BKK Sampit perkuat sinergi lintas sektor wujudkan Bandara Sehat
BKK Sampit perkuat sinergi lintas sektor wujudkan Bandara Sehat
Senin, 20 Juli 2026 17:28 WIB
BKK Sampit gelar rapat koordinasi untuk penyusunan dokumen rencana kontinjensi dan sosialisasi Bandara Sehat, Senin (20/7/2026). ANTARA/Devita Maulina.
Sampit (ANTARA) - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, memperkuat sinergi lintas sektor sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah, bencana serta mewujudkan Bandara Sehat.
"Melalui rapat koordinasi ini, kami ingin memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor dalam penyusunan dokumen rencana kontinjensi, sekaligus pembentukan Forum Bandara Sehat di Bandara Haji Asan Sampit," kata Kepala BKK Kelas II Sampit dr I Gusti Ayu Agung Darmawati di Sampit, Senin.
Hal ini ia sampaikan usai Rapat Koordinasi Penyusunan Dokumen Rencana Kontinjensi dan Sosialisasi Bandara Sehat di Bandara Haji Asan Sampit yang melibatkan antara lain jajaran Bandara Haji Asan Sampit, BMKG Kotim, TNI AU dan AD, Basarnas, Kejari, Bea Cukai, Pemkab Kotim dan lainnya.
Darmawati menjelaskan penyusunan dokumen rencana kontinjensi bertujuan memperjelas peran masing-masing instansi, apabila terjadi kedaruratan kesehatan masyarakat maupun kondisi lain, yang berdampak terhadap operasional bandara, termasuk ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ia menegaskan seluruh unsur memiliki tugas sesuai kewenangannya sehingga penanganan kondisi darurat tidak hanya bertumpu pada satu instansi, melainkan dilaksanakan secara terpadu di bawah koordinasi otoritas bandara.
"Seperti saat ini yang perlu diantisipasi sehubungan dengan potensi kabut asap akibat karhutla adalah penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, kesiapsiagaan harus diwujudkan melalui langkah nyata seluruh lintas sektor, bukan hanya administrasi," ujarnya.
Selain penyusunan dokumen rencana kontinjensi, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Forum Bandara Sehat, sebagai langkah awal menuju pengusulan Bandara Haji Asan Sampit menjadi Bandara Sehat pada 2028.
Darmawati mengatakan tahapan berikutnya adalah melaksanakan asesmen atau penilaian mandiri terhadap berbagai indikator, mulai dari kesehatan lingkungan, kesiapan sarana dan prasarana, hingga pemenuhan standar kawasan bandara sehat.
Hasil asesmen nantinya menjadi dasar evaluasi untuk melengkapi berbagai persyaratan yang masih belum terpenuhi agar pengusulan Bandara Haji Asan Sampit sebagai bandara sehat dapat dilakukan pada tahun genap, yakni 2028.
"Kami akan segera menindaklanjuti asesmen bersama pihak bandara. Dari hasil penilaian itu akan diketahui apa saja yang masih harus dilengkapi sehingga ketika waktunya pengusulan pada 2028 nanti semuanya sudah siap," jelasnya.
Baca juga: Capaska Kotim ikuti pradiklat jelang HUT ke-81 RI
Senada disampaikan oleh, Kepala Bandara Haji Asan Sampit Abdul Haris, bahwa koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai potensi kedaruratan karena setiap unsur di lingkungan bandara.
Mulai dari operator, ground handling hingga BKK memiliki peran yang telah disepakati dalam penanganan situasi darurat, yang menjadi acuan dalam penyusunan rencana kontinjensi, sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit melalui bandara sebagai pintu masuk wilayah dan pembentukan Bandara Sehat.
"Seperti yang menjadi atensi saat ini adalah potensi asap akibat karhutla. Kalau asap sudah mengganggu jarak pandang tentu penerbangan dapat terdampak. Untuk kondisi penumpang, kelayakan terbang akan mengacu pada rekomendasi dari BKK," ucap Abdul.
Ia berharap kesepakatan yang telah dibangun melalui rapat koordinasi tersebut dapat menjadi pedoman bersama dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman kesehatan, sekaligus mendukung terwujudnya Bandara Haji Asan Sampit yang aman, sehat dan siap menghadapi kondisi darurat.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Setda Kotim, Muslih menyampaikan pemerintah daerah mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut, karena dinilai penting dalam memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi ancaman penyakit menular.
"Kami mengapresiasi kegiatan ini, apalgi belajar dari pengalaman pandemi COVID-19, bandara memiliki peran yang sangat penting, bukan hanya sebagai penggerak perekonomian, tetapi juga berpotensi menjadi pintu masuk penyebaran penyakit menular," ujarnya.
Baca juga: Wabup Kotim dukung APRI perkuat tambang rakyat
Menurut Muslih, pengalaman menghadapi pandemi menjadi pelajaran berharga bahwa seluruh pemangku kepentingan harus memiliki sistem koordinasi dan langkah antisipasi yang jelas apabila terjadi kedaruratan kesehatan masyarakat.
Ia menilai penyusunan dokumen rencana kontinjensi menjadi bagian krusial dalam memastikan setiap instansi memahami tugas dan tanggung jawabnya sehingga respons terhadap potensi ancaman kesehatan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
"Kegiatan ini membuktikan komitmen kita bersama untuk siap menghadapi berbagai permasalahan, khususnya penyakit menular yang berpotensi masuk ke wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui pintu transportasi udara," tambahnya.
Muslih juga menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap upaya mewujudkan Bandara Haji Asan Sampit sebagai bandara sehat yang ditargetkan dapat diusulkan pada 2028.
Ia mendorong seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi yang tergabung dalam Forum Bandara Sehat berperan aktif memenuhi setiap indikator penilaian agar target tersebut dapat tercapai sesuai rencana.
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.