DKP NTT dorong pemanfaatan lahan budi daya rumput laut
DKP NTT dorong pemanfaatan lahan budi daya rumput laut
Senin, 27 Juli 2026 19:50 WIB
Seorang petani rumput laut sibuk memanen rumput laut di pesisir pantai Nembrala, Kabupaten Rote Ndao. ANTARA/Kornelis Kaha
Kupang (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur terus mendorong pemanfaatan lahan budi daya rumput laut, mengingat hingga kini baru sekitar 15 persen dari total potensi 54.000 hektare yang tersedia.
Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Stefania Tunga Boro di Kupang, Senin, mengatakan pemanfaatan lahan budidaya rumput laut di daerah itu masih sekitar 6.000 hingga 8.000 hektare.
"Artinya peluang pengembangan budi daya rumput laut di NTT masih sangat besar," katanya.
Ia menjelaskan sentra produksi rumput laut di NTT tersebar di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Flores Timur, Lembata, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.
Menurut dia, untuk mempercepat perluasan pengembangan komoditas tersebut, Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan lima klaster pengembangan rumput laut, yakni Klaster Timor, Rote-Sabu, Flores Timur, Flores Tengah, dan Sumba.
"Pengembangan kawasan dilakukan secara lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga mampu meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk rumput laut," ujarnya.
Berdasarkan hasil survei dan pemetaan potensi, lanjut Stefania, sejumlah kecamatan diprioritaskan sebagai kawasan pengembangan karena memiliki karakteristik bio-ekologi yang sesuai, masyarakat yang telah berpengalaman membudidayakan rumput laut, serta masih tersedia lahan yang luas.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Pahungalodu dan Rindi di Kabupaten Sumba Timur, Kecamatan Kodi Bangedo dan Kodi Utara di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kecamatan Semau Selatan, Semau, Kupang Barat, dan Sulamu di Kabupaten Kupang.
Selain itu, Kecamatan Landu Leko, Loaholu di Rote Barat, Pantai Baru Rote Timur, Rote Barat Daya, dan Ndao Nuse di Kabupaten Rote Ndao; Kecamatan Buyasuri, Nagawutung, dan Omesuri di Kabupaten Lembata.
Kemudian juga di Kecamatan Pantar Barat dan Pantar Barat Laut di Kabupaten Alor, serta Kecamatan Raijua, Hawu Mehara, Sabu Timur, Sabu Tengah, Sabu Liae, dan Sabu Barat di Kabupaten Sabu Raijua.
Stefania mengatakan pemerintah daerah akan terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan potensial melalui penyediaan bibit unggul, pembangunan kebun bibit, peningkatan sarana dan prasarana budidaya, pendampingan kepada pembudidaya, serta penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan industri pengolahan.
"Harapannya, potensi rumput laut NTT dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir," ujar dia.
Ia menambahkan produksi rumput laut NTT selama periode 2019-2025 menunjukkan tren yang fluktuatif. Produksi tertinggi tercatat pada 2020 sebesar 2,16 juta ton, kemudian menurun pada 2021-2022 akibat bencana Seroja.
Kemudian pada tahun 2023 meningkat menjadi 1,56 juta ton dan pada tahun 2024 turun jadi 1,47 juta. Hingga 2025 berdasarkan data sementara, produksi telah mencapai sekitar 1,25 juta ton.
Menurut Stefania, fluktuasi produksi dipengaruhi perubahan musim dan iklim, serangan penyakit ice-ice, kualitas bibit, kondisi lingkungan perairan, serta dinamika pasar.
Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya berfokus pada perluasan areal budi daya, tetapi juga meningkatkan produktivitas melalui penggunaan bibit unggul, penerapan Good Aquaculture Practices (GAP), serta penguatan pendampingan kepada pembudidaya agar hasil panen lebih stabil dan berkelanjutan.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.