Alasan Teater Koma Tampilkan Lakon Rumah Sakit Jiwa Lagi, 35 Tahun Sejak Pertama Dipentaskan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293418/original/035363700_1783702829-IMG-20260710-WA0072.jpg)
Perbesar
Jadi intinya...
- Teater Koma mementaskan kembali "Rumah Sakit Jiwa" berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.
- Naskah "Rumah Sakit Jiwa" semakin relevan dengan kondisi psikis manusia di era digital dan AI.
- Tantangan pementasan meliputi penyatuan energi pemain lintas generasi dan pendalaman karakter.
Liputan6.com, Jakarta - Setelah tiga setengah dekade pertama kali dipentaskan, Rumah Sakit Jiwa, salah satu karya penting Teater Koma, kembali hadir melalui kolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.
Jelang pementasannya, Teater Koma menghelat konferensi pers di Bale Nusa, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Dalam kesempatan ini, Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, menjelaskan bahwa dipentaskannya kembali Rumah Sakit Jiwa bukan sekadar menghadirkan karya lama, tetapi juga memperkenalkan cerita yang masih memiliki relevansi dengan kondisi masyarakat saat ini.
"Untuk menjadikan sajian hiburan bukan hanya mengenai karya-karya baru aja, tetapi justru cerita-cerita lama yang punya artistik yang kuat, cerita yang kuat, pesan moral atau relevansi sosial yang masih aktual sampai sekarang," ujarnya
Sutradara Rangga Riantiarno juga menilai naskah Rumah Sakit Jiwa justru semakin relevan jika dibandingkan saat pertama kali dipentaskan pada 1991.
"Sangat menarik karena kontrasnya dari tahun 1991 dan 2026. Dulu belum ada internet, tapi isi naskah ini bagaimana serangan-serangan dari dunia mempengaruhi keadaan psikis manusia. Sekarang dengan begitu banyaknya di dunia maya, di dunia nyata sudah ada AI, orang bertanya-tanya yang nyata mana. Bukannya itu makin memperparah kondisi kita, ya?" tutur Rangga.
Teater Menjadi Ruang Belajar
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/9293500/original/086412600_1783729061-TK_RSJ_0-4.jpg)
Perbesar
Pada kesempatan itu juga, Billy mengatakan bahwa menonton teater bukan sekadar menikmati sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempelajari beragam aspek budaya Indonesia.
“Melalui teater, satu kali pertunjukkan ada banyak banget yang bisa dipelajari. Budaya, tradisi, seni Indonesia, semuanya ada di situ. Baik dari kostum, aransemen musik, bahkan sampai kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang mungkin dialami itu diadaptasi oleh para pemain di atas panggung teater,” ujarnya.
Tantangan Satukan Energi Pemain Senior dan Pemain Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293412/original/074308700_1783701830-IMG-20260710-WA0066.jpg)
Perbesar
Rangga Riantiarno mengungkapkan menyatukan energi para pemain lintas generasi menjadi salah satu tantangan dalam pementasan Rumah Sakit Jiwa. Menurutnya, pemain muda didorong untuk lebih berani mendalami karakter. "Kurang gila nih, masih kelihatan waras nih, masih mikir," ujarnya.
Meski begitu, ia menyebut para pemain senior tetap menjadi panutan dan terbuka berbagi pengalaman dengan generasi baru.
Rumah Sakit Jiwa berkisah tentang Rogusta, seorang dokter baru di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang penuh persahabatan mampu membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta mulai menerapkan metode yang perlahan mengubah kehidupan di rumah sakit tersebut.
Namun, perubahan itu justru memicu konflik dengan sistem yang telah lama berjalan dan mereka yang merasa posisinya terancam. Melalui kisah tersebut, Teater Koma menghadirkan refleksi mengenai upaya seseorang untuk mengubah sistem yang telah mengakar, sekaligus mengajak penonton mempertanyakan, apakah benar bahwa dunia sedang berubah menjadi sebuah ‘rumah sakit jiwa’.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Mpok Atiek Bangga Cucunya Lulus dari UI, Kenang Momen Haru Jelang Sidang Skripsi