kingsheadwye.com

Demo Besar-Besaran Tolak Data Center Raksasa, Warga Sudah Muak

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan pusat data (data center) Google di India menghadapi gelombang penolakan. Sejumlah pemerhati lingkungan menentang proyek tersebut dengan menyoroti ancaman terhadap pasokan air setempat, serta lokasinya yang berdekatan dengan suaka margasatwa, yakni rumah bagi macan tutul dan trenggiling.

Gelombang protes datang dari masyarakat terkait proyek senilai US$15 miliar tersebut. Selama beberapa minggu terakhir, para aktivis dan anak-anak turun ke jalanan Kota Visakhapatnam.

Mereka membawa spanduk bertuliskan "Kami tidak bisa minum DATA" serta gambar borgol pada logo Google.

Pilihan Redaksi

  • Tarif Listrik Naik Gila-gilaan Demi AI, Rakyat Kecil Bayari Orang Kaya
  • Geger Data Center Raksasa Telan Anggaran Sampai Rp 18.000 Triliun
  • Trump Membangkang dari Putusan Mahkamah Agung, Nekat Teken Aturan Baru

"Pembangunan tidak seharusnya mengorbankan mata pencaharian masyarakat," kata pendiri organisasi nirlaba Green Visakha, Raja Rama, dikutip dari Reuters, Jumat (7/8/2026).

Menurut pemerintah setempat, kota tersebut menerima 410 juta liter air per hari dari waduk dan sungainya. Jumlah ini masih kurang dari total kebutuhan masyarakat yang mencapai 480 juta liter air per hari.

Masyarakat kota yang berjumlah 2,5 juta jiwa tersebut sudah harus menghadapi penjatahan pasokan air. Masalah ini diprediksi kian memburuk karena pembangunan pusat data mengonsumsi air dalam jumlah besar untuk mendinginkan server, di samping penggunaan daya listrik yang sangat tinggi.

Kelompok aktivis Jal Biradari (Komunitas Air) juga melayangkan tuduhan bahwa proyek data center tersebut akan membebani ketersediaan air pada waduk terdekat. Pengadilan Tinggi Negara Bagian Andhra Pradesh pun meminta pemerintah memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.

Pemerintah setempat membantah kekhawatiran masyarakat dan menyebutnya sebagai hal yang menyesatkan. Meski demikian, mereka memastikan tetap terbuka untuk menerima masukan.

"Protes semacam itu adalah hak demokrasi mereka. Jika ada klaim yang sah, pemerintah berkomitmen untuk terlibat dan memberikan klarifikasi faktual serta solusi yang sesuai," kata perwakilan pemerintah.

Pihak Google menegaskan bahwa proyeknya akan dikembangkan sesuai dengan hukum yang berlaku. Raksasa teknologi ini juga berjanji menerapkan sistem pendingin canggih demi melindungi sumber daya air daerah tersebut.

Pemerintah turut membantah klaim bahwa lokasi data center berada terlalu dekat dengan Suaka Margasatwa Kambalakonda. Pemerintah mengklaim jaraknya lebih jauh dari batas minimum yang disyaratkan, meskipun gugatan di pengadilan menyebutkan jaraknya hanya 860 meter.

Sementara itu, Google berjanji akan memasang teknologi peredam suara untuk memastikan lingkungan sekitar tetap tenang dan tidak terganggu.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]