Fondasi keamanan siber perlu diperkuat untuk hadapi perkembangan AI
Jakarta (ANTARA) - Organisasi-organisasi, termasuk perusahaan dan lembaga, dinilai perlu memperkuat fondasi sistem keamanan siber mereka guna menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang menghadirkan potensi peningkatan ancaman serangan siber.
"Meskipun risiko yang ditimbulkan oleh AI canggih belum sepenuhnya dipahami, organisasi tetap perlu memperkuat fondasi keamanan siber," kata Head of Consulting Ensign InfoSecurity Indonesia Adithya Nugraputra dalam acara diskusi di Jakarta pada Rabu.
Menurut dia, penguatan fondasi keamanan siber antara lain dapat dilakukan dengan rutin memindai aset yang dapat diakses melalui internet, menerapkan pembaruan sistem keamanan, serta menguji pertahanan sistem terhadap model AI terbaru.
Karena kemampuan AI berkembang dengan cepat, ia mengatakan, pengelola sistem keamanan siber tidak dapat lagi mengandalkan sistem yang bersifat statis.
Menurut Ensign 2026 Cyber Threat Landscape Report, penggunaan AI dalam serangan siber semakin berkembang di kawasan Asia Pasifik.
AI dinilai dapat memperkuat teknik serangan siber yang sudah digunakan oleh pelaku, meskipun tidak serta-merta menggantikan metode sudah yang ada.
Teknik yang masih banyak digunakan di antaranya living-off-the-land, yakni memanfaatkan perangkat dan fitur yang sudah tersedia di dalam sistem korban. Penerapan teknik itu membuat aktivitas berbahaya lebih sulit dibedakan dari kegiatan yang sah.
Baca juga: Ensign: Model AI canggih bisa lancarkan serangan siber dengan mudah
Adithya merekomendasikan organisasi-organisasi memperkuat lima aspek pertahanan siber guna menghadapi ancaman semacam itu.
Pertama, organisasi disarankan menjadikan identitas sebagai garis pertahanan pertama.
Karena penyerang kini lebih sering menggunakan kredensial yang valid daripada menerobos sistem, pengelola sistem perlu meningkatkan sistem autentikasi bagi karyawan, pemasok, administrator, serta akun tidak aktif atau memiliki hak akses berlebihan.
Kedua, organisasi direkomendasikan mengelola seluruh aset yang terhubung ke internet.
Akses jarak jauh, perangkat edge, dan layanan cloud dapat menjadi jalur masuk bagi penyerang.
Karena itu, organisasi perlu memiliki inventaris aset lengkap serta menetapkan batas waktu pelaksanaan patching atau menghentikan aset yang masih terekspos.
Ketiga, organisasi disarankan menerapkan standar keamanan yang sama kepada pihak ketiga.
Pemasok dan penyedia layanan yang memiliki akses ke lingkungan perusahaan atau lembaga juga dapat menjadi titik masuk serangan.
Karena itu, akun eksternal perlu memiliki batas waktu akses dan segera dicabut ketika tidak lagi diperlukan.
Keempat, organisasi perlu memantau data yang keluar dari organisasi, bukan hanya data yang masuk.
Pemantauan perlu mencakup volume dan tujuan data yang keluar serta mekanisme untuk menghentikan pengiriman data ketika diperlukan.
Kelima, organisasi dianjurkan memperkuat kemampuan pemulihan ketika serangan masih berlangsung.
Cadangan data, layanan, dan akses administrator juga dapat menjadi sasaran serangan.
Pengelola sistem perlu memastikan proses pemulihan telah diuji dan divalidasi, termasuk memiliki prosedur untuk membangun kembali sistem dari awal serta pembagian kewenangan pengambilan keputusan ketika terjadi serangan.
"Manusia ini sangat sangat kritis karena dengan teknologinya makin cepat, manusia terus belajar dan mau mencoba. Itu yang yang yang bisa membantu perusahaan untuk meningkatkan keamanannya," ujar Adithya.
Baca juga: Ensign sebut adopsi teknologi AI tingkatkan risiko kebocoran data
Menurut Ensign 2026 Cyber Threat Landscape Report, AI bisa membantu kelompok ransomware mempercepat tahapan serangan, mulai dari pengintaian, pencarian kerentanan, hingga pembuatan umpan phishing yang lebih meyakinkan.
Di ASEAN, aktivitas ransomware tercatat meningkat dua kali lipat pada 2025, dengan 18 kelompok ransomware utama menargetkan kawasan tersebut.
Pencurian data juga menjadi tujuan utama pelaku serangan siber.
Pelaku memanfaatkan perangkat edge, infrastruktur akses jarak jauh, dan pemasok pihak ketiga sebagai jalur masuk ke sistem target, termasuk melalui kerentanan yang belum diperbaiki.
Ensign InfoSecurity dalam laporannya juga menyampaikan bahwa hacktivism telah menyasar lebih banyak infrastruktur penting di ASEAN, dengan target mencakup layanan utilitas, energi, transportasi, telekomunikasi, dan organisasi pemerintah.
Sektor perbankan, keuangan dan asuransi, manufaktur dan industri, serta telekomunikasi, media, dan teknologi juga dijadikan sebagai sasaran karena memiliki data bernilai dan menjalankan layanan penting.
Baca juga: Jepang bangun pusat pertahanan siber di Tokyo
Baca juga: Survei: 68 persen perusahaan belum punya pelindungan terhadap ancaman berbasis AI
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.