Dua Strategi Mengalahkan Godaan Setan Menurut Imam Al-Ghazali |Republika Online
Amalan terhindari dari perbuatan maksiat. Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Setan merupakan musuh nyata yang senantiasa berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin menjelaskan bahwa ada dua strategi utama untuk menghadapi godaan setan, yakni memohon perlindungan hanya kepada Allah SWT dan memperkuat diri dengan mujahadah atau latihan spiritual. Menurutnya, mengandalkan kekuatan diri semata untuk melawan setan justru akan melelahkan, sedangkan perlindungan Allah yang disertai kesungguhan beribadah menjadi jalan terbaik untuk mengalahkan tipu dayanya.
Setan adalah musuh yang menyesatkan dan nyata. Maka Allah memerintahkan kepada kita semua untuk memerangi dan menundukkan setan.
Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa ada dua strategi utama untuk memerangi dan mengalahkan setan. Pertama, dengan meminta perlindungan hanya kepada Allah SWT dan tidak kepada yang lain.
Setan seperti anjing yang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menyesatkan manusia. Jika kamu menyibukkan diri untuk memerangi dan menundukkannya, maka kamu akan kelelahan dan waktu kamu akan habis karenanya. Sehingga di akhir setan yang akan menang melumpuhkan dan melukai kamu.
Di sisi lain, jika kamu tidak melawan setan, maka setan yang ibarat anjing itu akan menggigit kamu. Maka cara yang terbaik adalah meminta perlindungan kepada pemilik anjing itu yaitu Allah SWT, agar binatang tersebut tetap jauh dari kamu.
Strategi kedua, seperti disarankan oleh sebagian ulama bahwa setan akan menjauh dari hamba yang melakukan mujahadah yakni hamba yang latihan dan disiplin spiritual secara keras.
Tapi menurut kami yang paling tepat adalah menggabungkan dua strategi di atas. Pertama, kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan sebagaimana yang diperintahkan oleh-Nya. Sebab hanya Allah SWT yang mampu melindungi kita dari kejahatan setan.
Jika setan tetap mampu menyudutkan kita setelah kita memohon perlindungan kepada Allah SWT. Maka Lihatlah itu sebagai ujian dari Allah SWT untuk menguji sejauh mana keseriusan mujahadah, kekuatan, dan kesabaran kita dalam menjalankan perintah-Nya.
Allah SWT kadang-kadang menjadikan orang-orang kafir menguasai kita, sekalipun Allah SWT mampu membuat kita lebih kuat dari mereka. Itu dimaksudkan agar kita mendapat bagian dari pahala jihad dan kesyahidan yang sangat besar nilainya di samping kesabaran dan penyucian hati.
إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُۥ ۚ وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS Ali Imran Ayat 140)
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS Ali Imran Ayat 142)