kingsheadwye.com

Bank Saqu Bidik 4 Sektor Bisnis Ini untuk Perkuat Ekosistem Solopreneur Society 2026

Keempat sektor tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Saqu mempertemukan para pelaku usaha dengan pengetahuan industri, koneksi yang relevan, peluang bisnis, hingga solusi finansial.

Relationship Banking Director Bank Saqu, Hendrik Komandangi, mengatakan kebutuhan solopreneur saat ini tidak lagi berhenti pada pengetahuan dasar untuk membangun bisnis.

“Selain pengetahuan dan pondasi bisnis yang kuat, mereka membutuhkan akses terhadap jaringan, peluang pasar, dan dukungan finansial yang sesuai dengan tahapan bisnisnya,” ujar Hendrik dalam konferensi pers Kick Off Bank Saqu Solopreneur Society 2026 di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Bank Saqu Bidik Coffeepreneur, F&B, MICE, dan Bisnis AI

Empat sektor tersebut menjadi fokus industry insights dalam Solopreneur Society 2026.

Pertama adalah coffeepreneur, sektor yang memiliki rantai bisnis cukup luas. Bisnis kopi tidak hanya berkaitan dengan kedai atau produk minuman, tetapi juga dapat melibatkan supplier, peralatan, edukasi, teknologi, komunitas, hingga konsumen.

CEO Otten Coffee, Jhoni Kusno, melihat bisnis kopi sebagai sebuah ekosistem yang membutuhkan dukungan dari berbagai sisi.

“Di Otten Coffee, kami membangun ekosistem yang mendukung coffeepreneurs melalui produk, pengetahuan, dan komunitas,” kata Jhoni.

Otten Coffee sendiri menjadi salah satu strategic partner dalam program Solopreneur Society 2026. Kolaborasi tersebut mempertemukan ekosistem coffeepreneur dengan jaringan serta solusi finansial yang dibawa Bank Saqu.

“Kami melihat visi yang sejalan dengan Bank Saqu dalam membantu pelaku usaha untuk terus berkembang,” ujar Jhoni.

Sektor kedua adalah F&B. Karakter bisnis F&B membuat pelaku usaha berhadapan dengan berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku, produksi, pemasaran, distribusi, pengelolaan pelanggan, hingga efisiensi operasional.

Bagi solopreneur, persoalan tersebut dapat menjadi semakin kompleks ketika bisnis mulai berkembang. Founder yang awalnya mengurus hampir seluruh proses bisnis sendiri pada akhirnya perlu membangun sistem dan tim agar usaha dapat berjalan secara lebih terstruktur.

Sektor ketiga adalah MICE. Industri ini memiliki karakter yang sangat bergantung pada kolaborasi lintas pihak. Sebuah kegiatan MICE dapat melibatkan event organizer, venue, vendor, pekerja kreatif, katering, teknologi, sponsor, hingga brand.

Karakter tersebut membuat networking menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku usaha di sektor MICE. Koneksi yang tepat tidak hanya dapat menjadi relasi, tetapi juga berpotensi menghasilkan proyek dan peluang bisnis baru.

Sektor keempat adalah bisnis berbasis AI. Perkembangan artificial intelligence membuka ruang bagi munculnya berbagai model bisnis baru, termasuk layanan otomasi, creative technology, produksi konten, hingga solusi yang membantu perusahaan meningkatkan produktivitas.

Bagi solopreneur di sektor ini, pengetahuan mengenai teknologi saja belum tentu cukup. Mereka juga membutuhkan akses terhadap founder lain, calon pengguna, partner, serta perspektif dari industri berbeda.

Baca Juga: Tokopedia dan TikTok Shop Rayakan Pelaku Usaha F&B Lokal Lewat NYAM Awards 2026, Dorong Pertumbuhan Bisnis Lewat #BeliLokal

Baca Juga: Hermina dan Yayasan Astra-YDBA Perkuat Produktivitas Pelaku Usaha Lewat Edukasi Kesehatan Kerja

Mengapa Empat Sektor Ini Dipilih?

