kingsheadwye.com

BMKG: El Nino picu musim kemarau lebih panjang dan kering

Sejak Maret pula kami memprediksi bahwa akibat dari aktifnya El Nino berbarengan dengan musim kemarau, maka musim kemarau kita secara umum itu akan menjadi lebih panjang dan menjadi lebih kering

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan El Nino fase sangat kuat membuat musim kemarau di Indonesia lebih panjang dan kering serta meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh pihak dalam menghadapi dampak kekeringan dan potensi karhutla

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis, mengatakan meskipun puncak kemarau dan El Nino telah terlewati pada Agustus hingga September, dampaknya masih dirasakan secara signifikan di sejumlah wilayah.

Baca juga: Kemenhut siagakan 5.000 ASN hadapi ancaman karhutla

Menurut dia, peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur menyebabkan perairan Indonesia mengalami pendinginan yang berdampak pada minimnya potensi uap air dan terhambatnya pertumbuhan awan.

"Sejak Maret pula kami memprediksi bahwa akibat dari aktifnya El Nino berbarengan dengan musim kemarau, maka musim kemarau kita secara umum itu akan menjadi lebih panjang dan menjadi lebih kering," ujar Marjuki.

Berdasarkan pemodelan cuaca BMKG, El Nino diprediksi masih bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut berimplikasi terhadap kedatangan awal musim hujan secara nasional yang diperkirakan mengalami kemunduran dari waktu normalnya.

BMKG mencatat sebanyak 529 zona musim atau setara dengan 61,08 persen luasan daratan Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan. Sementara itu, sebanyak 26 zona musim berada pada kondisi normal dan 11 zona musim tercatat mengalami awal musim hujan lebih maju.

Baca juga: Kemendagri benahi aturan daerah untuk cegah karhutla

Marjuki mengatakan pada Oktober, curah hujan di wilayah-wilayah selatan ekuator masih cenderung sangat rendah dan kering.

Kondisi tersebut diperkirakan mulai membaik memasuki November ketika wilayah selatan mulai mencatatkan curah hujan kategori menengah. Selanjutnya, secara bertahap wilayah Indonesia diproyeksikan mulai memasuki musim penghujan secara lebih merata dan normal pada Desember.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG terus mengintensifkan pemantauan cuaca serta memperkuat koordinasi lintas instansi.

Upaya tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan mitigasi dampak kekeringan sekaligus mendukung operasi penanganan karhutla di berbagai daerah prioritas agar dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan iklim.

Baca juga: Polri gunakan data satelit untuk percepat penanganan karhutla

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.