Wamen P2MI dukung UMP kembangkan Rekognisi Pembelajaran Lampau
Wamen P2MI dukung UMP kembangkan Rekognisi Pembelajaran Lampau
Jumat, 31 Juli 2026 23:18 WIB
Dari kiri ke kanan: Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah Prof Aisyah Endah Palupi, Rektor UMP Prof Jebul Suroso, dan Wamen P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla memberi keterangan pers usai Sidang Senat Terbuka dalam Rangka Milad Ke-61 UMP di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (31/7/2026) siang. ANTARA/Sumarwoto
Purwokerto (ANTARA) - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla mendukung Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Jawa Tengah, mengembangkan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing pekerja migran.
Ditemui setelah menghadiri Sidang Senat Terbuka dalam rangka Milad Ke-61 UMP di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP, Kabupaten Banyumas, Jumat, Dzulfikar mengatakan RPL dapat menjadi sarana memberikan pengakuan atas pengalaman dan pembelajaran yang telah diperoleh calon maupun pekerja migran sebelum menempuh pendidikan formal di perguruan tinggi.
"Ini kita sambut positif. Apalagi Bapak Presiden Prabowo Subianto sedang serius dengan program direktif beliau SMK Go Global," katanya.
Menurut dia, perguruan tinggi tersebut dapat menjadi salah satu lokus untuk menyiapkan calon pekerja migran yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja internasional, termasuk kemampuan bahasa negara tujuan.
"Kita harap perguruan tinggi ini menjadi salah satu lokus kita untuk menyiapkan para pekerja-pekerja, calon-calon pekerja migran yang handal. Bukan saja pada penyiapan kompetensi dasarnya, tapi juga sampai kepada penyiapan kelas-kelas bahasanya," katanya.
Dzulfikar menilai pengalaman perguruan tinggi tersebut selama 61 tahun dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi menjadi modal penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia pekerja migran.
Ia mengharapkan pengembangan RPL tersebut juga memperkuat reputasi perguruan tinggi tersebut di tingkat internasional sehingga mampu berkembang menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.
"Di usia 61 tahun UMP ini, reputasi dalam hal penyiapan peserta didik itu menjadi satu modal penting untuk ikut. Dan kita berharap muara akhirnya UMP ini menjadi World Class University," katanya.
Sementara itu, Rektor UMP Prof Jebul Suroso mengatakan perguruan tinggi tersebut segera membuka pembelajaran melalui skema RPL dengan sasaran mahasiswa dari berbagai negara.
"Insyaallah, 45 negara mahasiswa dan kita akan segera buka untuk pembelajaran RPL, Rekognisi Pembelajaran Lampau, dengan mahasiswa dari internasional," katanya.
Menurut dia, perguruan tinggi tersebut saat ini memiliki mahasiswa dari sekitar 45 negara sehingga pengembangan RPL menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan sekaligus memperkuat internasionalisasi kampus.
Ia mengharapkan RPL tidak hanya menyasar keluarga pekerja migran yang berada di Indonesia, juga warga Indonesia yang bekerja di luar negeri agar pengalaman dan pembelajaran mereka dapat diakui untuk melanjutkan pendidikan.
Jebul mengatakan konsep tersebut sebagai bagian dari pengembangan "smart edu" yang memungkinkan masyarakat mendapatkan layanan pendidikan dari mana pun dan kapan pun.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah Prof Aisyah Endah Palupi mengatakan RPL dapat mempermudah masyarakat memperoleh pengakuan atas pengalaman dan pembelajaran yang telah diperoleh sebelum menempuh pendidikan tinggi.
Aisyah mengharapkan pengembangan RPL dan inovasi pendidikan perguruan tinggi tersebut dapat menghasilkan lulusan yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.