kingsheadwye.com

Trump Siapkan "Bom" Baru, Dunia Tak Dibiarkan Tenang

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan tarif baru terhadap semikonduktor dan berbagai produk teknologi yang digunakan di dalam negeri. Kebijakan ini muncul saat perusahaan teknologi AS berlomba mempercepat pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi China.

Rencana tersebut tidak hanya menyasar chip. Tarif juga akan diperluas ke berbagai produk teknologi yang dibuat bersama komponen semikonduktor, termasuk laptop, server pusat data (data center), hingga perangkat keras gaming.

Delapan orang yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Politico, sebagaimana dilaporkan pada Kamis (27/8/2026), bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan kebijakan tersebut.

Pilihan Redaksi

  • Sikap Trump Berubah Drastis di Perang Iran, Ada Apa?
  • Malaysia Geger! Eks PM Ketahuan Timbun 16 Kg Emas & Uang Rp747 M
  • Update Banjir Bandang Nepal: Peringatan Baru, 2 Danau Terancam Jebol

Menurut laporan tersebut, rencana tarif masih berada dalam tahap awal dan kemungkinan mengalami perubahan signifikan dalam beberapa bulan mendatang. Penerapannya juga akan dilakukan secara bertahap melalui periode peluncuran yang dibuat berjenjang.

"Memindahkan kembali manufaktur semikonduktor ke dalam negeri merupakan prioritas utama Presiden Trump, yang kebijakannya telah mengamankan investasi senilai ratusan miliar dolar di sektor penting ini," kata Gedung Putih kepada Politico.

Rencana terbaru tersebut bukan kali pertama Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap industri semikonduktor.

Tahun lalu, Trump mengatakan dirinya berencana mengumumkan tarif baru terhadap semikonduktor dan chip. Namun, kebijakan tersebut tidak pernah benar-benar diberlakukan.

Pada saat itu, Trump juga menyatakan tarif yang akan dikenakan dapat mencapai "sekitar 100%" terhadap semikonduktor dan chip.

Meski demikian, Trump memberikan pengecualian bagi perusahaan yang membangun fasilitas manufaktur di AS. Perusahaan yang memproduksi chip secara domestik tidak akan dikenai pungutan tersebut.

Pada Januari lalu, pemerintahan Trump memang telah menerapkan tarif 25% terhadap sejumlah chip AI tertentu.

Sementara itu, tarif terhadap semikonduktor asal China yang saat ini berlaku sebenarnya telah diperkenalkan pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden.

Langkah terbaru Washington juga berlangsung ketika persaingan AS dan China dalam pengembangan AI makin sengit.

Perusahaan-perusahaan China dilaporkan masih dapat mengakses chip buatan Nvidia meskipun pemerintah AS telah memberlakukan pembatasan ekspor yang ketat terhadap teknologi tersebut.

Pengamat industri menilai akses terhadap kemampuan komputasi canggih melalui penyedia layanan cloud di luar negeri menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan model AI China terus meningkatkan kemampuannya.

Kondisi tersebut menciptakan celah dalam kebijakan pembatasan teknologi AS terhadap China.

Sejumlah rancangan undang-undang di AS kini tengah dibahas untuk menutup celah tersebut. Namun, para pakar sebelumnya mengatakan kepada CNBC bahwa masih terdapat sejumlah hambatan sebelum aturan tersebut benar-benar dapat memberikan dampak.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]