Miris! 2.365 Warga Masih Dipasung, Kesehatan Jiwa di Indonesia Jadi Masalah Serius: 3 Juta Orang Depresi
Senin, 12 Oktober 2026 - 12:43 WIB
Jakarta, VIVA – Masalah kesehatan jiwa di Indonesia menjadi persoalan serius. Hingga triwulan III 2026, sebanyak 2.365 warga masih mengalami pemasungan.
Baca Juga
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat mereka merupakan orang dengan gangguan jiwa berat, termasuk psikosis akut dan skizofrenia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan Indonesia masih butuh penguatan perhatian terhadap kesehatan jiwa masih untuk mengatasi berbagai tantangan dalam penanganannya.
Baca Juga
Menurut dia, kasus depresi banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Di sisi lain, stigma sosial masih menjadi penghambat penanganan gangguan jiwa dan turut memicu praktik pemasungan.
"Melalui penguatan layanan kesehatan primer dan edukasi publik, pemerintah berupaya memastikan setiap individu memperoleh dukungan yang tepat dan dapat berdaya dengan keunikannya masing-masing," katanya, Senin (12/10/2026).
Baca Juga
Imran juga mengungkapkan dua kendala utama dalam penanganan individu neurodivergen, yakni keterlambatan deteksi dan penolakan orang tua terhadap kondisi anak.
Banyak orang tua yang tidak mau mengakui kalau anaknya itu seorang neurodivergent, sehingga mencari doctor shopping untuk memastikan atau meminta second opinion bahwa anaknya tidak neurodivergent.
"Akibatnya, terlambat diketahui dan ketika orang tuanya sadar, potensi terbesar anaknya sudah tidak bisa ditemukan lagi,” katanya.
Jutaan Orang di Indonesia Depresi
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi menegaskan bahwa kesehatan jiwa menjadi salah satu persoalan penting dalam pembangunan nasional.
Mengacu pada data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), gangguan jiwa menempati posisi kedua sebagai penyebab terbesar hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia.
Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Angka tersebut diperkirakan setara dengan 2,5 juta hingga 3 juta orang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun,” ujar Endang.
Selain depresi, Endang menyoroti perlunya perhatian terhadap individu neurodivergen, termasuk mereka yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan disleksia.
Halaman Selanjutnya
ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mempertahankan fokus dan mengendalikan diri. Adapun disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang berdampak pada kemampuan membaca dan menulis.