kingsheadwye.com

47 ribu warga Makassar di enam kecamatan terdampak kekeringan

Bencana kekeringan mulai memberi tekanan terhadap kebutuhan air bersih dan ada puluhan ribu warga Kota Makassar yang terdampak karena kesulitan mendapatkan air bersih

Makassar (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar mencatat lebih dari 47 ribu warga di enam kecamatan terdampak kekeringan akibat kemarau yang berkepanjangan.

Kepala Pelaksana BPBD Makassar Fadli Tahar di Makassar, Kamis, mengatakan bencana kekeringan mulai memberi tekanan terhadap kebutuhan air bersih dan ada puluhan ribu warga Kota Makassar yang terdampak karena kesulitan mendapatkan air bersih.

"Data BPBD Kota Makassar per 5 Agustus 2026 mencatat 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga terdampak kekeringan. Kondisi itu tersebar di enam kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala," ujarnya.

Di Kecamatan Biringkanaya mencatat jumlah jiwa terdampak terbesar sebanyak 14.787 jiwa, disusul Tallo 10.672 jiwa, Tamalanrea 9.947 jiwa, Manggala 7.601 jiwa, Ujung Tanah 2.921 jiwa dan Panakkukang 1.324 jiwa.

Baca juga: ITB: El Nino 2026-2027, picu kekeringan dan munculkan peluang ekonomi

Rencana operasi penanganan kekeringan itu difokuskan pada penempatan tandon air, distribusi air bersih kepada masyarakat, serta penguatan kolaborasi lintas sektor, termasuk pelayanan kesehatan dan pencegahan potensi kebakaran akibat kondisi kekeringan.

“Setelah status tanggap darurat ditetapkan, yang kita butuhkan adalah aksi. Kita petakan siapa bisa membantu apa, berapa kapasitasnya, di wilayah mana dibutuhkan, dan seberapa cepat dapat digerakkan. Target kita sederhana, masyarakat yang membutuhkan air harus mendapatkan air,” katanya.

Dalam penanganan awal, BPBD mencatat distribusi tandon telah dilakukan sebanyak 17 unit di Kecamatan Ujung Tanah, 8 unit di Biringkanaya dan 10 unit di Tallo.

Pemerintah Kota Makassar juga mendorong seluruh stakeholder untuk mengoptimalkan modalitas yang dimiliki, mulai dari mobil tangki air, sumber air baku, tandon, armada distribusi, personel, tenaga kesehatan, dukungan operasional hingga kebutuhan logistik lainnya.

Baca juga: BI: Ekonomi Banyumas Raya tumbuh di tengah risiko kekeringan

Selain memastikan ketersediaan air bersih, operasi tanggap darurat diarahkan untuk mencegah risiko kesehatan akibat krisis air serta memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas.

“Rakor ini bukan sekadar menyatukan data, tetapi menyatukan kekuatan. Setelah ini semua harus bergerak. Pemerintah, TNI/Polri, dunia usaha, komunitas dan seluruh stakeholder bersama-sama hadir untuk masyarakat,” tegas Kepala Pelaksana BPBD.

Selama masa tanggap darurat, BPBD Kota Makassar akan terus melakukan pemutakhiran data dan asesmen kebutuhan sehingga distribusi air bersih maupun bantuan lainnya dapat dilakukan secara cepat, terukur dan tepat sasaran.

Baca juga: Kekeringan landa Gyeongsang Selatan di Korsel, 200 truk air dikerahkan

Pewarta: Muh. Hasanuddin
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.