kingsheadwye.com

Secangkir Kopi, Madu, dan Cerita Desa Wisata yang Menggerakkan Ekonomi Warga Simalungun |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, SIMALUNGUN – Aroma kopi yang baru diseduh menyambut setiap pengunjung yang menuruni anak tangga menuju Kafe Takoma di Desa Wisata Sait Buttu Saribu, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dari berandanya, hamparan pepohonan hijau, kolam kecil tempat anak-anak bermain, hingga kawasan penangkaran lebah madu membentuk lanskap yang memperlihatkan bagaimana pariwisata dan ekonomi desa tumbuh berdampingan.

Kafe itu bukan sekadar tempat menikmati kopi. Di lantai bawah, biji kopi hasil panen petani setempat dijemur sebelum diolah menjadi minuman yang disajikan kepada pengunjung. Tidak jauh dari sana, kawasan Edukasi Wisata Penangkaran Lebah Madu Takoma mengajak wisatawan mengenal budidaya lebah tanpa sengat, mulai dari melihat rumah-rumah lebah, proses panen madu, hingga mencicipi hasil produksinya langsung dari para pembudidaya.

Di sela-sela aktivitas tersebut, tawa anak-anak terdengar dari kolam kecil yang menjadi salah satu wahana bermain keluarga. Suasana yang sederhana itu membuat kawasan wisata ini terasa hidup. Wisatawan datang bukan hanya menikmati alam, tetapi juga melihat bagaimana masyarakat mengelola potensi desanya menjadi sumber penghidupan.

Seluruh aktivitas itu saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi. Wisatawan yang membeli secangkir kopi ikut menggerakkan usaha petani kopi. Mereka yang membawa pulang madu membantu meningkatkan pendapatan kelompok pembudidaya lebah. Sementara, keberadaan desa wisata membuka peluang bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM, hingga warga yang menyediakan berbagai jasa pendukung.

Ekosistem tersebut tidak tumbuh dalam waktu singkat. Sejak 2020, Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar mulai mendampingi masyarakat melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI). Pendampingan tidak hanya menyasar satu usaha, tetapi membangun berbagai kelompok ekonomi yang saling mendukung.

Kepala Grup Departemen Komunikasi Bank Indonesia Anton Pitono mengatakan, pendekatan yang digunakan adalah membangun ekosistem, bukan sekadar membantu satu pelaku usaha.

“Yang kami bangun bukan hanya individu-individu. Ada kelompok madu, petani kopi, kelompok sadar wisata. Semuanya kami gabungkan menjadi satu sehingga ketika lokasi ini menjadi tujuan wisata, teman-teman di sini bisa memanfaatkan peluang ekonomi secara optimal,” ujar Anton di Desa Wisata Sait Buttu, akhir pekan lalu.

Menurut dia, pendampingan dimulai dari penguatan fondasi usaha masyarakat. Pada kelompok budidaya lebah, misalnya, Bank Indonesia membantu pembangunan rumah penangkaran, penyediaan peralatan produksi, hingga pelatihan peningkatan kapasitas pengelola.

Pendampingan juga dilakukan dengan menghadirkan peneliti dan praktisi perlebahan dari berbagai daerah, termasuk Jember, untuk berbagi pengetahuan mengenai teknik budidaya, peningkatan kualitas madu, serta pengelolaan usaha.