kingsheadwye.com

Swiss Bangun Terowongan Raksasa Demi Selamatkan Pegunungan Alpen

Jakarta -

Terowongan-terowongan raksasa di bawah Pegunungan Alpen selama ini dikenal sebagai keajaiban teknik yang memangkas waktu perjalanan kereta di Swiss. Namun, tujuan utama pembangunannya ternyata bukan sekadar mempercepat transportasi, melainkan mengurangi lalu lintas truk dan melindungi ekosistem Alpen dari ancaman perubahan iklim.

Sejak 1990-an, Swiss secara bertahap memindahkan angkutan barang yang melintasi Pegunungan Alpen dari jalan raya ke jalur kereta api. Kebijakan ini lahir setelah warga Swiss menyetujui Alpine Initiative melalui referendum pada 1994, yang kemudian dimasukkan ke dalam konstitusi negara tersebut. Tujuannya adalah mengurangi polusi, kemacetan, dan kerusakan lingkungan di kawasan pegunungan yang sangat sensitif.

Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, seperti dikutip dari Times of India, Senin (27/7/2026) Swiss membangun jaringan terowongan dasar (base tunnel) yang memungkinkan kereta barang melintas hampir tanpa tanjakan. Jalur yang lebih datar membuat lokomotif membutuhkan energi jauh lebih sedikit dibandingkan ketika harus menyeberangi pegunungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain lebih hemat energi, angkutan barang menggunakan kereta juga menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan truk untuk jumlah muatan yang sama. Karena itu, pemerintah Swiss menjadikan kereta sebagai tulang punggung distribusi logistik lintas Alpen.

Salah satu proyek terbesarnya adalah Gotthard Base Tunnel, terowongan kereta sepanjang 57 kilometer yang menjadi salah satu terowongan rel terpanjang di dunia. Terowongan ini memungkinkan kereta barang melintas langsung di bawah Pegunungan Alpen tanpa harus melewati jalur pegunungan yang curam.

Hasilnya mulai terlihat. Menurut Federal Office of Transport Swiss, sekitar 69% angkutan barang yang melintasi Pegunungan Alpen kini menggunakan jalur kereta. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum jaringan terowongan dan investasi besar di sektor perkeretaapian dilakukan. Pemerintah bahkan menargetkan jumlah truk yang melintasi Alpen turun menjadi 650.000 kendaraan per tahun.

Bagi masyarakat yang tinggal di lembah Alpen, kebijakan tersebut memberikan manfaat nyata berupa udara yang lebih bersih, tingkat kebisingan yang lebih rendah, serta berkurangnya risiko kecelakaan akibat kendaraan berat di jalan-jalan pegunungan yang sempit.

Manfaat jaringan terowongan itu ternyata tidak berhenti pada pengurangan emisi. Seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, seperti longsor, banjir, dan longsoran salju, jalur transportasi di permukaan menjadi lebih rentan terganggu. Sebaliknya, terowongan yang berada jauh di bawah tanah tetap dapat beroperasi ketika kondisi di atas permukaan memburuk.

Kemampuan tersebut membuat sistem transportasi Swiss menjadi lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim. Distribusi barang maupun perjalanan penumpang tetap dapat berlangsung meski cuaca ekstrem melanda kawasan pegunungan.

Pemerintah Swiss juga berupaya meminimalkan dampak pembangunan terowongan terhadap alam. Material galian sebanyak mungkin diangkut menggunakan kereta, limbah konstruksi dan air bekas pengeboran diolah sebelum dialirkan ke sungai, serta habitat satwa dipulihkan setelah proyek selesai. Bantaran sungai direstorasi dan dinding batu tradisional dibangun kembali sebagai tempat hidup reptil serta hewan-hewan kecil.

Meski kebijakan pengalihan angkutan barang ke kereta masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan kapasitas jalur rel di negara tetangga, Swiss tetap mempertahankan strategi tersebut. Negara itu kini dianggap sebagai salah satu contoh terbaik bagaimana investasi infrastruktur jangka panjang dapat mengurangi emisi sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

(rns/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA