kingsheadwye.com

Terapi Pengelolaan Berat Badan & Lindungi Kesehatan Jantung Jadi Tema World Heart Day 2026

Senin, 28 September 2026 - 23:39 WIB

Jakarta, VIVA – Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di dunia, dan menyumbang hampir satu dari tiga kematian. Obesitas merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, dengan sekitar 17 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular secara global dikaitkan dengan obesitas.

Baca Juga

Sejalan dengan World Heart Day 2026 yang mengusung tema “Don’t Miss a Beat”, Novo Indonesia menggelar diskusi media bertajuk “World Heart Day: Beyond the Scale, Toward Better Heart Health”.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Untuk meningkatkan pemahaman mengenai hubungan obesitas dan risiko kardiovaskular serta pilihan dukungan medis, seperti konsultasi dokter dan terapi berbasis GLP-1 RA sesuai indikasi dan di bawah pengawasan dokter," kata Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, dr. Riyanny M. Tarliman dalam keterangannya, Senin, 28 September 2026.

Baca Juga

World Heart Day 2026, Novo Indonesia

Photo :

  • [Istimewa]

Dia menjelaskan, hubungan antara obesitas dan kesehatan jantung ternyata lebih kompleks dari sekadar angka pada timbangan. Obesitas dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Baca Juga

Di Indonesia, sebuah studi menemukan bahwa responden dengan obesitas memiliki probabilitas 85 persen lebih tinggi, untuk memiliki risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan. Karena itu, mengenali dan menangani obesitas sejak dini menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kesehatan jantung.

"World Heart Day menjadi momentum bagi kita untuk melihat kesehatan jantung secara lebih menyeluruh, termasuk memahami bagaimana obesitas dapat meningkatkan risiko kardiovaskular," kata Riyanny.

Dia menambahkan, obesitas perlu dipahami bukan sekadar persoalan berat badan atau pilihan pribadi, melainkan penyakit kronis yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari faktor biologis hingga lingkungan. Karena itu, obesitas membutuhkan penanganan yang tepat, komprehensif, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan setiap individu.

"Melalui momentum ini, kami ingin mendorong lebih banyak orang untuk memahami risikonya, tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan, dan mendapatkan pengelolaan yang tepat," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Senada, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K) mengatakan, obesitas tidak lagi sekadar persoalan kelebihan berat badan. 

"Pemahaman medis mengenai obesitas telah berkembang, dari sekadar faktor risiko menjadi penyakit kronis yang dapat berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah,” ujar Bobby.

Halaman Selanjutnya

Menurutnya, berbagai faktor yang menyertai obesitas, termasuk inflamasi kronis, dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dan berkontribusi terhadap aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Bila penumpukan plak terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah ke otot jantung akan berkurang sehingga berisiko menjadi penyakit jantung koroner.