kingsheadwye.com

Dulu Hidup di Rusun Sempit, Pria Ini Sekarang Berharta Rp 75 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - Dari sebuah kamar sewaan yang sempit di rumah susun publik Singapura, tidak ada yang menyangka Forrest Li Xiaodong kelak akan menguasai takhta ekonomi digital Asia Tenggara. Pria yang dulunya hanya seorang pekerja korporat biasa di China ini nekat meninggalkan zona nyamannya, merantau ke negeri jiran, dan membangun kerajaan bisnis dari nol hingga mengantarkan namanya ke jajaran miliarder elite dunia.

Dilansir dari MoneyWeek, Senin (12/10/2026), pria kelahiran Tianjin, China ini menghabiskan masa mudanya dengan menempuh pendidikan teknik di Shanghai Jiao Tong University. Setelah lulus, ia sempat menjalani karier korporat yang stabil di perusahaan multinasional seperti Motorola dan Corning. Namun, gejolak jiwa kewirausahaan mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan MBA di Stanford Graduate School of Business.

Momen krusial dalam hidup Li terjadi ketika ia menghadiri acara kelulusan di Stanford dan mendengarkan pidato legendaris pendiri Apple, Steve Jobs, yang mengucapkan kalimat ikonik "Stay hungry, stay foolish". Kalimat tersebut membakar semangatnya untuk berani mengambil risiko dan mengejar mimpinya sendiri.

Keputusan besar berikutnya diambil Li ketika ia memilih pindah dan menetap di Singapura. Fase awal kepindahannya dipenuhi dengan berbagai keterbatasan finansial. Dengan tanggungan utang pinjaman pendidikan (student loans) Stanford yang mencapai US$ 100.000 serta tabungan yang sangat minim, Li dan istrinya harus menyewa satu kamar sempit di sebuah unit rumah susun publik (HDB) di kawasan Braddell. Meski menghadang banyak kesulitan ekonomi, keberanian Li untuk melangkah tidak pernah surut.

Dilansir dari The Edge Malaysia, langkah awal kewirausahaan Li ditandai dengan pendirian platform hiburan digital dan gim online bernama Garena pada tahun 2009. Beroperasi dari sebuah ruko (shophouse) sederhana di Tanjong Pagar, Li memanfaatkan kegemarannya pada dunia gim sejak kecil untuk membaca selera pasar anak muda di Asia Tenggara.

Ia memahami betul bahwa ekonomi digital kawasan ini membutuhkan infrastruktur gim dan hiburan yang terintegrasi serta disesuaikan dengan kultur lokal.