CORE: CPO dan turunannya masih jadi andalan ekspor perkebunan RI
CPO dan produk turunannya seperti palm kernel expeller (PKE), oleokimia dan biodiesel memiliki peluang paling besar untuk meningkatkan ekspor saat ini
Jakarta (ANTARA) - Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya masih akan menjadi andalan ekspor perkebunan Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya proteksionisme perdagangan.
Eliza mengatakan minyak sawit memiliki prospek yang tetap kuat karena permintaan minyak nabati dunia terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan urbanisasi.
"CPO dan produk turunannya seperti palm kernel expeller (PKE), oleokimia dan biodiesel memiliki peluang paling besar untuk meningkatkan ekspor saat ini," ujar Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Menurut dia, minyak sawit memiliki keunggulan sebagai minyak nabati dengan harga yang kompetitif serta pemanfaatan yang luas dibandingkan minyak kedelai, minyak bunga matahari, maupun minyak jagung.
Ia menambahkan pengembangan produk turunan bernilai tambah dapat menjadi strategi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor sawit.
Eliza mengatakan dalam jangka panjang permintaan global terhadap bahan baku terbarukan untuk industri kimia, material dan energi diperkirakan terus meningkat.
Kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk turunan sawit bernilai tambah, seperti oleokimia dan produk khusus (specialty products), asalkan mampu memenuhi standar keberlanjutan yang diminta pasar.
Namun, ia mengingatkan upaya tersebut masih menghadapi tantangan berupa isu deforestasi dan legalitas lahan sawit yang menjadi perhatian pasar global.
Meski demikian, Eliza memperkirakan volume ekspor sawit pada 2026 cenderung stagnan atau hanya meningkat tipis karena meningkatnya penyerapan CPO di dalam negeri untuk program biodiesel.
Baca juga: CORE: Transisi energi seperti B50 tekan defisit neraca perdagangan
Baca juga: CORE nilai perluasan KEK berbasis industri dukung kebijakan hilirisasi
Mandat biodiesel B40 serta potensi penerapan B50 pada akhir 2026 diperkirakan akan menyerap tambahan sekitar 1,7 juta hingga 2,2 juta ton CPO per tahun.
Di luar sawit, Eliza menilai prospek komoditas perkebunan lain relatif lebih terbatas. Pasar karet alam dinilai telah memasuki fase matang (mature) dengan persaingan yang tinggi dari karet sintetis.
Sementara itu, kopi dan kakao menurutnya memiliki nilai ekspor per ton yang tinggi, terutama untuk produk specialty. Namun, skala produksinya masih terbatas dan rentan terhadap faktor cuaca.
Kopi juga disebutnya menghadapi persaingan dengan Vietnam, sedangkan kakao bersaing dengan Pantai Gading, sehingga kontribusinya terhadap peningkatan ekspor nasional diperkirakan tidak sebesar minyak sawit.
Meski prospeknya masih positif, Eliza mengingatkan eksportir komoditas perkebunan menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya produktivitas, tingginya biaya logistik domestik, hingga hambatan non-tarif dan standar keberlanjutan global.
Ia menilai peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk meningkatkan surplus ekspor tanpa membuka lahan baru, antara lain melalui program peremajaan tanaman, penggunaan bibit unggul, dukungan pembiayaan, serta percepatan sertifikasi lahan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja ekspor CPO dan produk turunannya masih tumbuh positif.
Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai 9,59 miliar dolar AS pada Januari—Mei 2026 atau naik 7,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan itu terjadi di tengah penurunan nilai ekspor batu bara sebesar 4,95 persen dan besi baja sebesar 1,61 persen. Selama Januari—Mei 2026, India menjadi negara tujuan utama ekspor CPO dan produk turunannya, disusul Pakistan, China dan Bangladesh.
Baca juga: Ekonom: Iklim investasi kondusif penentu PFII himpun investasi global
Baca juga: CORE dorong hilirisasi kelapa jadi fokus program perkebunan rakyat
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.