kingsheadwye.com

Dokter ungkap alasan hipertensi sering tak disadari

Jakarta (ANTARA) -

Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi ginjal dan hipertensi dr. Decsa Medika Hertanto, SpPD, KGH, FINASIM mengingatkan masyarakat untuk rutin memantau tekanan darah karena hipertensi sering tidak menimbulkan gejala meski dapat menyebabkan kerusakan pada organ vital.

“Sebagian besar tensi tinggi itu tidak bergejala,” kata Decsa dalam diskusi kesehatan yang digelar OMRON Healthcare Indonesia di Jakarta pada Jumat.

Menurut Decsa, kondisi tersebut membuat seseorang dapat merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari tekanan darahnya berada di atas batas normal.

Ia mengatakan tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam jangka panjang dan tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan pada sejumlah organ vital, terutama otak, jantung, dan ginjal.

Baca juga: Benarkah begadang bisa menyebabkan darah tinggi? Ini penjelasannya

Baca juga: Dokter ingatkan riwayat keluarga tingkatkan risiko jantung&hipertensi

Pada otak, tekanan darah yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko pecahnya pembuluh darah maupun penyumbatan yang dapat memicu stroke. Sementara pada jantung dan ginjal, hipertensi yang tidak terkendali dapat menyebabkan gangguan pada kedua organ tersebut.

Decsa menjelaskan tekanan darah perlu dipantau karena kondisi seseorang tidak dapat hanya dinilai berdasarkan ada atau tidaknya keluhan.

“Jangan dikira tensi saya 150 biasa banget. Saya kuat kok, buktinya saya kuat tenis. Bukan berarti sehat dan bugar itu hal yang sama,” ujarnya.

Ia menyebut tekanan darah di bawah 130/80 mmHg sebagai kategori normal dalam pemaparannya. Sementara tekanan darah 140-159 mmHg untuk sistolik dan 90-99 mmHg untuk diastolik masuk hipertensi tahap pertama.

Tekanan darah 160-179 mmHg untuk sistolik dan 100-109 mmHg untuk diastolik masuk hipertensi tahap kedua. Adapun tekanan darah di atas 180/110 mmHg termasuk hipertensi tahap ketiga yang perlu diwaspadai.

Baca juga: Penggunaan obat kumur berlebihan dapat sebabkan hipertensi

Dokter lulusan Universitas Airlangga itu menganjurkan masyarakat mengenali faktor risiko sebelum menentukan frekuensi pemantauan tekanan darah. Faktor tersebut antara lain pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, tingkat stres, serta riwayat keluarga dengan hipertensi atau diabetes.

Bagi orang yang telah memiliki hipertensi, Decsa menganjurkan pemeriksaan tekanan darah setiap hari. Sementara orang yang memiliki faktor risiko dapat melakukan pemeriksaan sekitar satu minggu hingga satu bulan sekali.

“Yang paling penting adalah kita kenali faktor risikonya terlebih dahulu,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu munculnya keluhan sebelum memeriksa tekanan darah karena hipertensi dapat berkembang tanpa gejala yang jelas.

Menurut dia, pemantauan tekanan darah secara rutin dapat membantu seseorang mengetahui kondisi tubuh lebih awal dan melakukan perubahan gaya hidup maupun penanganan yang diperlukan.

Baca juga: Dokter: Gaya hidup yang picu plak numpuk berisiko jantung bermasalah

Baca juga: CKG di Pantai Piwang temukan 30 warga mengalami hipertensi

Baca juga: 5 titik pijat untuk bantu redakan tekanan darah tinggi

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.