Dulu Dicaci, Kini Buat Happy: Ini Drama Panjang Lahirnya TransJakarta
MFakhriansyah, CNBC Indonesia
02 October 2026 11:30
Jakarta, CNBC Indonesia - TransJakarta kini menjadi salah satu moda transportasi andalan warga Ibu Kota dan sekitarnya.
Jutaan perjalanan dilakukan menggunakan layanan ini setiap hari. Namun, perjalanan panjang TransJakarta tidak terjadi begitu saja. Semuanya bermula dari gagasan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso untuk menghadirkan sistem transportasi massal berbasis bus di tengah persoalan kemacetan Jakarta.
Pada 2003, Sutiyoso mulai mendorong pembangunan sistem bus rapid transit (BRT) atau busway di Jakarta. Sutiyoso sebenarnya hanya melanjutkan gagasan lama transportasi Jakarta yang selalu gagal.
Perlu diketahui, jauh sebelum Sutiyoso, Pemda DKI Jakarta sudah pernah menyiapkan proposal pembangunan angkutan massal ketika R. Suprapto (1987-1997) menjabat sebagai gubernur.
Saat itu, pemerintah daerah telah melakukan 11 riset transportasi Jakarta serta studi banding ke Inggris, Kanada, dan Jepang.
Proposal tersebut disusun oleh tiga pejabat, yakni Wakil Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Bun Yamin Ramto, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Giri Suseno, dan Direktur Jenderal Bina Marga Suryatin Sastromijoyo.
Mereka merancang kereta ringan yang akan berputar mengelilingi Jakarta. Jalurnya membentang dari Cinere, melewati kawasan Sudirman dan Thamrin, kemudian menuju Ancol dan Gunung Sahari sebelum kembali ke Cinere.
Namun, rencana kereta ringan tersebut tidak terealisasi. Opsi lain turut dihadirkan oleh Menteri Riset dan Teknologi B.J Habibie yang memilik angkutan massal berbasis bus. Hanya saja, opsi ini juga tidak berjalan lancar. Terlebih usai terjadi krisis ekonomi 1997-1998.
Barulah bertahun-tahun kemudian, gagasan angkutan massal berbasis bus diwujudkan pada ea Sutiyoso.
Dalam pemberitaan Suara Karya (23 November 2004) tahun 2003, gubernur berlatar tentara itu mulai khawatir kemacetan Jakarta akan semakin parah, sehingga kebijakan transportasi massal harus segera dibuat. Caranya dengan memanfaatkan anggaran daerah, tanpa perlu melibatkan pemerintah pusat.
Sutiyoso kemudian melihat sistem busway di Bogotá, Kolombia, sebagai salah satu contoh yang bisa diterapkan di Jakarta. Pada Mei 2003, ia mengunjungi Bogotá dan melihat langsung sistem TransMilenio.
Sepulang dari sana, pemerintah DKI membentuk tim lintas dinas untuk mengembangkan konsep serupa di Jakarta. Dalam bayangan Sutiyoso dan tim, akan ada sistem bus dengan jalur khusus terpisah dari kendaraan lain.
Namun, rencana tersebut tidak langsung diterima. Jalur khusus bus berarti sebagian ruang jalan harus dialihkan dari kendaraan lain. Kekhawatiran muncul bahwa busway justru akan mengurangi ruang bagi kendaraan pribadi dan memperparah kemacetan.
Atas dasar inilah, pembangunan TransJakarta tidak berjalan mulus.
Rencana pengoperasian yang semula ditargetkan pada Oktober 2002 beberapa kali ditunda, hingga akhirnya koridor pertama resmi beroperasi pada 15 Januari 2004. Jalur tersebut menghubungkan Blok M di Jakarta Selatan dengan Kota di Jakarta Barat sepanjang sekitar 13 kilometer.
Dalam pemberitaan koran Suara Karya (18 Agustus 2004), kehadiran TransJakarta sempat menuai banyak keluhan. Sejumlah pihak menilai keberadaan jalur bus justru membuat ruang jalan semakin terbatas dan memicu kemacetan, terlebih karena jalur bus yang belum sepenuhnya steril.
Hal ini sejalan dengan riset "Improving Mobility in Developing Country Cities: Evaluating Bus Rapid Transit and Other Policies in Jakarta" tahun 2017. Tim riset mengungkap, analisis perubahan waktu tempuh perjalanan di sekitar koridor BRT dan menemukan bahwa sistem tersebut, alih-alih mengurangi kemacetan di koridor sibuk, justru meningkatkan waktu tempuh bagi pengguna moda transportasi lain yang melewati rute yang sama.
Temuan tersebut berlaku pada sebagian besar moda transportasi yang diteliti, termasuk bus umum, mobil, dan sepeda motor. Sementara itu, waktu tempuh kereta tidak menunjukkan perubahan signifikan karena sistem BRT tidak menggunakan ruang yang sama dengan kereta.
Meski begitu, Sutiyoso tetap melanjutkan pengembangan TransJakarta. Koridor demi koridor dibangun dan jaringannya diperluas untuk menjangkau lebih banyak wilayah Jakarta. Kini, sudah ada 14 koridor yang melayani TransJakarta.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa gagasan transportasi massal di Jakarta telah muncul jauh sebelum TransJakarta berdiri. Bedanya, rencana kereta ringan pada era R. Suprapto tidak pernah terwujud, sementara konsep berbasis bus akhirnya diwujudkan melalui TransJakarta pada era Sutiyoso.
Setelah kontroversi panjang dan berevolusi sejak Januari 2004 hingga saat ini, Transjakarta justru semakin menjadi pilihan dan andalan. Jumlah penumpangnya bahkan terus melonjak.
(mfa/mfa)