Etalase Chanel hingga Dior di Prancis Dipasangi Papan Jelang Demo
Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah butik mewah di Prancis menutup etalase dengan papan pelindung dan menambah personel keamanan menjelang demonstrasi baru pada Sabtu (24/10). Langkah ini dilakukan setelah kerusuhan dan penjarahan melanda ratusan toko di sejumlah kota di negara tersebut pada pekan lalu.
Beberapa toko bahkan memutuskan tidak beroperasi untuk menghindari risiko kerusakan dan penjarahan. Keputusan ini menjadi perhatian industri barang mewah yang selama ini mengandalkan wisatawan asing sebagai salah satu sumber pendapatan penting.
Prancis merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di dunia. Banyak wisatawan datang untuk berbelanja produk bermerek, mulai dari tas Chanel hingga syal Hermès. Namun, situasi keamanan yang memburuk membuat sebagian peritel mempertimbangkan kembali operasional mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang staf mengatakan gerai penjual jam tangan Rolex dan toko perhiasan De Beers di dekat Place Vendôme, Paris, akan tetap tutup pada Sabtu. Sementara itu, sejumlah toko lain, termasuk gerai jam tangan IWC milik Richemont, akan memantau situasi sebelum memutuskan apakah perlu tutup lebih awal.
Demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung di pusat Paris melibatkan sejumlah kelompok, termasuk serikat mahasiswa utama Prancis, UNEF, dan kelompok Yellow Vest. Gerakan Yellow Vest dikenal sebagai gerakan protes terhadap pemerintah yang mencuat pada 2018.
Aksi tersebut dijadwalkan menyuarakan penolakan terhadap tingginya biaya hidup dan pemangkasan layanan publik.
70 ribu polisi dikerahkan
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan pada Jumat (23/10) bahwa pemerintah akan mengerahkan 70 ribu personel polisi, didukung unit khusus, untuk mencegah terulangnya kekerasan seperti yang terjadi pekan lalu.
Pilihan Redaksi
- Penembakan di Dekat Paris, Satu Orang Tewas
- Macron Bakal Temui Perwakilan Siswa usai Demo Rusuh
- Pertama Kali, Prancis dan Inggris Gelar Simulasi Serangan Nuklir
Meski demikian, sejumlah merek mewah memilih meningkatkan pengamanan. Staf di gerai Louis Vuitton, Dior, dan Bulgari milik LVMH mengatakan keamanan di toko-toko mereka di sekitar Place Vendôme diperketat. Selain mengandalkan polisi, pengamanan swasta tambahan juga direncanakan untuk membantu menjaga kawasan tersebut.
Department store Printemps yang berada tidak jauh dari lokasi itu turut menambah personel keamanan. Juru bicara Printemps mengatakan pihaknya juga melakukan perbaikan demi keselamatan serta memperkuat perlindungan pada etalase dan pintu masuk toko.
Kepala keuangan Hermès, Eric du Halgouet, mengatakan perusahaan telah meningkatkan langkah pengamanan di gerai-gerainya di Prancis. Namun, ia menilai masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak peristiwa tersebut terhadap bisnis perusahaan.
Situasi keamanan ini menambah tantangan bagi industri barang mewah yang tengah menghadapi perlambatan permintaan. Sentimen konsumen di berbagai negara sedang melemah. Sementara itu, sektor pariwisata turut menghadapi tekanan akibat perang Iran yang berdampak pada perjalanan internasional.
Melansir Reuters, kondisi tersebut ikut membayangi kinerja sejumlah perusahaan barang mewah. LVMH, Hermès, dan Kering melaporkan hasil kuartalan yang mengecewakan pada bulan ini.
Bagi industri yang sangat bergantung pada citra merek dan pengalaman berbelanja, kerusuhan berpotensi menambah tekanan. Selain risiko kerusakan toko dan kehilangan barang, situasi tersebut juga dapat memengaruhi minat wisatawan untuk berbelanja di Prancis.
Lidiya Shevchenko, asisten penjualan di toko Graziella Braccialini, memperkirakan jumlah pengunjung akan berkurang selama demonstrasi berlangsung. Menurut dia, suasana dan kondisi di sekitar toko turut memengaruhi keputusan seseorang untuk berbelanja.
Salah satu wisatawan yang mengaku mulai mempertimbangkan kembali rencana berbelanja di Prancis adalah Jerry Lay, wisatawan asal Kamboja. Ia sebelumnya membeli beberapa barang di gerai Louis Vuitton di kawasan Champs-Élysées pada awal pekan ini.
Namun, setelah mengalami langsung demonstrasi pada Sabtu pekan lalu, Lay mengaku tidak yakin akan kembali berbelanja di Prancis pada kunjungan berikutnya.
"Kami memang senang berbelanja di Prancis, tetapi setelah mengalami demonstrasi Sabtu lalu, saya akan mempertimbangkan kembali apakah akan datang lagi atau tidak," kata Lay.
Ia menilai kemungkinan untuk kembali berbelanja di Prancis kini berada pada posisi seimbang. Pengalaman tersebut menggambarkan bagaimana kerusuhan tidak hanya berdampak pada keamanan toko, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan wisatawan dan daya tarik Prancis sebagai destinasi belanja produk mewah.
(tis/tis)