Pemilihan empat sektor tersebut tidak terlepas dari pembelajaran Bank Saqu selama menjalankan program solopreneur dalam dua tahun sebelumnya.

Pada 2024, program yang masih bernama Solopreneur Academy berfokus pada sektor F&B, fashion, dan beauty care. Sementara pada 2025, fokus diperluas ke industri kreatif, content creator, serta art and craft.

Bank Saqu kemudian melihat kebutuhan peserta berkembang. Founder tidak hanya membutuhkan ruang untuk mendapatkan pengetahuan dan exposure, tetapi juga membutuhkan kesempatan untuk bertemu dengan orang yang tepat.

“Jadi, kita seperti tahun-tahun sebelumnya kita juga sudah reach out lebih dari seribu potensi founder-founder untuk bisa hadir,” kata Hendrik.

Sejak 2024, program tersebut telah menjangkau lebih dari 1.000 solopreneur dari berbagai industri. Namun, pada 2026 Bank Saqu tidak semata-mata mengejar jumlah peserta.

Pendekatannya mulai bergeser pada relevansi koneksi.

Artinya, semakin jelas kebutuhan bisnis yang dibawa seorang founder, semakin besar peluang untuk mempertemukannya dengan pihak yang dapat memberikan nilai tambah.

Pendekatan ini menjadi penting karena kebutuhan seorang coffeepreneur belum tentu sama dengan pemilik bisnis AI. Begitu pula kebutuhan pelaku MICE dapat berbeda dengan pengusaha F&B.

Dengan mengelompokkan industry insights berdasarkan sektor, diskusi yang muncul dapat menjadi lebih spesifik.

Solopreneur Society Bukan Sekadar Komunitas

Perubahan dari Solopreneur Academy menjadi Solopreneur Society: The Founders Club juga menunjukkan perubahan pendekatan Bank Saqu.

Academy sebelumnya lebih menekankan aspek pembelajaran dan exposure. Society membawa cakupan yang lebih luas dengan menggabungkan industry insights, networking, dan business matchmaking.

Hendrik mengatakan perubahan tersebut dilakukan karena kebutuhan founder ikut berkembang.

Dalam konsep Society, founder tidak hanya datang untuk mendengarkan materi. Mereka juga mendapatkan ruang untuk bertemu pelaku usaha lain dan mencari peluang kolaborasi.

Konsep tersebut membuat Solopreneur Society lebih menyerupai sebuah growth ecosystem dibandingkan komunitas bisnis biasa.

Ekosistem tersebut mempertemukan founder, brand owner, supplier, strategic partner, hingga ecosystem buyer.

Business Matchmaking Jadi Bagian Penting

Salah satu elemen yang membedakan pendekatan tersebut adalah business matchmaking.

Networking pada umumnya membuat peserta bertemu dengan banyak orang. Namun, banyaknya koneksi tidak selalu berarti koneksi tersebut relevan dengan kebutuhan bisnis.

Bank Saqu mencoba mengatasi persoalan tersebut melalui matchmaking yang dikurasi.

Pertemuan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kecocokan antaraktor. Dengan demikian, tujuan akhirnya bukan sekadar bertambahnya kontak, tetapi terciptanya peluang kolaborasi, akses pasar, atau proyek bisnis.

Sebagai ilustrasi, seorang coffeepreneur yang membutuhkan teknologi untuk mengembangkan bisnisnya tidak harus hanya bertemu sesama pengusaha kopi. Ia justru dapat memperoleh manfaat lebih besar apabila dipertemukan dengan pelaku teknologi yang memiliki solusi sesuai kebutuhannya.

Begitu pula pelaku MICE dapat membutuhkan partner dari sektor kreatif, teknologi, F&B, maupun pemasaran.

Di sinilah pendekatan lintas industri menjadi relevan bagi solopreneur.

