas PRR prioritaskan mitigasi permanen di wilayah pascabencana
Jakarta (ANTARA) - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menyatakan langkah mitigasi permanen perlu segera dipersiapkan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Laporan Satgas PRR menyebutkan hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Tapanuli Tengah pada Sabtu (18/7), mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah, khususnya Kecamatan Tukka, namun genangan air telah berangsur surut dan penanganan darurat berlangsung cepat.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan pada Senin, banjir dipicu oleh curah hujan tinggi yang berlangsung lebih dari satu setengah jam sehingga menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga.
Luapan sungai juga membawa sedimen yang menghambat aliran air di beberapa titik, termasuk pada akses jembatan yang menjadi penghubung aktivitas masyarakat.
Koordinator Wilayah Sumatera Utara Satgas PRR Brigadir Jenderal TNI Fadjar Tjahjono menjelaskan penanganan darurat telah dilakukan secara cepat melalui kolaborasi pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, serta berbagai unsur terkait.
Sedimen yang menumpuk di sekitar jembatan segera dibersihkan menggunakan alat berat sehingga akses masyarakat dapat kembali berfungsi.
"Langkah mitigasi yang harus kita lakukan adalah memperkuat tanggul di sepanjang aliran sungai. Sedimen yang diangkat tidak cukup hanya ditumpuk kembali, tetapi tanggul perlu diperkuat dengan batu atau bronjong sehingga saat debit air meningkat, lumpur tidak kembali masuk ke permukiman," kata Fadjar dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Baca juga: Tanggul sungai jebol, 200 KK terdampak banjir di Tapanuli Tengah
Satgas PRR kini mengonsolidasikan langkah-langkah mitigasi bersama pemerintah daerah sebagai tindak lanjut penanganan darurat.
Penguatan tanggul, penataan daerah aliran sungai, serta perlindungan titik-titik rawan luapan menjadi prioritas agar penanganan tidak berhenti pada pembersihan pascabanjir, tetapi berlanjut menjadi solusi yang lebih permanen dan berkelanjutan.
Fadjar menambahkan pemerintah telah menyediakan dukungan anggaran untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi. Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan segera mengoptimalkan pelaksanaan program mitigasi sesuai kebutuhan di lapangan sehingga risiko banjir dapat ditekan secara signifikan.
Sementara itu, selama masa tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, dan masyarakat bergerak cepat mengevakuasi warga terdampak di Kecamatan Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik.
Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah juga membuka dapur umum di Aula Gereja HKBP Sipange untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 67 kepala keluarga atau sekitar 223 jiwa terdampak banjir dan sempat mengungsi sebelum kondisi berangsur membaik.
Baca juga: Kemensos salurkan bantuan untuk korban banjir Tapanuli Tengah
Baca juga: BNPB salurkan dana stimulan Rp31,2 miliar untuk warga Tapanuli Tengah
Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.