kingsheadwye.com

Studi Ungkap Tanda-tanda Psikopat, Bisa Terlihat dari Tulisan Seseorang

Jakarta -

Psikopati (psychopathy) tidak tercantum sebagai diagnosis tersendiri dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR), panduan yang digunakan untuk mengklasifikasikan gangguan mental. Meski demikian, istilah psikopati masih banyak digunakan, terutama dalam penelitian psikologi dan kriminologi, untuk menggambarkan kombinasi ciri kepribadian tertentu.

Menurut model triarkis, kepribadian psikopatik memiliki tiga karakteristik utama, yakni keberanian atau ketangguhan (boldness), kurangnya pengendalian diri (disinhibition), dan sikap tidak peduli terhadap orang lain (meanness).

Sebuah studi baru yang dilakukan peneliti psikologi klinis Ky Bray dan Laura Drislane dari University of Mississippi menunjukkan ciri-ciri tersebut dapat terlihat dalam tulisan seseorang. Temuan ini juga menunjukkan bahwa pola tulisan mereka tidak selalu sesuai dengan stereotip yang selama ini melekat pada sosok psikopat. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang cenderung menganggap psikopati sebagai satu hal yang utuh, padahal sebenarnya kondisi ini memiliki banyak dimensi," kata Bray, dikutip dari Science Alert.

Setiap orang memiliki ciri-ciri tersebut dalam kadar tertentu. Namun, persoalan dapat muncul ketika ketiga karakteristik itu muncul secara bersamaan dengan tingkat yang tinggi.

"Itulah salah satu alasan munculnya kecenderungan untuk tidak lagi menyebut seseorang sebagai 'psikopat', karena kami tidak memandang psikopati sebagai sebuah kategori tunggal," ujar Drislane.

"Namun, dimensi psikopati dapat memprediksi sejumlah hasil penting, seperti tindak kriminal, pengulangan tindak kejahatan, atau kekerasan terhadap pasangan intim."

"Penelitian kami, termasuk studi ini, menunjukkan pentingnya melihat lebih jauh dari sekadar label dan memahami berbagai komponen atau dimensi psikopati. Sebab, setiap dimensi memiliki kaitan tersendiri dengan hasil atau perilaku tertentu yang dapat diprediksi.

Bray dan Drislane merekrut 307 mahasiswa sarjana serta 144 mantan narapidana yang berasal dari masyarakat umum. Para peserta diminta mengisi kuesioner Triarchic Psychopathy Measure (TriPM), yang dirancang untuk mengukur tingkat tiga ciri kepribadian tersebut.

Mereka juga diminta menulis tentang kehidupan masing-masing, termasuk pengalaman terbaik, pengalaman terburuk, dan peristiwa penting yang menjadi titik balik dalam hidup mereka.

Bray menegaskan bahwa tujuan penelitian ini bukan menggunakan tulisan untuk mendiagnosis psikopati. Terlebih, psikopati sendiri bukan diagnosis formal. Penelitian ini bertujuan menunjukkan bagaimana ciri-ciri psikopati dapat muncul dalam perilaku sehari-hari, termasuk melalui penggunaan bahasa.

Sebagai contoh, peserta yang memperoleh skor tinggi pada dimensi boldness dalam TriPM cenderung lebih jarang menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan kecemasan dalam tulisan mereka. Kata-kata tersebut antara lain "khawatir", "takut", "merasa gentar", dan "gugup".

Sementara itu, peserta dengan skor tinggi pada dimensi meanness cenderung lebih jarang menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan emosi negatif, seperti "buruk", "benci", "sakit", atau "lelah", ketika menulis tentang peristiwa penting yang menjadi titik balik dalam hidup mereka.

Dibandingkan dua karakteristik lainnya, disinhibition atau kurangnya pengendalian diri menunjukkan pengaruh paling besar terhadap penggunaan bahasa.

Peserta dengan skor tinggi pada dimensi ini cenderung lebih jarang menyebutkan hasil atau pengalaman positif dalam ketiga tulisan yang mereka buat.

Mereka juga cenderung menggunakan bahasa yang lebih negatif ketika menggambarkan pengalaman terbaik dan peristiwa titik balik dalam hidup dibandingkan peserta lain. Namun, pola tersebut tidak ditemukan ketika mereka menulis tentang pengalaman terburuk.

Selain itu, mereka lebih sering menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan konsumsi zat, seperti "bir", "anggur", "mabuk", dan "cerutu", ketika menceritakan pengalaman terburuk dan peristiwa titik balik dalam hidup. Kecenderungan ini tidak terlihat ketika mereka menulis tentang pengalaman terbaik.

"Melihat psikopati dari perspektif multidimensi memungkinkan kita mengamati bagaimana ciri-ciri tersebut dapat muncul pada orang-orang di luar populasi forensik, termasuk mereka yang tidak pernah melakukan tindak kriminal," kata Bray.

"Dengan demikian, kita dapat melihat bagaimana ciri-ciri tersebut memengaruhi mahasiswa, profesional di dunia kerja, maupun hubungan antarindividu."

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan orang dengan ciri-ciri psikopati tidak selalu kehilangan unsur emosi atau makna personal. Temuan ini bertentangan dengan stereotip yang menggambarkan psikopat sebagai sosok dingin, kejam, dan identik dengan kriminalitas.

Namun, cara mereka menggunakan bahasa dalam situasi tertentu mungkin tidak selalu sesuai dengan apa yang dianggap tepat oleh orang lain.

"Jika kita ingin menangani atau, idealnya, mencegah perkembangan psikopati, kita perlu memahami mekanisme yang mendasarinya," ujar Drislane.

"Hal itu berarti kita perlu memahami faktor-faktor khusus yang berkontribusi terhadap masing-masing dari ketiga dimensi tersebut."

Halaman 2 dari 3

(suc/suc)