BPS Ungkap Model Desil Masih Punya Error 23%, Ini Penyebabnya
Jum'at, 11 September 2026, 22:30 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data Badan Pusat Statistik (BPS), Setia Pramana, mengungkap model matematis yang digunakan dalam menentukan desil masyarakat masih memiliki inclusion-exclusion error. Sebab masyarakat yang masih membutuhkan bantuan justru keluar dari daftar penerima sekitar 23%.
“Saat ini untuk model matematisnya itu sekitar 23% disebut inclusion-exclusion error, mungkin terendah sebenarnya” ujar Setia, dalam paparan diskusi Metodologi Penentuan Desil, Jumat (11/9/2026).
Setia menjelaskan, angka tersebut tidak dapat dimaknai sebagai 23% masyarakat mengalami kesalahan dalam penentuan desil. Sebab, ketidaksesuaian hasil pemodelan dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik dari sisi data maupun kondisi di lapangan.
Menurut dia, salah satu persoalan utama adalah kualitas dan kemutakhiran data yang digunakan. Jika data yang menjadi input tidak sesuai dengan kondisi terbaru masyarakat, hasil pemodelan juga berpotensi tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
“Error pertama ada di data. Apa pun data yang kita berikan, model yang kita gunakan itu bagus atau tidak, kalau datanya tidak sesuai dan kalau disalahkan, disalah,” katanya.
Selain kualitas data, Setia menyebut kesalahan juga dapat berasal dari model yang digunakan untuk memprediksi kondisi sosial ekonomi masyarakat. Faktor lain yang turut mempengaruhi antara lain kesalahan klasifikasi dan kondisi geografis yang berbeda-beda.
“Tadi data tidak mutakhir, akurat, kemudian juga salah klasifikasi, dan juga ada terkait dengan kondisi geografis,” ujarnya.
Setia mengatakan, melakukan evaluasi terhadap model secara statistik sekaligus melalui pengecekan di lapangan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah ketidaksesuaian berasal dari model atau justru dari data yang digunakan.
“Model bisa kita improve dengan pendekatan-pendekatan tertentu. Tapi data yang pertama, data yang akurat dan termutakhir,” tutur Setia.
Baca Juga: BPS Bakal Manfaatkan Sensus Ekonomi 2026 untuk Pemutakhiran Data Desil Masyarakat
Baca Juga: Posisi Desil Masyarakat Dinamis, BPS Rutin Perbarui Data per 3 Bulan
Dia menegaskan, penyempurnaan model dan pemutakhiran data masih menjadi pekerjaan yang terus dilakukan BPS bersama kementerian/lembaga terkait. Upaya tersebut ditujukan untuk meminimalkan error dalam pemetaan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Kami mencoba meminimalisir error yang disebabkan, kalau kami, dari data dan model, bagaimana model itu kita bisa improve, bagaimana data yang akurat dan mutakhir itu bisa didapatkan,” pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra