Tiga tips menulis cerpen atau novel dari Hairul - ANTARA News Jawa Timur
Oleh Masuki M. Astro
Bondowoso (ANTARA) - Lupakan dulu kecerdasan artifisial alias AI yang menyediakan jalan dan cara cepat untuk menghasilkan satu karya, termasuk dalam dunia tulis menulis.
Mari kembali ke cara lama yang lebih jujur kepada diri. Keterampilan menulis, baik fiksi maupun non-fiksi, adalah proses panjang yang membutuhkan ketekunan dan stamina jiwa yang selalu terjaga.
Menulis menggunakan jasa AI tidak bisa dikategorikan salah, selama belum ada aturan terkait hal tersebut. Hanya saja, hasil karya tulis yang dibuat oleh AI akan kehilangan maknanya bagi satu proses hidup yang mempersyaratkan perjuangan. Penulis tidak layak bangga ketika hasilnya dikerjakan oleh mesin AI.
Kalaupun karya tulis yang dihasilkan oleh AI itu secara teknis bagus, maka yang berhak merayakan kebanggaan adalah AI, bukan "penulis" yang hanya numpang nama.
Dengan melupakan AI, sejenak, maka belajar menulis masih memiliki tempat dan ruang untuk ditekuni seseorang. Bagi mereka, khususnya anak-anak muda, yang memiliki impian menjadi penulis secara konvensional dan masih rela berproses mengasah pikiran dan rasa, tips dari Mohammad Hairul ini barangkali bisa membantu.
Mohammad Hairul adalah Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, yang juga instruktur nasional literasi-numerasi/baca-tulis.
Hairul menyampaikan tiga tips menulis cerpen atau novel itu pada acara bedah novel karyanya berjudul "Novel Bersampul Batik" di sekretariat Yayasan DAMPAK, Bondowoso, Sabtu (22/8) bersama dengan komunitas Diam, yakni mahasiswa dari Institut Agama Islam (IAI) At-Taqwa Bondowoso, Jawa Timur.
Ketiga tips itu adalah: (a) taruh seseorang di atas pohon, (b) lempar orang itu dengan batu, lalu (c) bantu orang itu turun dari pohon.
Poin pertama menunjukkan bagaimana seorang calon penulis menetapkan tokoh utama dengan segala deskripsi latar belakangnya. Poin kedua, buat tokoh tersebut memiliki masalah, sehingga mengalami goncangan hidup. Lalu, poin terakhir, bantu si tokoh itu menemukan jalan keluar atas masalah yang dihadapi alias resolusi.
Apakah setelah itu, kita langsung bisa menjadi penulis? Bisa jadi, meskipun secara kualitas tetap harus melewati proses. Latihan berulang, dan mungkin gagal adalah tahapan yang tidak boleh ditinggalkan oleh seseorang yang memulai belajar menulis.
Keterampilan menulis tidak berbeda dengan keterampilan fisik yang mengandalkan kekuatan otot. Otot harus sering dilatih secara kontinu agar terus kuat menahan beban, bahkan hingga yang lebih berat dari sebelumnya.
Demikian juga dengan menulis. Menulis memerlukan kekuatan otot pikiran dan rasa.
Hairul bercerita proses menulis novel yang bahan dasarnya sudah mengendap dalam memori batinnya sekian lama dan baru rampung ditulis, lalu diterbitkan pada 2026.
Bagi dia, ada beban tersendiri dalam upaya membukukan cerita dalam satu novel yang kini menjadi kajian penelitian mahasiswa magister Bahasa Indonesia dari perguruan tinggi di Surabaya dan Malang ini.
"Saya tidak ingin orang yang menempuh pendidikan tinggi di bidang sastra, karya yang dihasilkan sama saja dengan yang dihasilkan oleh mereka yang tidak berpendidikan tinggi di bidang sastra. Ini beban tersendiri bagi saya ketika menyelesaikan novel ini," kata alumni Pondok Pesantren An Nuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, yang kini sedang menempuh pendidikan S3 kajian sastra di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.
Novel itu mengisahkan jalinan cinta seorang ustaz bernama Mahiru dengan Aida, santri cantik dan cerdas yang harus tunduk pada kehendak keluarga yang berutang budi kepada keluarga kiai tempat dia menimba ilmu agama.
Cinta Aida dengan Mahiru kandas. Kalau mengutip tiga tips menulis cerpen atau novel di atas, Hairul telah menempatkan Mahiru dan Aida di atas pohon, kemudian melemparinya dengan batu, berupa masalah cinta yang tidak direstui keluarga Aida.
Dalam novel ini, Hairul tidak menyuguhkan resolusi nyata layaknya kisah-kisah dalam sinetron atau film-film India yang hampir selalu berakhir bahagia. Hairul menyuguhkan resolusi jiwa, yakni Aida berdamai dengan keadaan.
Dia menerima paksaan keluarga, menikah dengan Gus Haikal, keluarga dari kiai di pesantren tempatnya nyantri dan Mahiru mengajar. Untuk mengobati luka cintanya kepada Mahiru, Aida mengoleksi semua novel karya sang ustaz yang kemudian menjadi dosen itu dan menyampulnya dengan kain batik.
Bagaimana dengan Mahiru? Lelaki asal Madura itu juga memilih berdamai dengan keadaan dan tidak menikah.
Mahiru terus menulis. Mari, kita terus belajar menulis! Jangan menyerah pada keadaan, apalagi dengan lari pada penggunaan AI!
Malu kepada Mahiru dan kepada diri: "Kok menggadaikan otak yang merupakan anugerah terindah dari Tuhan kepada mesin buatan manusia". Apalagi bagi anak-anak muda.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.