WWF nilai pasar domestik RI strategis bagi sawit berkelanjutan - ANTARA News Jambi
Jakarta (ANTARA) - Organisasi konservasi World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia menilai besarnya pasar minyak sawit domestik dapat menjadi pengungkit permintaan terhadap produk sawit berkelanjutan di Indonesia.
Sustainable Commodities Lead WWF Indonesia Angga Prathama Putra mengatakan penguatan pasar domestik menjadi salah satu bagian strategi transformasi pasar, di samping penguatan produsen di sisi hulu dan pengembangan pasar global.
“Pasar domestik juga penting,” kata Angga dalam Regional Learning Forum on Sustainable Commodities di Jakarta, Jumat.
Paparan data WWF menempatkan Indonesia sebagai produsen dan konsumen minyak sawit terbesar dunia. WWF juga memasukkan pengembangan pasar domestik bagi produk komoditas berkelanjutan sebagai salah satu arah penguatan keberlanjutan.
Besarnya basis pasar tersebut terlihat dari konsumsi dalam negeri. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan konsumsi domestik sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 12,99 juta ton, naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 12,27 juta ton.
Pada Juni 2026 saja, konsumsi domestik mencapai 2,20 juta ton. Biodiesel menjadi pengguna terbesar dengan 1,13 juta ton, disusul sektor pangan 878 ribu ton dan oleokimia 192 ribu ton.
Peran pasar domestik juga semakin besar seiring penerapan mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut program tersebut meningkatkan serapan minyak sawit mentah (CPO) sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya domestik untuk ketahanan energi.
Angga mengatakan strategi transformasi pasar WWF tidak berhenti di dalam negeri. India, China, dan Jepang juga menjadi pasar yang ingin dikembangkan, sementara penguatan di sisi hulu dilakukan agar produsen, termasuk pekebun, semakin siap memenuhi kebutuhan pasar.
Baca juga: Pangsa Pasar Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat Berpotensi Mencapai 40%
Baca juga: Kemenko Pangan prioritaskan penguatan hulu sawit berkelanjutan
Menurut WWF, besarnya konsumsi domestik memberikan ruang untuk memperluas penerapan prinsip keberlanjutan di antara perusahaan, pengguna komoditas, dan sektor ritel Indonesia.
Kajian WWF Indonesia bersama Accenture yang dirilis pada Mei 2026 menunjukkan sektor ritel dan pengguna komoditas di Indonesia memiliki peluang yang semakin besar untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam rantai pasok, termasuk untuk komoditas kelapa sawit.
Kajian tersebut menjadi landasan organisasi untuk memperkuat pelibatan sektor swasta, kolaborasi multipihak, serta mempercepat adopsi praktik komoditas berkelanjutan di pasar domestik.
Namun, Angga menekankan pengembangan pasar harus berjalan bersamaan dengan kesiapan rantai pasok dan produsen di hulu.
WWF mencatat tantangan produksi berkelanjutan antara lain registrasi lahan yang belum lengkap, produktivitas pekebun yang rendah, keterbatasan pembiayaan, lemahnya ketertelusuran, dan keterbatasan sistem digital.
“Transparansi rantai pasok adalah kata kunci untuk transformasi pasar,” ujar Angga.
Paparan WWF turut menempatkan ketertelusuran dan sumber bahan baku berkelanjutan, sertifikasi yang kredibel, insentif bagi pekebun untuk mengimbangi biaya sertifikasi, pembiayaan konservasi, serta pengembangan pasar domestik dalam satu kerangka penguatan komoditas berkelanjutan.
Pada April 2026, Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan WWF Indonesia juga berkolaborasi dalam transformasi tata kelola sawit yang menekankan penerapan praktik pertanian yang baik dan prinsip keberlanjutan, termasuk penguatan pendampingan bagi pekebun swadaya.
Angga menilai transformasi tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak karena membutuhkan keterlibatan pekebun, pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan menempatkan penguatan tata kelola yang inklusif, transparan, dan akuntabel sebagai bagian penting untuk menjaga daya saing sawit sekaligus memastikan kesejahteraan pekebun dan ketahanan pangan nasional.
Pemerintah antara lain memfokuskan transformasi pada optimalisasi lahan yang ada, penguatan pekebun swadaya, serta penerapan standar keberlanjutan.
Kemenko Pangan mencatat Indonesia menyumbang sekitar 58 persen produksi minyak sawit global dengan volume 46–51,6 juta ton CPO pada 2024–2025.
Baca juga: PalmCo: Penguatan kelembagaan petani pacu budidaya sawit berkelanjutan
Baca juga: Kemenko Pangan-WWF Indonesia dorong transformasi sawit berkelanjutan
Baca juga: Kementan perkuat ISPO demi industrialisasi sawit berkelanjutan
Pewarta: Aria Ananda
Uploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.