Sisi Pahit Kurir Paket, Terjerat Suspend hingga Ongkir Terpangkas
Tantangan lain muncul ketika barang yang harus dibawa ternyata tidak sesuai dengan perkiraan awal.
Nendra pernah menerima order gabungan dengan ongkos sekitar Rp40 ribu yang kemudian bertambah menjadi Rp44 ribu. Namun, ketika tiba di toko, ia mendapati barang yang harus dibawa berupa dua karung pasir.
“Cek dulu ke tokonya ternyata bawa dua karung pasir, langsung cancel,” tuturnya.
Menurut Nendra, kondisi seperti itu membuat kurir harus mempertimbangkan kembali apakah sebuah order layak diambil. Berat barang, jarak tempuh, hingga kondisi cuaca menjadi sejumlah pertimbangan sebelum pengiriman dilakukan.
Persoalan lain yang dirasakan Nendra adalah potongan ongkos kirim. Ia menyebut potongan yang diterimanya sekitar 15 persen untuk setiap order.
Ia mencontohkan satu order dengan ongkos Rp6.400. Jika mendapatkan dua order sekaligus, total ongkos menjadi Rp12.800. Setelah dipotong 15 persen, pendapatan yang diterima menjadi Rp10.880.
Dalam kondisi tertentu, membatalkan order akhirnya menjadi pilihan. Namun, keputusan tersebut juga memiliki konsekuensi bagi kurir karena pembatalan dapat berujung pada poin pelanggaran.
Menurut Nendra, poin pelanggaran memiliki beberapa tingkatan. Pelanggaran ringan dapat berupa peringatan, sedangkan pelanggaran tingkat menengah bisa berujung pada suspend selama beberapa jam. Adapun pelanggaran berat dapat berakhir pada pemutusan kemitraan.
Nendra pernah merasakan konsekuensi tersebut setelah membatalkan order karena restoran yang harus dituju tidak ditemukan dan titik Maps tidak sesuai.
Akibatnya, akun Nendra terkena suspend selama satu jam. Selama periode tersebut, ia tidak dapat mengambil order.
“Satu jam itu bisa dapat satu sampai tiga orderan,” katanya.
Bagi Nendra, waktu satu jam tanpa menerima order berarti ada potensi pemasukan yang hilang. Ia sempat mengajukan banding karena merasa pelanggaran tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Namun, pengajuan itu ditolak.
“Jadinya ya terima nasib,” ujarnya.