ADB-KfW Jerman Mau Biayai Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik RI
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) membeberkan bahwa lembaga keuangan multilateral dunia seperti Asian Development Bank (ADB) hingga KfW Development Bank dari Jerman diklaim berminat membiayai proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Indonesia.
ADB dan KfW sendiri tercatat masuk dalam jajaran 34 lembaga keuangan nasional dan internasional yang resmi bergabung dalam lenders panel yang dibentuk oleh Denera untuk mendukung pendanaan PSEL.
CFO Denera Ramadan Harahap mengungkapkan total kebutuhan pembiayaan proyek PSEL Tahap 2 untuk delapan kota diperkirakan mencapai US$ 1 miliar setara Rp 18,03 triliun (asumsi kurs Rp 18.039 per US$). Namun, proyeksi komitmen pendanaan yang masuk dari sektor perbankan menembus lebih dari US$ 4 miliar setara Rp 72,17 triliun atau mengalami potensi lebih hingga 3,6 kali lipat.
"Indikasi awal yang kita terima ini sangat-sangat baik. Kita total pembiayaan itu kurang lebih US$ 1 billion untuk di 8 kota. Kita saat ini menerima lebih dari US$ 4 billion atau 3,6 kali oversubscribed. Ini menunjukkan bahwa bank-bank ini sangat mendukung project-project PSEL," ujar Ramadan dalam acara Media Briefing Denera, di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Dia menjelaskan bahwa bank-bank internasional dan lembaga keuangan pembiayaan pembangunan (Development Financial Institution) tidak lagi memandang PSEL sebagai proyek energi komersial semata. Para investor dinilai saat ini melihat proyek PSEL sebagai investasi infrastruktur sosial untuk mengatasi krisis lingkungan dan sampah.
Jajaran 34 lembaga keuangan tersebut terbagi ke dalam empat kelompok utama, yaitu 13 bank internasional global spesialis project finance, Multilateral Development Bank/DFI seperti ADB, AIIB, IsDB, KfW, AIIF, SMI. Adapun, bank-bank Himbara, serta bank komersial nasional turut gabung dalam skema tersebut.
Fasilitas pinjaman yang ditawarkan pun tergolong jangka panjang dengan tenor hingga 23 tahun.
"Jadi kita ketahui bahwa proyek PSEL ini merupakan satu proyek strategis nasional yang juga biayanya juga cukup tinggi dan kita memerlukan dukungan pembiayaan agar sukses project-project kita ke depan," tambahnya.
Sementara itu, CEO Denera Fadli Rahman menambahkan bahwa dukungan pendanaan tersebut dialokasikan untuk menggarap delapan lokasi PSEL Tahap 2, meliputi Medan Raya, Kabupaten Bekasi, Lampung, Serang, Semarang, Surabaya, Bogor Raya 2, dan Yogyakarta Raya.
"Dan ini merupakan suatu milestones yang cukup signifikan, yang mungkin sama-sama bisa bisa kita banggakan," ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Secara keseluruhan, proyek PSEL Indonesia saat ini mencakup 17 lokasi di 33 kabupaten/kota. Skala pengembangan secara simultan ini menjadikan program waste-to-energy di Indonesia sebagai yang terbesar di dunia.
Kemudahan investasi proyek ini juga ditopang oleh skema one stop service bersama Danantara dan Denera. Lewat skema tersebut, perizinan Amdal, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), penyediaan lahan, hingga Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) dengan PT PLN (Persero) difasilitasi langsung oleh pemerintah.
"Investor atau mitra kita yang terpilih, kita gandeng dan kita yang menyelesaikan masalah perizinan. Risiko-risiko investasi seperti lahan sudah diselesaikan oleh pemerintah. Risiko investasi seperti permit, PPA, itu sudah dibereskan oleh Danantara dan Denera," tandasnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]