Utusan Khusus PBB peringatkan potensi konflik pasca serangan Houthi
Aden, Yaman (ANTARA) - Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg memperingatkan potensi konflik berskala besar di tengah serangan yang dilancarkan kelompok Houthi terhadap kapal tanker milik Arab Saudi dan tentara pemerintah Yaman.
Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (7/8) waktu setempat, Grundberg menyoroti serangan terbaru Houthi di provinsi Marib dan Hadramout, yang dilaporkan menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk warga sipil, serta "serangan terhadap kapal komersial" di Laut Merah dan Teluk Aden.
Dia menyatakan keprihatinan atas serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk bandara, serta meningkatnya ketegangan regional.
"Secara keseluruhan, perkembangan-perkembangan tersebut berisiko merusak pencapaian gencatan senjata 2022," ujar Grundberg, seraya memperingatkan bahwa situasi tersebut dapat menyeret Yaman ke dalam "konfrontasi regional yang lebih luas."
Grundberg menambahkan dirinya telah melakukan diskusi intensif dalam beberapa pekan terakhir dengan pihak-pihak di Yaman, para aktor regional, dan mitra-mitra internasional untuk menjajaki opsi deeskalasi.
Dia menyerukan kepada semua pihak untuk "menahan diri sepenuhnya," menghentikan tindakan yang dapat memicu pembalasan militer, serta melakukan perundingan dengan iktikad baik di bawah naungan PBB.
Yaman telah dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah di Yaman utara, termasuk ibu kota Sanaa, yang memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Gencatan senjata yang dimediasi PBB mulai berlaku pada April 2022 dan berakhir pada Oktober tahun yang sama tanpa perpanjangan resmi, namun gencatan senjata de facto yang rapuh sebagian besar tetap berlaku sejak saat itu.
Kelompok Houthi mengumumkan larangan maritim terhadap pelayaran Saudi pada Juli, sebagai balasan terhadap apa yang mereka sebut sebagai blokade Saudi di wilayah yang dikuasai Houthi. Klaim tersebut ditolak keras oleh Riyadh.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Gilang Galiartha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.