7 Contoh Puisi 17 Agustus yang Penuh Makna, Bangkitkan Nasionalisme
CNN Indonesia
Jumat, 07 Agu 2026 09:05 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia kerap diisi dengan penampilan membaca puisi. Kalau kamu tengah mencari referensi puisi yang cocok untuk dibawakan di peringatan HUT RI ini, berikut kumpulan contoh puisi 17 Agustus yang bisa meningkatkan nasionalisme.
Pada Senin, 17 Agustus 2026, rakyat Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ke-81 kemerdekaan ini mengusung tema Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rakyat Indonesia biasanya memiliki banyak cara untuk merayakan hari kemerdekaan, salah satunya adalah dengan membaca puisi yang memiliki tema kemerdekaan.
Kumpulan puisi 17 Agustus yang penuh makna
Berikut kumpulan contoh puisi yang cocok untuk ditampilkan di peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus.
1. Atas Kemerdekaan (Karya Sapardi Djoko Damono)
Kita berkata: jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
Di atasnya: langit dan badai tak henti-henti
Di tepinya cakrawala
Terjerat juga akhirnya
Kita, kemudian adalah sibuk
Mengusut rahasia angka-angka
Sebelum Hari yang ketujuh tiba
Sebelum kita ciptakan pula Firdaus
Dari segenap mimpi kita
Sementara seekor ular melilit pohon itu:
Inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah
Keteguhan Sang Garuda (Karya Chairil Anwar)
Kau terlahir dari sebuah gagasan
Prinsip yang telah menjadikanmu sebagai lambang
Bersumber dari perjuangan seluruh rakyat
Berembuskan napas kemerdekaan
Di tubuhmu terukir simbol yang penuh makna
Terdiri atas banyaknya harapan
Tersisip akan impian
Hingga menjadikanmu gagah dan mulia
Sorot pandangmu yang tajam
Tubuh yang tegap dan tegar
Mencerminkan rakyat negerimu
Serta kuatnya semangat yang menopangnya
2. Diponegoro (Karya Chairil Anwar)
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
3. Merah Putih untuk Pertiwi (Karya Alfin Nihayatul Islamiyah)
Guratan tinta emas dalam kertas bekas
Memori masa kelam terlintas
Dalam balutan darah yang masih menggenang
Melaju melewati masa menjadi kenangan
Maksud terbuai dalam hati yang luluh
Kisa puluhan tahun yang beradu dalam peluh
Kelu; rasanya hati berdayuh-dayuh
Kertas bekas waktu menjadi rapuh
Merdeka! Diiringi Indonesia raya yang menggema
Air mata yang siap meluncur kapan saja
Penantian di penghujung usia
Akhir kata yang menjadi lega seluruh warga bumiputera
4. Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini (Karya Taufiq Ismail)
Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
"Duli Tuanku?"
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
5. Pahlawan Tak Dikenal (Karya Toto Sudarto Bachtiar)
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda.
6. Merah Putih Tak Pernah Pudar
Merah putih berkibar megah,
Menyapa langit penuh berkah.
Di balik warnanya tersimpan cerita,
Tentang perjuangan para pahlawan bangsa.
Kemerdekaan bukan sekadar sejarah,
Melainkan amanah yang harus dijaga.
Dengan kerja keras dan cinta tanah air,
Indonesia akan terus berdiri tegak.
7. Indonesia Rumah Kita
Di tanah ini aku dilahirkan,
Dengan ribuan budaya yang menawan.
Berbeda bahasa, suku, dan keyakinan,
Namun tetap satu dalam persatuan.
Mari rawat negeri tercinta,
Dengan saling menghargai sesama.
Karena Indonesia akan semakin kuat,
Jika seluruh rakyatnya tetap bersatu.
Demikian adalah kumpulan contoh puisi 17 Agustus yang penuh makna untuk meningkatkan nasionalisme. Semoga bermanfaat.
(sac/fef)
[Gambas:Video CNN]