kingsheadwye.com

Dinkes Gorontalo tekan angka kematian ibu melalui penguatan surveilans - ANTARA News Gorontalo

Gorontalo (ANTARA) -
​​​​​​Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo berupaya menekan angka kematian ibu melalui penguatan surveilans.

Penguatan tersebut dirangkum dalam kegiatan pertemuan pendampingan surveilans dan evaluasi program gizi dan kesehatan ibu dan anak (GKIA), dalam pelayanan kesehatan dan gizi keluarga.

Kepala Dinas Kesehatan P2KB Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa di Kota Gorontalo, Senin, mengatakan penguatan surveilans merupakan bagian penting dalam membangun pelayanan kesehatan ibu yang responsif.

Ia menjadi narasumber pada kegiatan yang diikuti 75 peserta dari tiga kabupaten, yakni Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Pohuwato dan Bone Bolango.

Peserta terdiri atas pengelola program kesehatan ibu di Dinas Kesehatan, penanggung jawab aplikasi Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), serta seluruh bidan koordinator puskesmas.

Dalam paparan bertajuk 'Penguatan Surveilans dan Respons Kesehatan Ibu sebagai Strategi Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu Tahun 2026', Anang mengatakan surveilans harus terintegrasi dengan pelayanan kesehatan keluarga berdasarkan siklus hidup, mulai dari kesehatan remaja, kesehatan reproduksi, kesehatan ibu, bayi dan balita sampai lanjut usia.

“Surveilans kesehatan ibu jangan berhenti pada pencatatan dan pelaporan. Data harus dikumpulkan, diolah, dianalisis dan diinterpretasikan, sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk menentukan respons dan tindakan nyata dalam mencegah kesakitan dan kematian ibu,” kata Anang.

Ia mengatakan kualitas data menjadi salah satu fondasi utama dalam pelaksanaan program. Oleh karena itu, proses desk review, verifikasi, monitoring dan evaluasi perlu dilakukan konsisten untuk memastikan data yang digunakan benar-benar menggambarkan kondisi pelayanan di lapangan.

Data tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kegiatan, intervensi dan penganggaran berbasis data.

Anang juga mendorong perubahan paradigma dalam pelaksanaan surveilans, dari yang selama ini berorientasi pada pelaporan menjadi sebuah sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan.

Dalam pendekatan tersebut, data diolah menjadi informasi, dianalisis dan segera diikuti dengan respons yang tepat.
 

“Kita perlu mentransformasikan surveilans dari sekadar sistem pelaporan menjadi sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan. Setiap data yang ditemukan harus mampu menjawab apa masalahnya, di mana risikonya dan respons apa yang harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kematian ibu,” katanya.

Anang menekankan pentingnya menjalankan siklus surveilans secara utuh, mulai dari notifikasi, deteksi, verifikasi, analisis, respons, monitoring sampai evaluasi.

Dengan siklus tersebut, setiap informasi mengenai kondisi kesehatan ibu dapat ditindaklanjuti secara cepat dan terukur.

Melalui kegiatan pendampingan ini, pihaknya mendorong penguatan kapasitas pengelola program kesehatan ibu, penanggung jawab MPDN dan bidan koordinator puskesmas agar mampu meningkatkan kualitas surveilans, serta memanfaatkan data secara optimal dalam perencanaan dan pelaksanaan intervensi.

Penguatan surveilans bukan sekadar memperbaiki kualitas data, tetapi memastikan setiap informasi kesehatan ibu berujung pada keputusan dan tindakan yang lebih cepat, tepat dan mampu menyelamatkan kehidupan.

Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.