Wamenkes jadikan penanganan stunting di Gianyar Bali rujukan nasional
Gianyar, Bali (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menjadikan upaya penanganan stunting di Kabupaten Gianyar, Bali sebagai salah satu rujukan nasional yang bisa diterapkan daerah lain di Indonesia.
”Kami ingin melihat secara langsung kiat-kiat yang dilakukan Kabupaten Gianyar sehingga angka-angka tersebut dapat ditekan,” kata Wamenkes di sela-sela meninjau Posyandu Banjar Jukut Paku di Desa Singakerta, Kabupaten Gianyar, Bali, Rabu.
Selain menengok upaya pemerintah daerah menurunkan angka stunting, kunjungan Wamenkes juga untuk mencermati rendahnya angka kematian ibu dan anak.
Menurut dia, Bali secara keseluruhan merupakan salah satu daerah dengan prevalensi stunting yang rendah, sehingga berbagai strategi yang diterapkan di Gianyar perlu dipelajari lebih lanjut.
Selain soal stunting, ia juga menginginkan Gianyar menjadi daerah percontohan dalam percepatan eliminasi tuberkulosis (TB).
Baca juga: Wamenkes: Puskesmas ramah ibu-anak bantu cegah kematian ibu dan bayi
“Cara kerja yang sudah sangat baik di Kabupaten Gianyar ini akan kami dorong dan proyeksikan menjadi kabupaten pertama yang bebas TB,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar Ni Nyoman Ariyuni menyebutkan capaian kesehatan di Gianyar terus menunjukkan perkembangan positif melalui penguatan layanan dari tingkat masyarakat hingga fasilitas kesehatan.
“Prevalensi stunting terus menurun hingga mencapai 3,8 persen pada 2025,” ucapnya.
Beberapa intervensi dilakukan di antaranya menerjunkan tim ahli ke sejumlah desa sasaran untuk mempercepat penurunan balita tengkes atau stunting yaitu dokter spesialis anak, psikolog dan nutrisionis dari rumah sakit pemerintah dan swasta.
Fokusnya, lanjut dia, adalah memantau tumbuh kembang, edukasi gizi, peningkatan pola asuh, serta penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam pencegahan stunting sejak dini.
Baca juga: Pemerintah lakukan skrining TB di 53.335 lokasi seluruh Indonesia
“Di sisi lain, kami juga memperkuat layanan ibu dan anak serta percepatan eliminasi TB melalui Posyandu ILP, pemeriksaan USG oleh dokter puskesmas, dan menelusuri TB yang terintegrasi dengan cek kesehatan gratis,” ucap Ariyuni.
Senada dengan Ariyuni, Asisten Administrasi Umum Setda Gianyar I Ketut Pasek Lanang Sadia yang mewakili Bupati Gianyar menambahkan sektor kesehatan sebagai salah satu pilar utama pembangunan daerah.
Ia menekankan percepatan penurunan stunting, penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta upaya eliminasi TB tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat dan berbasis pada penguatan layanan primer di posyandu dan puskesmas.
Sementara itu, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Kabupaten Gianyar turun dari 6,3 persen pada 2022 menjadi 5,4 persen pada 2024, sekaligus menjadikan daerah itu dengan angka stunting paling rendah kedua di Indonesia setelah Kabupaten Klungkung, Bali sebagai terendah posisi pertama.
Tren positif itu berlanjut pada 2025, dengan prevalensi balita terindikasi stunting sebesar 3,8 persen atau 991 balita dari total 25.896 balita yang menjalani pemeriksaan kesehatan di Gianyar.
Baca juga: Mendukbangga dorong keterlibatan laki-laki ber-KB untuk cegah stunting
Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.