Sinar Berlian Meredup, Harga Anjlok 51%
Liputan6.com, Jakarta - Berlian tampaknya mulai kehilangan kilaunya dalam beberapa tahun terakhir. Harga berlian alam bahkan telah anjlok lebih dari separuh dalam lima tahun terakhir.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (26/9/2026), data platform perdagangan berlian Rapaport Group menunjukkan, harga rata-rata berlian alam 1 karat kini berada di US$ 3.898 atau sekitar Rp 69,8 juta (estimasi kurs Rp 17.914 per dolar AS), turun 51% dibandingkan rata-rata US$ 8.007 pada 2021.
Indeks Diamond Standard yang melacak harga berlian kelas investasi juga menyentuh level terendah sepanjang masa pada awal Agustus 2026, yakni 2.490. Pada pekan ini, indeks tersebut berada sedikit di atas level 2.500.
Penurunan harga berlian dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah membanjirnya pasokan berlian hasil tambang dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah upaya industri mengurangi kelebihan pasokan, muncul tekanan baru dari meningkatnya popularitas berlian hasil laboratorium atau lab-grown diamonds.
“Ada banyak pesimisme mengenai berlian alam,” kata CEO Diamond Standard Cormac Kinney kepada CNBC.
kelebihan Pasokan dan Berlian Lab-Grown
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5372559/original/095624100_1759745648-432bca18-3363-4336-b25f-1325ccfd148e.jpg)
Perbesar
Menurutnya, industri berlian menghadapi kelebihan persediaan yang sangat besar pada 2023 dan 2024 setelah produksi berlebih selama pandemi Covid-19. Kondisi tersebut kemudian diperparah oleh penurunan penjualan akibat meningkatnya penggunaan berlian lab-grown.
Berlian lab-grown memiliki sifat kimia dan fisik yang sama dengan berlian alam. Batu ini dibuat dengan memberikan panas dan tekanan pada benih karbon atau menggunakan gas yang mengandung karbon dalam ruang vakum.
Meski diproduksi di atas permukaan tanah, berlian lab-grown terlihat dan terasa sama seperti berlian yang terbentuk secara alami di dalam bumi.
Perbedaan paling mencolok terletak pada harga. Berdasarkan pencarian CNBC di marketplace Brilliant Earth, berlian lab-grown hampir tidak berwarna dengan tingkat kejernihan sangat tinggi dan potongan sangat baik dapat dibanderol sekitar US$ 450.
Sementara berlian alam dengan spesifikasi sama harganya mencapai US$ 2.800-US$ 3.200.
Perkembangan Berlian Lab-Grown
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441718/original/000140000_1765516646-Cincin_Nikah_Berlian_1.jpg)
Perbesar
Brilliant Earth menyebut berlian lab-grown memiliki harga lebih rendah dibandingkan berlian alam pada setiap ukuran karat. Harganya bahkan bisa mencapai 90% lebih murah, tergantung ukuran, potongan, dan warna batu.
Harga yang lebih terjangkau membuat konsumen mulai beralih ke berlian buatan manusia untuk cincin pertunangan maupun perhiasan fesyen.
Menurut The Knot 2026 Real Weddings Study, cincin pertunangan dengan berlian lab-grown sebagai batu utama menyumbang 61% dari seluruh penjualan cincin pertunangan pada 2025. Angka itu melonjak 239% dibandingkan 2020.
Pasar berlian lab-grown juga diproyeksikan terus berkembang. Fortune Business Insights memperkirakan nilainya mencapai hampir US$ 92 miliar pada 2034, naik lebih dari 200% dari US$ 29,46 miliar pada 2025.
“Berlian lab-grown membuka peluang bagi orang untuk membelanjakan sesuai keinginan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan,” kata Cory Schifter, pemilik Casale Jewelers di New York dan New Jersey, kepada CNBC.
Bukan Instrumen Investasi yang Mudah
Perkembangan berlian lab-grown membuat industri berlian alam mulai mengambil langkah untuk mengangkat kembali harga batu permata tersebut.
De Beers Group pada Juli 2026 mengumumkan akan menghentikan produksi di tambang andalannya, Venetia, di Afrika Selatan selama lebih dari dua tahun. Langkah ini diperkirakan mengurangi pasokan dan berpotensi mendorong harga naik.
Sedikitnya dua tambang berlian lainnya juga mengumumkan penghentian operasi secara permanen pada 2026.
“Yang kita lihat sekarang di pasar grosir adalah kenaikan harga untuk kualitas berlian tertentu, dan menurut saya ini merupakan awal dari pemulihan,” ujar Kinney.
Namun, berlian lab-grown dinilai tetap menjadi tren yang sulit diabaikan. Analis Raymond James Rick Patel melihat peluang pada perusahaan perhiasan seperti Signet Jewelers yang memiliki eksposur terhadap pertumbuhan berlian lab-grown.
Meski demikian, analis dan pelaku industri mengingatkan bahwa berlian bukan instrumen investasi yang mudah. Tidak ada pasar spot berlian yang terstandardisasi karena setiap batu memiliki karakteristik berbeda.
Selain itu, likuiditasnya rendah. Berdasarkan laporan CaratX, berlian dapat berada di pasar sekunder lebih dari satu tahun sebelum terjual.
“Anda sebaiknya tidak membeli berlian dengan berpikir bahwa ada aspek investasi finansial di dalamnya,” kata Schifter.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6