William Utomo: Founder Perlu Belajar dari Industri Berbeda

COO IDN, William Utomo, menilai forum seperti Solopreneur Society dapat membantu founder memperluas perspektif.

Menurut dia, belajar hanya dari orang yang berada di industri yang sama berpotensi membatasi sudut pandang seorang pengusaha.

“Kami melihat bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ekosistem yang dapat membuka akses terhadap koneksi dan peluang yang relevan,” ujar William.

Kolaborasi IDN dengan Bank Saqu menjadi bagian dari pendekatan tersebut. IDN membawa jaringan dan perspektif dari ekosistem media serta profesional, sedangkan Bank Saqu membawa kapabilitas sebagai institusi keuangan.

William menilai keberadaan komunitas juga penting karena founder membutuhkan ruang untuk membicarakan tantangan bisnis bersama orang yang memiliki pola pikir serupa.

Perspektif tersebut semakin relevan bagi solopreneur yang sedang berada pada fase awal. Tidak sedikit bisnis yang bermula sebagai side hustle sebelum berkembang menjadi usaha yang lebih serius.

Bahkan, IDN sendiri memiliki pengalaman sebagai bisnis yang pada awalnya dibangun sebagai side hustle.

Modal Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Jawaban

Ekosistem bisnis yang dibangun Bank Saqu juga dilengkapi dengan akses terhadap solusi finansial.

Salah satunya melalui Saku Kredit yang dapat digunakan untuk kebutuhan awal hingga Rp30 juta. Seiring perkembangan bisnis, kebutuhan pembiayaan dapat meningkat.

Hendrik mengatakan kapasitas pembiayaan dapat berkembang mengikuti pertumbuhan bisnis.

“Nanti tentunya sesudah dia semakin bertumbuh, 30 juta itu bisa bertumbuh sampai 300 juta dan 500 juta,” kata Hendrik.

Pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai kemungkinan peningkatan kebutuhan dan akses pembiayaan sesuai perkembangan serta kelayakan bisnis, bukan berarti setiap peserta otomatis mendapatkan pembiayaan hingga Rp300 juta atau Rp500 juta.

Untuk kebutuhan yang lebih besar, Bank Saqu juga dapat mengarahkan pelaku usaha kepada sales atau relationship manager untuk melihat kebutuhan pembiayaan modal kerja maupun investasi.

Menariknya, keberadaan pembiayaan ditempatkan sebagai salah satu bagian dari ekosistem, bukan satu-satunya solusi.

Jhoni Kusno melihat persoalan bisnis dari perspektif yang lebih luas. Ketika usaha masih berada pada tahap awal, founder biasanya berfokus pada survival dan mencari product-market fit. Setelah bisnis mulai menghasilkan penjualan, tantangannya bergeser ke pengelolaan cash flow dan bagaimana bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pada tahap scale up, persoalan people, sistem, dan alignment menjadi semakin penting.

Artinya, tambahan modal tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila model bisnis belum siap berkembang atau operasional belum memiliki sistem yang kuat.

Jhoni menilai founder juga membutuhkan pengetahuan, orang yang tepat, jaringan, dan partnership.

“Melalui kolaborasi ini, kekuatan ekosistem Otten Coffee dipertemukan dengan akses terhadap solusi finansial Bank Saqu, sehingga coffeepreneurs memiliki dukungan yang semakin relevan dalam perjalanan mengembangkan bisnis mereka,” ujar Jhoni.

Empat Sektor Menjadi Pintu Masuk Ekosistem yang Lebih Luas

Jika dilihat lebih jauh, strategi Bank Saqu pada 2026 menunjukkan bahwa empat sektor tersebut bukanlah batas dari ekosistem solopreneur.

Coffeepreneur, F&B, MICE, dan AI justru dapat menjadi titik temu berbagai industri.

Coffeepreneur membutuhkan supplier, teknologi, distribusi, komunitas, dan konsumen. F&B membutuhkan bahan baku, pemasaran, teknologi, dan jaringan distribusi. MICE membutuhkan berbagai vendor dan partner lintas industri. Sementara bisnis AI membutuhkan akses terhadap pengguna, industri, talenta, dan kebutuhan bisnis yang dapat diterjemahkan menjadi solusi.

