Bukan Ngasih Solusi, Curhat ke AI Malah Bikin Rugi? Ini Penjelasan Psikolog |Republika Online
Curhat dengan AI (ilustrasi). Meski bisa memberi respons secara cepat ketika seseorang butuh ruang untuk mengekspresikan perasaan, namun Al memiliki keterbatasan dalam menangani persoalan psikologis yang kompleks.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan kecerdasan buatan (Al) menghadirkan cara baru bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan teknologi. Al kini tidak hanya digunakan untuk mencari informasi dan membantu pekerjaan. Sebagian Gen Z dan milenial juga mulai memanfaatkannya sebagai tempat bercerita dan mencurahkan persoalan pribadi.
Menanggapi fenomena ini, pakar psikologi klinis dari UMY, Muhammad Arif Rizai, menilai penggunaan Al untuk mencurahkan persoalan pribadi terlalu berisiko. Meski bisa memberi respons secara cepat ketika seseorang butuh ruang untuk mengekspresikan perasaan, namun Al memiliki keterbatasan dalam menangani persoalan psikologis yang kompleks.
"Memang ada kebutuhan dasar yang kemudian bisa terfasilitasi secara instan. Tetapi ketika mereka curhat pada aspek-aspek yang cukup mendalam, kompleks, termasuk bagaimana kemudian bisa menghadirkan sebuah proses terapeutik, itu yang kemudian saya lihat memang tidak bisa digantikan oleh Al," kata Arif dalam keterangan tertulis, dikutip pada Ahad (11/10/2026).
Arif mengingatkan, penggunaan Al sebagai tempat curhat berisiko membuat seseorang terlalu nyaman dengan interaksi digital dan mengurangi kesempatan membangun relasi sosial secara langsung. Curhat kepada Al juga berisiko mengancam privasi dan keamanan data pribadi pengguna.
Selain itu, Al memiliki keterbatasan dalam memahami nilai, keyakinan, dan pengalaman hidup seseorang secara utuh. Berbeda dengan tenaga profesional, proses konsultasi dengan psikolog turut melibatkan pemahaman terhadap individu berdasarkan pengalaman dan kompetensi yang dimiliki.
"Respons Al yang selalu setuju dengan pengguna bisa memperkuat asumsi negatif seseorang terhadal dirinya atau masalah mentalnya," kata dia.
Lantas kenapa anak muda senang curhat dengan Al? Menurut Arif, sebagian anak muda beranggapan bahwa respon Al memiliki kemiripan dengan jawaban yang dapat diberikan psikolog atau konselor. Padahal, interaksi dengan Al tetap berbeda dari interaksi antarmanusia.
Mereka mungkin memperoleh arahan atau langkah-langkah untuk menghadapi persoalan tertentu. Namun, mereka tidak mendapatkan pengalaman interaksi manusia secara langsung.
"Beberapa yang kemudian menyampaikan mereka cukup terbantu, tetapi tema yang saya lihat sama. Mereka tidak mendapatkan sebuah sentuhan manusia di situ," kata dia.