Undana Terapkan Manajemen Risiko untuk Perkuat Tata Kelola Kampus
Undana Terapkan Manajemen Risiko untuk Perkuat Tata Kelola Kampus
Minggu, 12 Juli 2026 18:34 WIB
Workshop dan pelatihan manajemen resiko di Undana. ANTARA/Ho-Undana
Risiko tidak dapat dihindari, tetapi wajib diminimalkan
Kupang (ANTARA) - Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang mulai menerapkan sistem manajemen risiko terintegrasi guna memperkuat tata kelola dan akuntabilitas pengelolaan anggaran serta mendukung transformasi menuju perguruan tinggi berkelas dunia.
Penerapan sistem tersebut ditandai dengan pembukaan Workshop dan Pelatihan Manajemen Risiko di Aula Prof. Agus Benu, Gedung Pascasarjana Lantai III Undana, Kupang, Rabu (8/7).
Kegiatan yang berlangsung hingga Sabtu (11/7) itu merupakan kerja sama Satuan Pengawas Internal (SPI) Undana dengan PT Hanriz Utama Indonesia.
Workshop mengusung tema "Membangun Budaya Manajemen Risiko: Evaluasi Maturitas Tata Kelola untuk Memperkuat Keberlanjutan Universitas Nusa Cendana Menuju World Class University."
Rektor Undana Prof. Jefri S. Bale, dalam keterangan yang diterima di Kupang, mengatakan pengelolaan perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa lebih dari 35 ribu orang dan anggaran sekitar Rp500 miliar memerlukan sistem manajemen risiko yang kuat.
"Risiko tidak dapat dihindari, tetapi wajib diminimalkan melalui pengukuran dan pengelolaan yang baik. Manajemen risiko harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap lembar keputusan di Undana. Kita harus mampu mengenali potensi masalah dan mengukur dampaknya sebelum berkembang menjadi krisis kelembagaan," katanya.
Menurut dia, terdapat lima kelompok risiko utama yang harus menjadi perhatian universitas, yakni risiko akademik, pelayanan mahasiswa, tata kelola keuangan, reputasi institusi, serta aspek hukum.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor II Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si., Wakil Rektor IV Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., Ketua SPI Undana Prof. Dr. Chaterina Agusta Paulus, M.Si., jajaran dekan, dosen, serta delegasi dari Universitas Timor (Unimor).
Baca juga: Riset Undana harus berdampak pada penyelesaian masalah daerah
Baca juga: Kemenko PM: Program Garuda upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan
Ketua SPI Undana Prof. Chaterina Agusta Paulus mengatakan hasil pelatihan tidak hanya berupa penyusunan risk register, tetapi juga komitmen seluruh pimpinan unit untuk menjadi risk owner yang bertanggung jawab mengidentifikasi dan mengendalikan risiko di lingkungan kerja masing-masing.
"Kami menginginkan setiap dekan dan kepala unit memiliki rencana mitigasi terhadap berbagai potensi risiko sehingga pengelolaan universitas lebih terukur dan berkelanjutan," ujarnya.
Ia menjelaskan sejak 2023 sebanyak 108 aparatur Undana telah mengikuti pelatihan manajemen risiko. Namun, sekitar 38 persen di antaranya belum mengikuti ujian sertifikasi profesi.
Melalui pendampingan PT Hanriz Utama Indonesia, peserta yang belum tersertifikasi ditargetkan mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikasi profesi di bidang manajemen risiko, seperti Certified Risk Associate (CRA) maupun Certified Risk Management Professional (CRMP).
Menurut Chaterina, penerapan manajemen risiko diharapkan mendorong perubahan pola pengelolaan organisasi dari pendekatan reaktif menjadi preventif, sehingga setiap potensi persoalan dapat diidentifikasi lebih dini sebelum berkembang menjadi krisis.
Penerapan sistem tersebut juga diharapkan memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan anggaran universitas, menjaga mutu layanan akademik, meningkatkan akuntabilitas, serta mendukung peningkatan kematangan tata kelola sebagai bagian dari upaya Undana menuju universitas berkelas dunia.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.