Kemarau dan Karhutla tekan produktivitas peternak di Tapin - ANTARA News Kalimantan Selatan
Rantau (ANTARA) - Musim kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menekan produktivitas peternakan di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, terutama akibat berkurangnya hijauan pakan ternak dan meningkatnya biaya produksi.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Tapin Erwin mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan kematian massal atau kejadian luar biasa (KLB) pada ternak. Namun, kondisi cuaca panas dan dampak karhutla mulai memengaruhi kesehatan serta produktivitas sejumlah ternak di Tapin.
“Gangguan yang terjadi di antaranya penurunan nafsu makan, dehidrasi, stres panas, pertumbuhan ternak yang lambat, serta penurunan produksi telur ayam, terutama di wilayah yang dekat dengan lokasi karhutla,” kata Erwin saat dihubungi via telepon di Rantau, Kabupaten Tapin, Senin.
Ia menambahkan, dampak kemarau mulai terlihat dari penurunan bobot badan sapi dan kambing akibat keterbatasan hijauan pakan, serta berkurangnya produksi telur pada unggas karena stres panas.
Baca juga: Ayam pedaging topang ekonomi peternak di Tapin
"Kalau dari segi populasi ternak di Tapin masih relatif aman dan belum mengalami penurunan," tambahnya.
Erwin menyebutkan, sejumlah wilayah yang terdampak kondisi tersebut antara lain Kecamatan Tapin Tengah, Tapin Selatan, dan sebagian Binuang.
Di Tapin Tengah, kata dia, sebagian padang rumput yang digunakan peternak untuk menggembalakan ternak dilaporkan terbakar, begitu pula lahan hijauan pakan di Tapin Selatan dan Binuang.
Erwin menjelaskan, hingga kini belum ada laporan peternak yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pakan maupun air ternak. Namun, Dinas Pertanian Tapin terus berkoordinasi dengan sejumlah peternak guna memantau dampak kemarau dan karhutla di lapangan.
Baca juga: ASN di Tapin budidaya lalat tentara hitam hemat pakan ternak
Dari sisi usaha, ucap Erwin, harga pakan ternak selama musim kemarau dilaporkan meningkat sekitar 8–10 persen akibat kenaikan harga jagung pakan, kedelai impor, serta ongkos angkut yang dipengaruhi kenaikan bahan bakar minyak (BBM).
"Kenaikan biaya tersebut membuat keuntungan peternak semakin menipis, terutama pada usaha sapi dan ayam petelur," ujarnya.
Dia mengungkapkan, untuk mengurangi beban produksi, sebagian peternak mulai memanfaatkan pakan fermentasi dan bahan pakan alternatif sebagai pengganti sebagian pakan konvensional.
Dari sisi pemasaran, usaha sapi potong masih dinilai menguntungkan, sedangkan harga jual ayam dan telur cenderung stagnan atau mengalami penurunan tipis selama periode kemarau.
Pewarta: Muhammad Rastaferian Pasya
Editor : Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.