Keempatnya memiliki satu kesamaan: pertumbuhan bisnis sangat bergantung pada koneksi dengan pihak lain.

Karena itu, nilai Solopreneur Society tidak hanya terletak pada berapa banyak founder yang bergabung. Nilai yang lebih penting adalah seberapa relevan koneksi yang tercipta dan apakah koneksi tersebut dapat berubah menjadi kolaborasi nyata.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat konsep “Selalu Bersama” yang diusung Bank Saqu. Peran bank tidak berhenti ketika seorang solopreneur membutuhkan rekening atau pembiayaan, tetapi diarahkan untuk hadir sepanjang perjalanan bisnis, mulai dari mendapatkan pengetahuan, memperluas jaringan, menemukan peluang, hingga mengakses dukungan finansial ketika bisnis berkembang.

Dengan demikian, empat sektor yang dibidik Bank Saqu pada Solopreneur Society 2026 dapat dipandang sebagai strategi untuk membangun ekosistem yang lebih terarah. Fokusnya bukan sekadar mengumpulkan pengusaha dalam satu ruangan, melainkan mempertemukan kebutuhan bisnis dengan orang, pengetahuan, peluang, dan sumber daya yang tepat.

Bagi solopreneur, pendekatan tersebut menawarkan satu pesan penting: membangun bisnis memang bisa dimulai seorang diri, tetapi untuk berkembang, founder tetap membutuhkan ekosistem.

Baca Juga: Pemerintah Dorong Kampus Cetak Pengusaha, Bukan Pencari Kerja

Baca Juga: Nakhoda Baru JAPNAS Jakarta: Ardi Setiadharma Usung 4 Pilar Dorong Pengusaha Naik Kelas

FAQ

Apa empat sektor bisnis yang dibidik Bank Saqu pada 2026?

Bank Saqu membidik empat sektor dalam Solopreneur Society 2026, yaitu coffeepreneur, F&B, MICE, dan bisnis berbasis AI.

Apa itu Solopreneur Society?

Solopreneur Society: The Founders Club merupakan pengembangan dari Solopreneur Academy Bank Saqu yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga networking dan business matchmaking.

Mengapa Bank Saqu memilih empat sektor tersebut?

Keempat sektor tersebut dipilih sebagai bagian dari industry insights dan ekosistem yang mempertemukan founder dengan pengetahuan, jaringan, peluang kolaborasi, serta pihak bisnis yang relevan.

Apa manfaat business matchmaking bagi solopreneur?

Business matchmaking membantu peserta menemukan koneksi berdasarkan kebutuhan dan kecocokan bisnis, sehingga peluang kolaborasi dan akses pasar dapat lebih terarah.

Apakah Solopreneur Society hanya untuk bisnis besar?

Tidak. Konsepnya ditujukan untuk founder dan solopreneur dalam berbagai tahap perkembangan bisnis, termasuk pelaku usaha yang sedang membangun dan mengembangkan bisnisnya.

Apakah Bank Saqu menyediakan pembiayaan bagi solopreneur?

Bank Saqu menyediakan solusi finansial, termasuk Saku Kredit hingga Rp30 juta untuk kebutuhan awal. Kebutuhan pembiayaan dapat berkembang sesuai pertumbuhan, kebutuhan, dan kelayakan bisnis.

Apa peran IDN dalam Solopreneur Society 2026?

IDN menjadi mitra strategis dalam memperkuat networking dan ekosistem dengan membawa jaringan, perspektif, informasi, serta akses terhadap komunitas dan pelaku industri.

Apa peran Otten Coffee?

Otten Coffee memperkuat sektor coffeepreneur melalui ekosistem yang mencakup produk, pengetahuan, dan komunitas, sekaligus mempertemukannya dengan akses terhadap solusi finansial Bank Saqu.