Fadli Zon Soroti Benteng Wolio, Warisan Buton yang Dibangun Tanpa Belanda dan Portugis
Bagikan:
BAUBAU — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan Benteng Wolio bukan peninggalan Belanda atau Portugis. Benteng yang berdiri sejak abad ke-16 itu dibangun sendiri oleh masyarakat Buton sebagai pusat pemerintahan sekaligus pertahanan Kesultanan Buton.
Fadli menyampaikan hal itu saat meninjau Kawasan Cagar Budaya Nasional Benteng Wolio di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Minggu, 12 Juli 2026.
“Benteng ini dibuat bukan oleh Belanda maupun Portugis, tetapi oleh masyarakat Buton pada masa Kesultanan Buton. Ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga dan menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa,” kata Fadli.
Pernyataan itu menempatkan Benteng Wolio sebagai bukti kemampuan masyarakat Nusantara membangun sistem pertahanan secara mandiri. Benteng tersebut dibuat dari batu kapur dan batu karang, jauh sebelum kekuasaan kolonial menguasai banyak wilayah di Indonesia.
Dalam kunjungan itu, Fadli juga mendatangi kompleks makam para sultan di dalam kawasan benteng. Salah satunya makam Sultan Murhum, Raja Buton ke-VI yang kemudian menjadi sultan pertama Kesultanan Buton.
BACA JUGA:
Menurut Fadli, benteng dan makam para sultan menunjukkan perjalanan panjang sejarah, tradisi, dan identitas masyarakat Buton. Situs-situs tersebut perlu terus dikaji, dilindungi, dan dikenalkan kepada masyarakat luas.
Ia menilai pelestarian cagar budaya tidak cukup berhenti pada perawatan bangunan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu mendorong pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan agar kawasan tetap hidup dan memberi manfaat.
“Kita perlu bekerja sama untuk memajukan kebudayaan melalui pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” ujarnya.
Fadli berharap Benteng Wolio semakin banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Namun, pemanfaatan kawasan tetap harus menjaga nilai sejarah dan budaya yang melekat di dalamnya.
Benteng Wolio, yang juga dikenal sebagai Benteng Keraton Buton, memiliki panjang sekitar 2,75 kilometer. Kawasan itu dilengkapi 12 pintu gerbang atau lawa dan 16 titik pertahanan.
Benteng tersebut berdiri di atas perbukitan yang menghadap Teluk Baubau. Pada masa Kesultanan Buton, kawasan ini menjadi pusat pemerintahan sekaligus benteng pertahanan masyarakat setempat.
Dalam peninjauan itu, Fadli didampingi Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta jajaran pemerintah daerah.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+