Sulit Bayar Tagihan Dikaitkan dengan Penuaan Otak Lebih Cepat
Bagikan:
JAKARTA - Masalah uang yang tak kunjung selesai ternyata tidak hanya menguras pikiran. Studi baru mengaitkan kesulitan keuangan jangka panjang dengan penuaan otak lebih cepat, terutama pada kelompok tertentu yang lebih rentan.
The Independent dikutip Sabtu, 25 Juli, melaporkan, temuan itu berasal dari penelitian para ahli University College London atau UCL. Mereka menganalisis data 2.759 orang di Inggris dan menerbitkan hasilnya dalam jurnal Innovations in Aging.
Dampaknya disebut lebih kuat pada laki-laki, orang yang tumbuh dalam keluarga kurang beruntung, serta mereka yang memiliki risiko genetik lebih besar terhadap penyakit Alzheimer.
Para peneliti menilai dukungan bagi orang yang menghadapi tekanan finansial dan pengurangan kemiskinan kronis dapat ikut membantu mencegah kasus demensia pada masa depan.
Demensia adalah penurunan fungsi otak yang memengaruhi daya ingat, cara berpikir, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Alzheimer merupakan salah satu penyebab paling umum demensia.
Data penelitian diambil dari peserta MRC National Survey of Health and Development, atau studi kohort Inggris 1946. Dalam studi itu, pendapatan rumah tangga peserta dicatat saat mereka berusia 26, 43, dan 53 tahun.
BACA JUGA:
Studi kohort adalah penelitian yang mengikuti sekelompok orang dalam jangka panjang untuk melihat perubahan atau risiko kesehatan dari waktu ke waktu.
Peserta digolongkan memiliki pendapatan rendah yang menetap jika berada di kelompok 20 persen terbawah setidaknya dua kali. Kelompok ini mencakup sekitar satu dari enam peserta.
Kesulitan keuangan dalam studi itu mencakup kondisi sulit mengelola pendapatan atau kesulitan membayar tagihan.
Hasilnya, orang yang mengalami masalah uang atau kemiskinan terus-menerus pada awal dan pertengahan masa dewasa mendapat hasil lebih buruk dalam tes kognitif pada usia 53 tahun.
Tes kognitif digunakan untuk menilai kemampuan berpikir, mengingat, memahami, dan mengambil keputusan.
Pada peserta yang menjalani pemindaian otak, analisis menunjukkan mereka yang berpendapatan lebih rendah memiliki kesehatan otak lebih buruk pada usia 69 hingga 71 tahun.
Hubungan tersebut lebih kuat pada laki-laki, orang yang mengalami masa kecil lebih miskin, dan orang dengan varian genetik yang meningkatkan risiko Alzheimer.
Dr Jacques Wels dari unit kesehatan sepanjang hayat dan penuaan UCL mengatakan banyak studi tentang penuaan kognitif hanya melihat kesulitan keuangan pada satu waktu.
“Studi kami yang menggunakan data selama beberapa dekade memungkinkan kami melihat bahwa akumulasi kesulitan selama bertahun-tahunlah yang berkaitan dengan hasil kesehatan kognitif terburuk, bukan episode kesulitan yang sesekali terjadi,” kata Wels.
Penuaan kognitif adalah perubahan kemampuan berpikir, mengingat, dan memproses informasi seiring bertambahnya usia.
Menurut studi tersebut, hubungan ini mungkin terjadi karena masalah keuangan menyita kapasitas otak yang dipakai untuk perhatian dan pengambilan keputusan.
Orang yang terus menghadapi tekanan finansial saat dewasa dapat mengalami stres kronis pada sistem yang terlibat dalam pemrosesan kognitif. Dalam jangka panjang, kondisi itu bisa berkaitan dengan gangguan fungsi berpikir.
Laporan The Independent juga menyebut, temuan ini muncul saat krisis biaya hidup membuat semakin banyak rumah tangga melaporkan kesulitan keuangan.
Profesor Praveetha Patalay, juga dari UCL, mengatakan dukungan bagi warga yang menghadapi tekanan finansial tidak hanya penting secara sosial, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan otak.
“Temuan kami menunjukkan bahwa mendukung orang-orang yang menghadapi kesulitan keuangan dan mengurangi kemiskinan kronis juga dapat membantu mencegah penurunan kognitif dan kasus demensia pada masa depan,” kata Patalay.
Dr Richard Oakley, associate director of research and innovation di Alzheimer’s Society, mengatakan studi ini menunjukkan demensia bukan hanya urusan kesehatan.
“Studi ini mengingatkan bahwa demensia bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi,” kata Oakley.
Menurut Oakley, bukti yang berkembang menunjukkan faktor yang membentuk kesehatan otak sudah muncul jauh sebelum gejala demensia terlihat.
Ia mengatakan tidak ada cara yang dijamin bisa mencegah demensia. Namun, penelitian menunjukkan sekitar 45 persen kasus secara global berpotensi ditunda atau dicegah dengan menangani faktor risiko yang dapat diubah.
Oakley menilai upaya menekan risiko demensia juga perlu menyentuh ketimpangan yang memengaruhi kesehatan otak.
Ia mengatakan demensia merupakan pembunuh terbesar di Inggris, tetapi belum diperlakukan sebagai isu kesehatan publik sebagaimana mestinya.
Menurut Oakley, jumlah orang yang terdampak demensia hanya bisa ditekan jika faktor risikonya ditangani dan semua orang mendapat akses dukungan setelah diagnosis.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+